Um escritor profissional de web novels com pouca experiência social, como ele deve sobreviver se atravessar para o mundo dos filmes de Hong Kong? Não é que já li tantos romances da web? Basta tentar uma ideia depois da outra e saberei!
Halaman satu dari tiga
Mei 1986, Stasiun Kereta Api Kota Peng.
Masih ada satu jam sebelum kereta berangkat, di gerbong tidur kelas lunak, Wu Feng sibuk menata barang bawaan. Mulutnya pun tak henti-henti: “Bu, aku sudah menelepon Paman Ketiga. Begitu kereta tiba, dia akan menjemput Ibu pulang!”
“Di jalan hati-hati. Kalau menemui masalah, jangan pikirkan barang-barang. Begitu pulang ke kampung, aku akan mengirimkan uang untukmu. Sebaiknya kau bisa kembali ke pekerjaanmu yang dulu!”
Saat itu hanya ada mereka berdua di dalam gerbong, jadi berbicara dari hati ke hati pun tak takut terdengar orang lain.
Ibunya adalah seorang perempuan sekitar tiga puluhan, bertubuh sedang dan wajahnya penuh jejak kepayahan. Ia mengenakan pakaian murah dari Hong Kong, rambut pendek sebatas telinga dengan beberapa helai uban yang mencolok.
“Wu Feng!”
Perempuan yang tampak letih itu tiba-tiba bersuara.
Wu Feng refleks menoleh. Ia melihat ibunya ragu sejenak, lalu tetap memohon pelan, “Kalau ayahmu pulang, jangan marah juga jangan bertengkar dengannya. Suruh saja dia kembali ke kampung!”
Mendengar permohonan ibunya, mata Wu Feng seketika memerah, amarah tak bernama mendidih di dada.
“Bu, dia itu penjudi yang tak peduli hidup mati istri dan anaknya. Buat apa masih dipedulikan?”
“Wu Feng, jangan bicara begitu. Bagaimanapun dia itu ayahmu!”
Wajah ibunya dipenuhi pinta, air mata pun mulai menggenang di pelupuk.
“…Baik, Bu. Jangan menangis. Aku akan menurutimu.”
Ia menghela napas dalam hati, memaksa menekan amarahnya. T