Bab 2: Memanggil Raja Zirah
Saat semua murid terperanjat dan dilanda ketakutan, pertanyaan yang sama pun menyeruak di benak mereka. Meski Paviliun Gunung Fengyang berdiri di tengah lembah, para tokoh besar telah menekan kekuatan para binatang buas di gunung selama ratusan tahun, bagaimana mungkin tiba-tiba terjadi gelombang serangan binatang?
Tak sempat memikirkan lebih jauh, Bai Yirou segera menghunus pedangnya. Sebelum beranjak, ia menoleh ke arah Liu Tangxin dengan nada memperingatkan, “Setelah upacara agung berakhir, meski kau menolak, kau tetap akan menjadi tungku pengolah milik Kakak Senior Ji dan menanggung aib seumur hidupmu. Nikmatilah hari-hari terakhirmu!”
Usai berkata demikian, ia terbang pergi di atas pedangnya.
Liu Tangxin menatap punggungnya yang menjauh dengan senyum sinis. Nikmati? Ia tak akan duduk diam menunggu nasib!
Dulu, ia hanyalah jiwa pengembara yang berkelana di berbagai dunia. Setiap kali menemukan seseorang yang jiwanya kurang lengkap—hanya memiliki dua jiwa dari tiga dan lima roh dari enam, ia akan masuk ke tubuh mereka untuk menyempurnakan kekosongan itu.
Jika tubuhnya mati, ia akan mencari jiwa lain yang juga belum utuh.
Kini, setelah susah payah membuka lembaran hidup baru, ia justru terjebak di Paviliun Gunung Fengyang, diperbudak oleh orang lain.
Apalagi tubuh Liu Tangxin adalah murni yin, lemah secara fisik, dan lebih sulit berlatih dibanding orang biasa.
Kalau bukan karena itu, dengan statusnya sebagai putri kepala paviliun, mana mungkin Ji Cang berniat menjadikannya tungku pengolah?
Liu Tangxin tersenyum dingin dalam hati.
Mungkin pemilik tubuh ini sebelumnya tak berdaya, tapi ia, pengembara yang telah menapaki banyak dunia, punya cukup keberanian dan dasar untuk melawan.
[Tugas kali ini, berlatihlah sekuat tenaga hingga mencapai puncak tertinggi dunia kultivasi.]
Sebuah suara bening, bagaikan kepingan giok beradu, menggema dalam pikirannya, membawa angin sejuk yang membangkitkan semangat.
Liu Tangxin sudah terbiasa dengan nada datar suara itu, ia bertanya, “Bing Ji, apa kelebihan kita kali ini?”
Bing Ji menjawab: [Dunia ini jauh lebih berbahaya dibanding dunia-dunia sebelumnya. Atas izin Dewa Utama, kita bisa memanggil satu karakter untuk membantu, menyapu rintangan di tahap awal.]
“Karakter?” Liu Tangxin bertanya heran.
[Tak peduli nyata atau fiktif, selama kau punya gambaran jelas tentang kekuatan dan penampilannya, ia bisa dipanggil ke sisimu sebagai pelindung.]
Jawaban itu sederhana, tanpa emosi.
Namun Liu Tangxin sangat bersemangat. Meskipun baru pertama kali menginjak dunia kultivasi, di dunia-dunia sebelumnya, ia telah menjumpai banyak tokoh imajinatif dengan kekuatan luar biasa.
Kera sakti dengan tongkat besi seberat tiga belas ribu lima ratus jin, pahlawan berzirah baja yang menembakkan peluru, rubah jelita yang dengan pesonanya membuat para pria takluk, hingga kaisar pedang legendaris yang menciptakan mitos abadi dengan satu tebasan—semua itu pernah ia saksikan.
Siapa pun dari mereka, andai dipanggil, bukankah bisa menaklukkan dunia kultivasi dalam hitungan detik?
Namun, sebagai pengembara berpengalaman, Liu Tangxin tahu segala sesuatu tak pernah semudah itu.
Benar saja, detik berikutnya Bing Ji mengumumkan batasan kelebihan itu.
[Tak peduli karakter mana pun, kekuatan awalnya hanya setara tahap Inti Emas. Kekuatan mereka hanya akan meningkat seiring naiknya tingkat kultivasimu.]
Liu Tangxin merenung.
Jika kekuatan dibatasi, maka pemilihan karakter jadi tak berarti. Kecuali... ada mekanisme terobosan.
Memikirkan hal itu, tiba-tiba satu nama melintas di benaknya—Kai!
Ia adalah tokoh dalam sebuah permainan dunia paralel, memiliki daya serang luar biasa, pertahanan kokoh, dan kemampuan pemulihan.
