Bab Lima Puluh Delapan: Datang Membawa Peti Mati
“Kamu takut aku memakanmu, ya.” Melihat Jiang Long terpaku di depan pintu, Zhen Yi tertawa kecil.
Jiang Long sedikit canggung, sebab memang itulah yang ia rasakan. Meski ruangan itu penuh dengan berbagai koleksi dan mainan, keberadaan tempat tidur di sana membuat suasana menjadi berbeda. Apalagi Zhen Yi baru saja mandi dan hanya mengenakan piyama, sehingga wajar jika pikiran Jiang Long melayang kemana-mana.
Perlu diketahui, Jiang Long masih polos dalam urusan semacam ini, sedangkan Zhen Yi sudah berpengalaman. Bagaimana jika ia tak mampu menahan diri dan terjebak dalam situasi yang tak diinginkan?
“Sudahlah, ayo, aku akan mengajakmu melihat-lihat,” kata Zhen Yi sambil merangkul lengan Jiang Long ketika ia masih diam.
Piyama sutra yang dikenakan Zhen Yi terasa licin dan halus, dan karena ia hanya mengenakan itu, Jiang Long bisa merasakan dengan jelas lekuk tubuh tertentu. Hatinya pun bergetar tak menentu.
Koleksinya sangat banyak dan bernilai tinggi, namun setelah melihat pameran koleksi milik Han Tao sebelumnya, Jiang Long sudah tidak terlalu terkesan. Di matanya, hanya obsidian yang benar-benar berharga, sementara yang lain hanyalah barang tak berguna yang tidak menarik minatnya.
“Bu Zhen, lebih baik kita lihat obsidian saja,” ujar Jiang Long.
Selama merangkul lengan Jiang Long, Zhen Yi sengaja menggesekkan dadanya ke tubuh Jiang Long. Tapi ia tak menyangka, bocah ini memiliki keteguhan yang luar biasa, sama sekali tak tergoda. Apakah ia benar-benar sudah kehilangan daya tariknya?
Sedikit kecewa, Zhen Yi membawa Jiang Long ke sebuah kotak mewah, membukanya, dan di dalamnya terdapat enam bongkah obsidian seukuran kepalan tangan.
Zhen Yi terkejut saat melihat tatapan Jiang Long yang penuh hasrat pada batu-batu itu, bahkan lebih bersemangat daripada saat menatap dirinya. Hal ini membuat Zhen Yi hanya bisa tersenyum pahit. Rupanya ia kalah menarik dibanding batu-batu tak berharga ini.
“Bu Zhen, terima kasih banyak,” kata Jiang Long dengan tulus. Setiap obsidian itu adalah tangga peningkatan bagi dirinya. Meski jumlahnya tak banyak, ia tetap berterima kasih dari lubuk hati terdalam kepada Zhen Yi.
Zhen Yi tersenyum agak dipaksakan, lalu berkata, “Ini baru batch pertama. Aku akan terus mencarikan batu seperti ini untukmu.”
Sebenarnya, obsidian yang dibeli Zhen Yi dari para kolektor tidak hanya sebanyak itu. Ia sengaja tidak memberikannya sekaligus pada Jiang Long karena khawatir jika suatu saat tidak bisa menemukan obsidian lagi, hubungan dengan Jiang Long akan terputus. Inilah kecerdikan seorang perempuan tangguh di dunia bisnis.
Jiang Long melepaskan rangkulan Zhen Yi, berniat merasakan energi dalam obsidian, namun saat menarik lengannya, Zhen Yi tiba-tiba mengerang pelan.
“Bu Zhen, ada apa?” tanya Jiang Long heran.
Wajah Zhen Yi memerah. Tadi, saat Jiang Long menarik lengannya, ia tak sengaja menyentuh bagian sensitif yang seharusnya tidak disentuh. Sensasi itu, bagi perempuan seumurannya yang tak punya pasangan, bagaikan menyulut api dalam sekam.
“Tak ada apa-apa,” jawab Zhen Yi, sama sekali tak menyangka bahwa upayanya menggoda Jiang Long malah membuat dirinya sendiri terbakar hasrat.
Mendengar jawaban itu, Jiang Long kembali fokus pada obsidian.
Zhen Yi kesal, sampai menghentakkan kakinya. Benarkah ada orang yang sebodoh ini dalam urusan cinta?
Jiang Long sebenarnya menyadari semuanya, sentuhan itu terasa jelas, mana mungkin ia tidak peka? Hanya saja ia tidak berani menunjukkan bahwa ia tahu, khawatir benar-benar terjadi hal yang tak diinginkan.
Setelah selesai menyimpan obsidian, Jiang Long segera meninggalkan rumah Zhen Yi seolah-olah menghindari bencana. Zhen Yi menggigit bibir, mengangkat tinju mungilnya dan berkata pada diri sendiri, “Suatu hari nanti, kau tak akan bisa lolos dari cengkeramanku!”
Setelah itu, Zhen Yi buru-buru kembali ke kamarnya, entah untuk apa.
