Volume Satu Bab 15: Mengapa Wajahnya Begitu Merah
Halaman (1/3)
Suara itu terasa tidak asing.
Itu suara Su Yue dan yang lainnya.
Shen Jiao bangkit lalu berjalan ke teras. Sejauh mata memandang, sebuah perahu beratap hitam di sungai dikepung kobaran api.
Sebuah lentera langit tepat jatuh di atas atap jerami, dan seketika api berkobar.
Kedua orang itu panik bukan kepalang, sementara badan perahu bergoyang semakin hebat.
Entah sejak kapan tali yang semula mengikat perahu telah terlepas. Jarak untuk mencapai tepian pun tidak memungkinkan mereka naik ke darat.
Dalam kepanikan, Su Yue kembali menjatuhkan lentera yang tergantung di haluan. Haluan perahu pun mulai terbakar.
Air sungai tidak dalam. Kalaupun mereka melompat, belum tentu akan tenggelam sampai mati. Hanya perlu berjalan dua langkah untuk mencapai tanggul.
Namun, nona-nona dari keluarga terpandang seperti mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri. Mereka hanya bisa menjerit-jerit di tempat.
“Bagus, bukan?”
Cahaya api menari-nari di pupil pria itu. Wajah tampannya tampak tenang dan datar, seolah-olah ia hanya sedang menikmati sebuah lukisan.
“Yang terbakar itu perahumu. Kau tidak merasa sayang?”
Senyum penuh makna tersungging di sudut bibir Ji Yanchen. “Kebakaran itu disebabkan oleh mereka yang melanggar aturan saat berada di atas perahu. Pengacara akan menuntut mereka bertanggung jawab dan mengganti seluruh kerugian.”
Jelas sekali ia mengetahui seluruh kejadian dengan sangat baik.
Sosoknya yang tegap berdiri di belakang Shen Jiao, memancarkan tekanan alami. Itulah wibawa seseorang yang berada di posisi tinggi, membuat Shen Jiao secara naluriah merasa takut.
Jangan-jangan dia sedang membalaskan dendam untuknya?
Kalau bukan begitu, mengapa restoran mewah seperti ini tidak memiliki satu pun pelayan yang terlihat, sementara ia bahkan bisa berbincang santai di sini?
Pikiran itu hanya bertahan sesaat sebelum lenyap. Ia benar-benar terlalu menganggap dirinya penting.
Kalaupun Ji Yanchen sedikit tertarik kepadanya, ketertarikan itu terbatas pada urusan di ranjang. Para pebisnis paling memperhitungkan untung dan rugi. Mana mungkin ia mengambil risiko merusak reputasinya hanya demi membalas dendam kepada kakak-beradik dari keluarga Su?
“Bukankah kau lapar? Melihat orang lain bisa membuatmu kenyang?”
Pertunjukan telah selesai. Shen Jiao kembali ke tempat duduknya. Ia merasa seluruh tubuhnya begitu lega, nafsu makannya pun meningkat drastis.
Ia mengangkat kepala dan melirik Ji Yanchen, tetapi mendapati pria itu sedang menyatukan kedua tangan, dengan dagu bertumpu di atasnya. Tatapannya yang samar-samar mengamati dirinya.
“Kau tidak lapar?”
“Lapar.”
Ia memotong steik dengan anggun. Wajahnya tampak sungguh-sungguh, tetapi Shen Jiao dapat menangkap nada menggoda dalam ucapannya. “Kalau hanya makan semua ini, aku tidak akan kenyang.”
Wajah kecil Shen Jiao memerah. Ia tahu apa yang dimaksud pria itu.
Di hadapannya, Ji Yanchen selalu sangat terus terang, baik melalui bahasa tubuh maupun perkataan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Di balik cahaya lilin yang berkelap-kelip, ia mengangkat alis dan memandang Shen Jiao. “Guru Shen sedang memikirkan apa? Mengapa wajahmu begitu merah?”
Shen Jiao balik bertanya, “Tuan Ji tersenyum dengan niat buruk. Kau sendiri sedang memikirkan apa?”
Ji Yanchen perlahan mengiris steik. “Tentu saja sedang memikirkan soal makan daging.”
“Dasar cabul,” gerutu Shen Jiao pelan.
“Ada banyak cara untuk memasak steik. Aku sedang memikirkan cara terbaik agar bisa menikmati cita rasa steik sepenuhnya. Dimasak merah kecokelatan atau ditumis kering tampaknya tetap tidak sebaik digoreng dengan minyak. Terdengar sederhana, bukan? Sebenarnya, cara membuatnya bahkan lebih sederhana.”
Shen Jiao terdiam.
“Pertama, lumuri dengan anggur merah dan berbagai bumbu hingga meresap. Setelah wajan mencapai suhu yang cukup panas, masukkan steik dan goreng perlahan. Namun, yang paling penting adalah mengendalikan suhu dan tenaga dengan tepat. Terlalu pelan atau terlalu kuat sama-sama tidak boleh. Lihatlah, cara yang sederhana dapat menghasilkan steik yang lembut, berair, dan memiliki tekstur terbaik.”
Ia mendorong potongan steik yang baru diirisnya ke hadapan Shen Jiao. “Cobalah.”
Ji Yanchen berbicara dengan nada serius, tetapi setiap kalimatnya dipenuhi godaan.
