Volume Pertama Bab 14 Tidak Seperti Anak Muda Konglomerat
Halaman (1/3)
“Ini bukan pertama kalinya. Kenapa setiap kali kau selalu begitu sensitif?”
Mendengar ucapannya, telinga Shen Jiao memerah seluruhnya. Pinggangnya yang ramping bergerak tanpa sadar.
Pria itu merapat di belakangnya. Kemeja tipis yang dikenakannya perlahan menyalurkan panas tubuhnya ke tubuh Shen Jiao.
Seolah-olah segumpal api menyelubungi Shen Jiao, membuat suasana semakin ambigu.
Shen Jiao merasakan perubahan tubuh pria di belakangnya, dan telinganya diam-diam kembali memerah.
Ia memiringkan tubuh, berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tetapi tangan yang melingkari pinggangnya justru mengerat.
Dengan alis berkerut, ia menatap pria itu. Pria tersebut telah melepas jasnya dan kini hanya mengenakan kemeja putih. Lengan bajunya digulung hingga siku, menampakkan lengan kekar yang sama sekali tidak sesuai dengan kesan santunnya.
Wajahnya begitu sempurna dan luhur, seolah tak tersentuh debu dunia, tetapi ia memiliki otot-otot yang sangat agresif.
Jelas-jelas aroma mewah dari tubuhnya seperti wewangian kelas atas, tetapi sekarang tercampur sedikit bau asap masakan.
Namun justru bau asap masakan itulah yang menariknya turun ke dunia fana.
Kadang-kadang Shen Jiao merasa pria itu sama sekali tidak tampak seperti putra keluarga konglomerat.
Siapa yang menyangka pria semulia itu kini justru dipenuhi pikiran-pikiran kotor? Tiba-tiba ia memeluk Shen Jiao dari belakang.
“Jangan bergerak. Biarkan aku menenangkan diri sebentar.”
Pelukan pria itu terasa panas dan tenaganya begitu kuat hingga membuat Shen Jiao sesak. Namun, ia tak berani lagi menggeliat sembarangan.
Ia sangat memahami stamina pria itu. Begitu dimulai, semuanya tak akan berakhir sebelum satu atau dua jam berlalu.
Lagipula ia memang sedang lapar. Maka Shen Jiao memilih bersikap bijaksana dan membiarkan pria itu memeluknya, seperti boneka kain.
Beberapa menit kemudian, Ji Yanchen menundukkan pandangan ke gelas anggur merah di tangan Shen Jiao dan lebih dahulu memecah kesunyian.
“Enak?”
“Sejujurnya, lebih enak daripada anggur yang kubeli di supermarket dengan harga seratus delapan puluh delapan yuan, dapat satu gratis tiga.”
“Kau ternyata jujur juga.”
Pria itu terkekeh pelan. Punggung Shen Jiao dapat merasakan dengan jelas getaran dadanya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Suasana yang penuh tarik-ulur menggoda seperti itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Dulu, setiap kali mereka bertemu, keduanya langsung menuju tujuan utama. Tidak pernah ada tahap saling menggoda.
Ia kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu, tetapi tangan besar yang menutupi punggung tangannya mencengkeram pergelangan tangannya. Niat kecilnya terlihat jelas di mata pria itu.
Setelah melepaskan pinggangnya, pria itu mencubit dagu kecilnya yang runcing.
“Kita sudah tidur bersama berkali-kali. Mengapa dulu aku tidak pernah menyadari bahwa kau begitu menolak sentuhanku?”
Di bawah tatapan matanya yang dalam, Shen Jiao mengalihkan pembicaraan.
“Aku lapar.”
Meskipun mereka telah berkali-kali berhubungan intim tanpa jarak sedikit pun, Shen Jiao tetap seperti seekor landak yang berjaga mati-matian, tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada siapa pun, baik dari dalam maupun luar.
Begitu tekanan di tubuhnya mengendur, Shen Jiao mendorong sosok tinggi besar di hadapannya dan berjalan memasuki ruang makan tanpa memedulikan siapa pun.
Tak lama kemudian Ji Yanchen ikut masuk dan menarikkan kursi untuknya, tampak sangat seperti seorang pria terhormat.
“Kau tampaknya bukan orang yang akan melakukan hal-hal seperti ini.”
Pria itu duduk di seberangnya dengan ekspresi penuh arti.
