Bab Empat: Ia Tak Seperti Rembulan, Lebih Mirip Seekor Anjing
Setelah menaiki tangga, Fuzhi masih bisa mendengar suara percakapan mereka di lantai bawah. Song Liwan tampak seperti istri yang bijak, sambil menyajikan teh kepada Fu Anliang, ia menepuk punggungnya dengan lembut agar tenang. Fu Yijia berjongkok di lantai, bersandar manja kepada Fu Anliang. Dari sudut tangga di lantai dua, pemandangan itu benar-benar mirip keluarga kecil yang harmonis dan hangat.
Namun kebahagiaan mereka dibangun dengan mengabaikan ketulusan ibu, menghancurkan kehidupan yang telah diperjuangkan Fuzhi. Ibunya baru saja meninggal, namun ia langsung membawa selingkuhan dan anak perempuan dari luar rumah, yang hanya dua tahun lebih muda dari Fuzhi, ke rumah ini. Setiap kata penuh penyesalan, seolah ingin menebus segalanya untuk ibu dan anak itu.
Lalu bagaimana dengan penyesalannya kepada ibu? Dengan apa ia membayar semua itu? Seorang wanita telah memberikan masa muda dan seluruh tenaganya untuk keluarga, menemani suaminya melewati suka dan duka, tapi di mata suaminya ia hanya menjadi penghalang dalam mencari cinta sejati?
Kehidupan Fuzhi yang polos selama enam belas tahun, kini terkoyak oleh luka besar, angin dingin menerpa hatinya.
Ia menahan rasa pedih di hati, memalingkan wajah dengan tenang. Untunglah ia sudah tidak peduli lagi. Sejak usia enam belas, saat ia membuat keributan di pernikahan Fu Anliang dan Song Liwan, ia sudah memutuskan untuk benar-benar menjauh dari keluarga Fu.
Namun kemudian, neneknya dalam detik-detik terakhir hidupnya, menggunakan sisa tenaga untuk membujuk Fuzhi kembali ke keluarga Fu. “Bagaimanapun juga dia ayahmu, bahkan seekor harimau pun tak akan memangsa anaknya sendiri.”
“Xiao Zhi, pulanglah, kembali menjadi putri bangsawan, setidaknya kau punya uang dan status. Nenek selama ini belum bisa memberimu kehidupan yang baik...”
Fuzhi tidak goyah saat itu. Justru ia goyah pada hari pemakaman neneknya. Fu Anliang sangat piawai menjaga penampilan, mengurus segala sesuatu sebagai menantu. Melihat keluarga kecil mereka yang harmonis, melihat selingkuhan dan anak luar yang penuh percaya diri, Fuzhi pun memutuskan—
Ia harus kembali ke Kota Jing. Orang yang mengabaikan ketulusan hati pantas hidup nyaman? Walau ia tak pernah bertemu keluarga Fu lagi, mereka tetap hidup mewah di sudut-sudut yang tak bisa ia jangkau.
Ia ingin muncul di depan mata mereka. Bukan hanya menjadi duri di mata wanita itu, ia juga ingin membuat mereka tak tenang. Yang terpenting—
Ia juga harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari keberadaan kalung zamrud milik ibunya dan mengambilnya kembali.
Sudah belasan tahun berlalu sejak kalung itu dilelang. Pembeli kala itu mendapatkannya seharga lebih dari tiga juta, sekarang waktu telah berlalu, mungkin harganya sudah naik tiga kali lipat dan belum tentu bisa didapatkan kembali.
Walau hari pertunangan batal penuh liku, keesokan harinya Fuzhi tetap pergi bekerja seperti biasa.
Saat jam istirahat siang, Fuzhi terbangun oleh dering telepon Yan Yu. Masih setengah sadar, ia mengangkat telepon, di ujung sana Yan Yu langsung berkata, “Fuzhi, ada kabar baik dan kabar buruk, mana yang mau kau dengar dulu?”
Fuzhi masih bingung, suara seraknya bertanya, “Apa kabar baiknya?”
“Kau sudah lihat edisi terbaru ‘Wanita Modis’ belum?” Yan Yu yang menjadi blogger mode di luar negeri, jumlah pengikut Instagramnya hampir sejuta, selalu mengikuti majalah-majalah mode terbaru.
Yan Yu tak berlama-lama, “Di dalamnya ada wawancara dengan istri Pang Chunshan, kalung zamrud yang dipakainya sangat mirip dengan milik ibumu! Nyonyai Pang memang kolektor zamrud, perhiasan zamrud di rumahnya sampai dibuatkan lemari khusus.”
Fuzhi langsung tersadar, sisa kantuknya hilang seketika. Dalam daftar tamu lelang belasan tahun lalu, ada nama asisten Pang Chunshan. Jadi, walau kalung di leher nyonyai Pang bukan yang diincar Fuzhi, kemungkinan besar kalung itu ada di lemarinya!
Fuzhi pun bisa menebak kabar buruk yang dimaksud Yan Yu. Siapa Pang Chunshan? Orang terkaya di Haicheng, raja kapal di negeri ini, bisnis kelautan yang tak tertandingi. Haicheng dan Kota Jing, satu di selatan satu di utara, Fuzhi hanya seorang gadis muda tanpa pengaruh, mana mungkin bisa bertemu keluarga Pang dengan mudah?