Shen Jiao berpura-pura tidak mengerti dan memusatkan perhatian pada makanan.
Harus diakui, koki yang disewa dengan bayaran tinggi itu memang sangat terampil.
Dengan porsi makannya yang kecil, Shen Jiao tetap menghabiskan dua piring besar, sampai perutnya terasa begitu penuh dan hampir membuatnya muntah.
Ia mendorong piringnya ke depan. “Uangmu tidak sia-sia. Kau memang mempekerjakan koki yang tepat. Namun, koki dengan tingkat keahlian seperti ini pasti mahal, bukan?”
Ji Yanchen menatapnya dengan tatapan penuh arti. “Memang tidak murah.”
Ia membuka kancing kerah bajunya dengan santai. Kilatan di matanya beriak seperti permukaan air. “Malam ini tidur di sini?”
Shen Jiao teringat percakapan mereka semalam. Untuk yang terakhir kalinya, pria ini mungkin tidak akan membiarkannya lolos dengan mudah.
“Aku terlalu kenyang...” Shen Jiao baru hendak mencari alasan untuk menolak.
Tubuh pria itu telah merapat, lengannya melingkari pinggang rampingnya. “Akan kubantu mencerna makanan.”
Shen Jiao menghindar dengan gelisah. Beberapa menit kemudian, ia dibawa ke halaman belakang.
Ternyata dia benar-benar hanya ingin membantunya mencerna makanan!
Baru berjalan dua langkah, Shen Jiao sudah merasa sepatu hak tingginya terlalu melelahkan. Lagi pula, tidak ada orang lain di sana. Ia pun melepas sepatunya dan menginjak rumput dengan kaki telanjang.
Lembut dan sejuk, benar-benar melegakan.
“Kalau memang selelah itu, kau tidak perlu memakainya.”
Sambil menjinjing sepatu hak tingginya dengan satu tangan, Shen Jiao berlari-lari kecil dengan bebas. “Itu tidak boleh. Kalau tidak memakainya, aku akan...”
Kalimat berikutnya tidak jadi diucapkan.
Pada ulang tahunnya yang kesepuluh, ibunya menghadiahkan sepasang sepatu hak tinggi.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Shen Manqing mengatakan bahwa sepatu hak tinggi paling mampu menonjolkan pesona seorang perempuan. Demi membentuk Shen Jiao menjadi sosok yang mampu menaklukkan hati para pria, Shen Manqing mencurahkan banyak tenaga untuk mendidiknya.
Kelas tata krama, berbagai pelatihan minat dan bakat—semua hal yang biasa dilakukan orang-orang kaya dipaksa dipelajari oleh Shen Jiao.
Selain ketika bersekolah, ia diwajibkan mengenakan sepatu hak tinggi dalam setiap kesempatan. Ia tidak boleh makan malam, tidak boleh menyantap makanan yang terlalu berminyak atau asin, dan porsi makanan rendah lemaknya pun harus dikontrol ketat.
Ia dibesarkan untuk menjadi nyonya keluarga kaya. Shen Manqing merawat kecantikan dan kulitnya dengan penuh perhatian, tidak membiarkannya terluka. Setiap kali Shen Jiao melakukan kesalahan, Shen Manqing tidak pernah menamparnya.
Sebagai gantinya, ia menusukkan jarum-jarum kecil ke bagian daging lembut yang tidak terlihat.
Lubang tusukannya kecil dan tidak meninggalkan bekas luka. Luka itu juga cepat sembuh, tetapi tetap mampu mencapai tujuan untuk menghukumnya.
“Akan bagaimana?”
Shen Jiao menggeleng dan tidak melanjutkan topik itu. Ia menunjuk lentera langit di kejauhan. “Bolehkah aku menerbangkan yang itu?”
Ji Yanchen menyerahkan sebuah pena kepadanya. “Kau bisa menuliskan harapanmu.”
Shen Jiao membungkuk di atas meja dan menulis dengan sungguh-sungguh, hingga Ji Yanchen menerbangkan lentera langit miliknya.
Pria itu membungkuk mendekat. Di sana tertulis sederet harapan yang padat.
“Gaji naik menjadi dua puluh delapan ribu.”
“Melihat matahari terbit di Gunung Qishan.”
“Mengunjungi tiga kota dalam sebulan.”
“Menghabiskan segelas besar minuman stroberi keju dengan boba dalam sekali teguk.”
“...”
Itu disebut harapan, tetapi menurutnya semua itu hanyalah rutinitas sederhana seorang gadis kecil.
“Untuk hal-hal seperti ini, kau tidak perlu memohon kepada langit.”
Shen Jiao menutupi daftar harapannya dengan kedua tangan, menghalangi tatapan pria itu yang berusaha mengintip. “Hm?”
Ji Yanchen perlahan membungkuk. Ia menutupi tangan Shen Jiao yang sedang memegang pena. Telapak tangannya terasa luar biasa panas, menembus permukaan kulitnya dan menyebar ke seluruh tubuh, hingga mencapai bagian paling lembut di dalam hatinya.
Shen Jiao tiba-tiba merasa panas dan gelisah.
Tatapan Ji Yanchen menjadi dalam. Bibir tipisnya terangkat.
“Mohonlah kepadaku.”
Halaman (3/3)