“Menurutmu, apa yang seharusnya kulakukan?”
“Dengan kejam memelintir kepala orang hingga lepas, lalu duduk di atasnya sebagai kursi.”
Saat mengucapkan itu, Shen Jiao mengangkat tangan dan membuat gerakan seolah-olah sedang memeragakannya. Di bawah cahaya lilin, ia tampak sangat lincah dan menggemaskan. Sepasang matanya jernih sekaligus licik.
Raut wajah Ji Yanchen yang biasanya tajam pun ikut melunak.
Dengan wajah serius, ia berkata, “Kau sungguh lucu. Ini masyarakat yang menjunjung hukum. Membunuh dan membakar adalah tindakan ilegal. Aku warga negara teladan yang taat hukum dan tidak pernah melakukan hal-hal melanggar aturan. Ayo, cicipi masakan kokiku.”
Aroma khas yang pekat menguar ke hidung Shen Jiao. Di atas piring tersaji irisan jamur matsutake yang digoreng dengan mentega.
Matsutake hasil budidaya tidak memiliki aroma seperti ini. Seharusnya itu matsutake liar yang dipetik dari pegunungan tinggi—sangat segar.
Saat menggigitnya, ia merasakan aroma khas tanah dan tumbuh-tumbuhan setelah hujan di hutan. Teksturnya lembut, licin, dan menyegarkan; sesuatu yang tidak mungkin dicapai melalui budidaya buatan.
Ia mengunyahnya perlahan. Aroma itu diam-diam menyebar di antara bibir dan giginya, menggugah selera makannya.
Sudah lama sekali ia tidak menyentuh makanan berminyak atau daging saat makan malam.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Matsutake ini digali dari pegunungan tinggi Kota Yun pagi tadi. Daging sapi kalorinya sangat rendah—seratus gram hanya mengandung seratus dua puluh lima kalori. Makan lebih banyak pun tidak akan membuatmu gemuk.”
Suaranya tenang, tatapannya dalam. Ia berbicara dengan lancar, setiap gerakannya memancarkan keanggunan, membuatnya kembali tampak seperti seorang tuan muda bangsawan.
Shen Jiao menatapnya dengan perasaan yang rumit.
Bulan lalu, ketika mereka bertemu, ia hanya sempat menyebutkannya sepintas. Namun, pria itu ternyata mengingatnya.
Saat berpacaran dengan Zhou Wenyan, meskipun pria itu sangat mencintainya, paham laki-laki superior telah mengakar kuat dalam dirinya.
Walaupun selama ini Zhou Wenyan selalu mengejar-ngejar Shen Jiao, perbedaan status di antara mereka membuatnya yakin bahwa Shen Jiao cepat atau lambat pasti akan mencintainya.
Bagaimanapun, bagi Shen Jiao, dirinya adalah pilihan terbaik.
Ia bersedia membujuk Shen Jiao agar bahagia dalam batas yang wajar, tetapi bukan berarti ia akan mengubah cara pandangnya terhadap kelas sosial.
Cintanya bagaikan bunga gugur yang hanyut terbawa air, mengambang di permukaan. Ia sering melakukan hal-hal yang menurutnya dapat menyentuh hati orang lain, tetapi pada akhirnya hanya dirinya sendiri yang tersentuh.
Shen Jiao telah memahami hal itu sejak awal. Karena itulah ia tidak pernah jatuh cinta kepada Zhou Wenyan.
Setiap kali, Zhou Wenyan membawanya ke berbagai restoran mewah, memesan banyak hidangan mahal yang sebenarnya tidak ia sukai. Ia berusaha mengubah selera makan Shen Jiao.
Namun, Ji Yanchen tidak begitu. Pada kunjungan terakhir ke rumahnya, kepala pelayan sengaja menyajikan kue rendah kalori untuk menjamunya, dan Shen Jiao mengira itu hanya kebetulan.
Kini tampaknya bukan demikian. Pria yang tampak kasar dan ceroboh itu ternyata sedang berusaha menyesuaikan diri dengannya.
Melihat Shen Jiao belum menyentuh pisau dan garpu, pria itu menatapnya.
“Kenapa? Kau masih ingin makan rumput?”
Shen Jiao baru saja hendak menjawab ketika terdengar jeritan seorang wanita dari luar. Suara itu terdengar sangat mencolok di tengah taman yang sunyi.
“Tolong! Kebakaran!”
Halaman (3/3)