Yan Yu tak memberi banyak waktu untuk Fuzhi berpikir, “Aku tahu kau sedang memikirkan itu, tapi sekarang Tuan Pang ada di Kota Jing, dan dua hari lagi akan menghadiri jamuan di Pelabuhan Royal Bay.”
“Tapi itu acara khusus yang dijamu pemerintah, Royal Bay tidak dibuka untuk umum.”
Barulah Fuzhi menyadari, kabar buruk Yan Yu memang seburuk itu. Lebih menyedihkan dari tidak menemukan kalung adalah, sudah ditemukan, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Yan Yu menghela napas, menghibur, “Zhi-zhi, ini memang tidak bisa dipaksakan, walau tak bisa bertemu Tuan Pang, pasti suatu saat bisa bertemu istrinya. Aku kenal orang di majalah itu, mungkin bisa mencari kontak Nyonyai Pang…”
Fuzhi tidak merasa putus asa. Justru jarinya dengan cepat mengetik di keyboard, mencari informasi tentang Royal Bay.
Klub yacht pribadi paling top di negeri ini, belasan yacht pribadi berlabuh di sana. Kota Jing memang dipenuhi orang kaya.
Yang paling penting… tempat itu milik keluarga Shen.
Nama Shen Xianting langsung terlintas di benaknya.
Dalam satu detik, Fuzhi sudah mantap mengambil keputusan.
Namun ada masalah lain yang menghalanginya.
Jika Fuzhi tidak salah ingat, sejak ia berseteru dengan Shen Xianting, baru belasan jam berlalu.
Baru saja membuatnya marah, sekarang harus meminta bantuan.
Tuhan, apakah karma datang secepat ini?
Setelah menutup telepon dengan Yan Yu, Fuzhi merasa kepalanya berdenyut tak nyaman.
Hari ini pasien sedikit, hampir sepanjang sore Fuzhi meragukan hidupnya sendiri, di sela-sela itu ia juga pusing memikirkan bagaimana bertemu Shen Xianting.
Hingga senja tiba, matahari condong ke barat, tiga puluh menit sebelum jam pulang, Fuzhi tiba-tiba mendapat ide, ia membuka Weibo yang lama tak disentuh.
Mencari Meng Zhixing.
Jika harus membuat daftar anak-anak orang kaya di Kota Jing, nama Meng Zhixing lebih terkenal daripada Shen Xianting.
Bahkan Fuzhi yang berada di pinggiran lingkaran sosial mereka pun pernah mendengar namanya.
Suka bergaul, hidup bebas, disenangi oleh banyak selebriti dan influencer wanita.
Shen Xianting memang seperti bunga di puncak gunung, sulit dijangkau, jika nekat mendekat bukan hanya tak mendapatkan apa-apa, malah bisa membuatnya marah dan sulit masuk ke lingkaran itu lagi.
Meng Zhixing yang murah hati dan mudah didekati, jadi pilihan utama para wanita.
Fuzhi membuka profilnya, semua postingan tentang kehidupan mewahnya di tempat hiburan, banyak foto wanita cantik yang berbeda-beda.
Postingan terbaru baru saja diunggah:
【Merayakan ulang tahun ketiga kura-kura masuk akuarium.】
Lingkungan remang, suasana mewah, banyak tempat serupa di Kota Jing, namun kemewahan klub Mihuan hanya satu-satunya, Fuzhi langsung mengenalinya.
Meng Zhixing memang seperti itu, hal kecil saja bisa dijadikan pesta.
Fuzhi mengenalnya karena Yan Yu tidak akur dengannya.
Malam sebelum Yan Yu berangkat ke luar negeri, ia menelepon Fuzhi dalam keadaan mabuk sampai larut malam, setengah waktu mengumpat Meng Zhixing, dan setelah sadar, ia tak pernah menyebut nama itu lagi.
Setelah pulang kerja, Fuzhi meninggalkan mobilnya di rumah sakit, langsung naik taksi ke sana.
Bisa beradaptasi adalah keunggulan, ia harus mencari cara berdamai dengan Shen Xianting, agar bisa meminta bantuannya.
Kebetulan beberapa influencer berjalan di depannya, Fuzhi mengikuti dari belakang, cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.
“Sudah lama He Shao tak menghubungiku, entah malam ini bisa membuatnya berubah pikiran atau tidak.”
“Mereka memang begitu, jangan berharap mereka bertahan lama, dapat apa saja ya ambil saja.”
“Dengar-dengar malam ini pangeran juga datang, benar gak sih?” Suara perempuan itu terdengar bersemangat.
Perempuan di sampingnya langsung menanggapi, “Aku sarankan jangan cari masalah, Tuan Shen selalu tak tersentuh, kalau kau buat dia jengkel, ke depannya kau tak akan bisa masuk ke lingkaran Meng Shao lagi.”
“Kita ini hanya orang biasa, tak perlu bermimpi mendapatkan pria seperti itu.”
Telinga Fuzhi bergerak, pikirannya melayang, ia teringat kejadian semalam ketika Shen Xianting didekati wanita, ia dengan santai memindahkan perhatian ke dirinya, senyum santainya begitu jelas.
Tidak seperti bulan yang tak bisa disentuh.
Justru—
Sangat menyebalkan.