Kai berasal dari keluarga aliran kegelapan, namun piawai dalam ilmu pedang. Bahkan saat masih muda, ia mampu menumpas satu kelompok perampok kejam seorang diri dan keluar tanpa luka.
Ia merebut sebagian besar kekuatan ajaib yang ditinggalkan para dewa cerdas, hingga tak ada pahlawan di benua itu yang mampu menandinginya.
Kemudian, Kai secara tak sengaja menyatu dengan zirah iblis kuno. Berkat tekad kuat, ia mampu mengendalikan zirah itu, namun kehilangan ingatan—termasuk pengetahuan tentang aliran kegelapan.
Yang menarik, zirah iblis itu hidup.
Ketika zirah dan pedang iblis menyatu, kekuatannya mencapai puncak. Senjatanya diselimuti energi zirah, berubah menjadi pedang panjang yang lebih kuat, mampu menahan serangan sekaligus meningkatkan daya rusak.
Dengan kekuatan luar biasa, ia dijuluki “Ayah Kai”, “Kaisar Kai”, dan “Raja Tebas Barat Laut”.
Jika kekuatan awalnya setara Inti Emas, bisa jadi kekuatan zirah iblis mampu menembus batas itu.
Liu Tangxin pun mantap memilih nama itu dan menyampaikan pada Bing Ji.
“Kau yakin?” tanya Bing Ji.
“Yakin.”
Begitu ia mengucapkan dengan mantap, cahaya biru terang seketika memenuhi ruangan, menyilaukan mata.
Perlahan, Liu Tangxin merasakan energi kuat yang berbeda dari kekuatan spiritual, ada aura buas yang mengintimidasi.
Saat cahaya memudar, samar-samar tampak sosok lelaki kekar.
Liu Tangxin segera bangkit dari ranjang, penuh semangat.
Di hadapannya berdiri seorang pria berambut biru perak, tertata rapi ke belakang, satu helai diikat menjuntai ke punggung. Alis matanya tegas dan tajam, memancarkan aura membunuh.
Dengan tinggi 188 sentimeter dan tubuh proporsional, otot-otot indahnya memenuhi semua fantasi Liu Tangxin tentang lelaki berotot.
Pedang tajam di sisi pinggangnya memancarkan kilau dingin.
Wajah pria itu dingin dan kaku, namun tatapannya kosong, kontras dengan penampilan garangnya.
“Di mana... ini?” gumamnya.
Ia memandang pedang di tangannya dengan linglung, samar tampak noda-noda keunguan—darah yang telah mengering.
“Siapa... aku?”
Liu Tangxin mengangkat alis.
Setiap kelebihan yang dibawa Bing Ji akan dibuat masuk akal dalam dunia ini.
Dalam latar belakang Kai, ia memang kehilangan ingatan setelah menyatu dengan zirah iblis.
Pengaturan ini jauh lebih wajar daripada sekadar membuatnya langsung setia.
“Kau melupakan segalanya,” ucap Liu Tangxin perlahan.
Mendengar suara itu, pria itu menoleh, sorot matanya penuh kebingungan dan sedikit keputusasaan.
“Mulai sekarang kau bernama Kai,” Liu Tangxin menunjuk pedang di tangannya, “Lupakan pedang tajam yang hanya melukai, jadilah zirah pelindung yang menjaga.”
Kai?
Si pendekar yang mendadak dinamai itu menatap pedangnya.
Tampaknya ia tak keberatan.
Liu Tangxin, mengingat kisah latar di dunia lain, membujuk dengan lembut, “Namaku Liu Tangxin, aku putri kepala paviliun ini. Mulai sekarang, ikutlah denganku. Mungkin kau akan menyesal, tapi kini kau sudah lupa segalanya, jadi tak masalah, kan?”
Jika dugaannya benar, Bing Ji telah menanamkan pengetahuan dunia kultivasi ke dalam benak Kai.
Di dunia yang mengutamakan kekuatan, tanpa dukungan sekte atau keluarga, bertahan hidup sangatlah sulit.
Kai pun tampaknya menyadari sesuatu, ia mendongak kaku.
Sebagai pendatang di negeri asing, ia terlihat canggung, kaku, tak pandai bicara, hanya menundukkan kepala dan membungkuk kecil pada Liu Tangxin.
Tanpa sepatah kata, aura maskulinnya begitu pekat, cukup berdiri di sana saja sudah memberi rasa aman.
Inikah pesona seorang kuat?
Liu Tangxin membatin kagum.
Tiba-tiba, suara lengkingan tajam terdengar dari luar.
Liu Tangxin tersentak, bergegas keluar, dan mendapati beberapa burung pemangsa raksasa berputar-putar di udara.