Urusan di Kota Jinghai pun selesai. Bagi Jiang Long, hasilnya sangat memuaskan. Selain obsidian, ia juga mendapatkan sebuah buku rahasia tentang formasi dari Sekte Yinshan. Meski formasi di buku itu sangat jahat, dengan pemahaman Jiang Long tentang teknik pemurnian jiwa, ia bisa memodifikasi dan membuat formasi sederhana yang bermanfaat bagi orang lain.
Enam obsidian kecil itu tidak akan ia gunakan sendiri. Dengan formasi, ia bisa membuatnya menjadi jimat yang bisa dibawa oleh Wei Xue dan teman-teman, memberi manfaat bagi tubuh dan jiwa.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Jiang Long kembali ke Kota Yang yang sudah sangat dikenalnya. Senyum tak sadar muncul di wajahnya, tempat yang familiar memang paling menyenangkan, bahkan udaranya terasa lebih akrab.
Saat hendak meninggalkan stasiun, Jiang Long melihat seorang pengemis. Karena tubuhnya sangat besar, ia menjadi pusat perhatian banyak penumpang. Ketika Jiang Long melihatnya, ia merasa familiar dan berhenti.
“Ah Tai!” Jiang Long maju, terkejut melihat pengemis itu. Ternyata benar, itu Ah Tai!
Ah Tai mendengar suara itu, mengangkat kepala dengan bingung, rambut kusut dan wajah kotor. Saat menyadari itu Jiang Long, otot wajahnya tak mampu menahan getaran emosi.
“Guru…” suara Ah Tai serak dan berat.
Amarah membara di hati Jiang Long. Meski Ah Tai hanya muridnya secara formal, tetap saja ia muridnya. Bagaimana bisa hidup sampai seperti ini?
“Ah Tai, kenapa kamu di sini?” Jiang Long bertanya dengan suara dingin. Dahulu ia melarang Ah Tai bertarung, hanya menyuruhnya bekerja sebagai pelayan di arena tinju atas permintaan Cheng Guan. Bagaimana bisa Ah Tai jatuh sedalam ini?
“Guru, ini semua karena aku tak berguna,” jawab Ah Tai dengan wajah penuh penderitaan.
“Sudah, ikut aku pulang.”
Setelah sampai di rumah, Jiang Long menyuruh Ah Tai mandi. Karena tak ada pakaian yang cukup besar, Ah Tai hanya bisa bertelanjang dada.
“Ceritakan, apa yang terjadi?”
“Sejak Guru tidak bertanding lagi, pihak arena berharap aku kembali bertarung. Tapi Guru menyuruhku jadi pelayan, mana mungkin aku melanggar perintah Guru dan bertarung lagi? Jadi aku menolak. Du Yang pun mendendam dan mengusirku dari arena,” jelas Ah Tai.
“Lalu, bagaimana dengan luka di tubuhmu?” Ah Tai memang sudah lama tak bertarung, tapi ada luka baru di tubuhnya. Apakah ini ulah Du Yang?
“Guru, dulu saat bertarung, aku punya banyak musuh. Luka ini adalah balas dendam dari salah satu arena tinju,” kata Ah Tai.
“Baru saja keluar dari arena, langsung dibalas dendam?” Mata Jiang Long semakin dingin. Sepertinya Du Yang tidak hanya mengusir Ah Tai, tapi juga memberi tahu musuh-musuhnya, sehingga Ah Tai menjadi sasaran balas dendam.
Ah Tai hanya mengangguk, ia pun tahu dengan jelas apa yang terjadi.
“Hebat, Han Tao benar-benar punya tangan kanan yang baik,” Jiang Long menggertakkan gigi, lalu berdiri dan bertanya, “Malam ini ada pertandingan di arena?”
Ah Tai langsung kaget. Aura Jiang Long saat itu bahkan lebih kuat daripada saat menghadapi ahli Muay Thai dan sekte Qingyang.
“Ada.”
Du Yang telah memindahkan arena tinju ke tempat yang lebih besar, berharap bisa mendapat keuntungan besar. Namun yang terjadi justru sebaliknya, karena petinju bertopeng tak lagi tampil, ia kehilangan daya tarik bagi penggemar fanatik petinju bertopeng. Investasi besar itu nyaris sia-sia, membuat Du Yang sangat marah. Ia juga memaksa Ah Tai bertarung, namun Ah Tai menolak dengan alasan mematuhi perintah gurunya.
Bagi Du Yang, yang namanya perintah guru tidak ada artinya. Hanya uang yang penting. Maka ia tidak hanya mengusir Ah Tai, tapi juga mengumumkan bahwa Ah Tai tak mendapat perlindungan, bahkan menyebar kabar ke musuh-musuhnya, sehingga Ah Tai menjadi sasaran balas dendam.
“Berapa banyak penonton yang hadir malam ini?” Du Yang bertanya pada Cheng Guan di ruang VIP.
Cheng Guan menjawab hati-hati, “Tak sampai enam puluh persen.”
“Brengsek, semua gara-gara petinju bertopeng. Kalau ketemu dia, pasti aku bunuh!” Du Yang menggeram. Ia sudah dua kali melewatkan kesempatan melihat Jiang Long membuka topengnya, sehingga sampai sekarang ia tak tahu bahwa petinju bertopeng itu sebenarnya Jiang Long, saudara yang sangat dihargai Han Tao!
Keringat dingin mengalir di dahi Cheng Guan. Ia sudah beberapa