Bab Empat Puluh Satu: Uji Coba
Kaisar Fan mendengus dingin tanpa berkata apa-apa. Pang Zhong, yang dulu adalah bawahannya, tentu bisa menebak maksudnya. Ia pun menoleh ke anak buahnya dan berkata, “Tangkap dua orang ini.”
“Kakak, kau gila? Aku adikmu!” seru wanita itu cemas ketika mendengar perintah itu. Dulu, setiap kali ia berbuat ulah, kakaknya selalu yang membereskan masalah, dan yang ditangkap selalu pihak lawan. Tapi hari ini, kakaknya malah ingin menangkap dirinya!
“Sudah terlalu sering berbuat salah, memang sudah seharusnya kau menerima pelajaran hari ini,” jawab Pang Zhong dengan suara dingin.
Sepasang manusia sial itu langsung diborgol oleh anak buah Pang Zhong. Tiba-tiba, Jiang Long berkata, “Belum meminta maaf padanya, sudah mau pergi begitu saja?”
Mendengar ini, Pang Zhong mengerutkan kening. Anak muda ini benar-benar tidak tahu diri. Tidak ikut menangkapnya saja sudah merupakan penghormatan pada Kaisar Fan, tapi ternyata ia masih juga menuntut lebih.
“Anak muda, kau belum pernah dengar pepatah, ‘Bila bisa memberi maaf, berilah maaf’?” kata Pang Zhong.
“Sebelum mengajarkan orang lain untuk berbesar hati, kenapa kau tidak ajarkan dulu adikmu untuk tidak bertindak semena-mena?” balas Jiang Long, menatap Pang Zhong dengan tatapan tak gentar sedikit pun.
“Kaisar Fan, menurutmu bagaimana sebaiknya masalah ini diselesaikan?” tanya Pang Zhong pada Kaisar Fan, mengabaikan Jiang Long. Jika Kaisar Fan ingin adiknya meminta maaf, ia tidak masalah, tapi Jiang Long jelas tidak punya hak menuntut hal itu.
“Dulu, di Tim Khusus Huo Yan, bagaimana kalian menyelesaikan perselisihan?” tanya Kaisar Fan datar.
Pang Zhong mengangkat alis, tersenyum meremehkan ke arah Jiang Long, lalu berkata, “Aku hanya khawatir tanpa sengaja akan melukai anak muda ini.”
Jiang Long mengerutkan kening mendengar ucapan itu, begitu juga Han Jiang. Jelas sekali Pang Zhong ingin menguji kemampuan Jiang Long. Tapi bukankah ini terlalu terburu-buru?
Apa yang dirasakan Kaisar Fan tak bisa dimengerti orang lain, tapi ia memang tidak sabar ingin melihat kemampuan Jiang Long. Di antara tujuh distrik militer utama Tiongkok, setiap distrik memiliki tim khusus yang sangat tangguh. Dahulu, tim khusus Huo Yan yang dipimpin Kaisar Fan masih berada di level menengah, tapi setelah ia tumbang selama bertahun-tahun, kekuatan tim itu merosot tajam dan kini menjadi yang terlemah. Karena itu, ia sangat ingin mencari pelatih baru untuk tim khusus Huo Yan. Kebetulan, Jiang Long diduga memiliki kekuatan setara pejuang langit, jelas merupakan kandidat terbaik.
Tentu saja, mendengar cerita saja tidak cukup, Kaisar Fan ingin menyaksikan sendiri kemampuannya. Ia sudah sering mendengar Han Jiang memuji-muji Jiang Long, tapi ingin membuktikannya sendiri.
“Adik Jiang, jangan salah paham. Nanti aku akan menjelaskannya padamu,” kata Kaisar Fan pada Jiang Long.
Jiang Long tidak membalas lagi. Kalau soal berkelahi, ia kini tak takut siapa pun.
“Pelatih Fan, bolehkah aku mengerahkan seluruh kemampuanku?” tanya Pang Zhong, tampak berniat diam-diam membalaskan dendam adiknya.
“Tentu saja,” jawab Kaisar Fan.
Orang-orang yang hadir pun bertambah bingung. Alur kejadian ini sangat membingungkan. Awalnya jelas Kaisar Fan membela Jiang Long, tapi sekarang, ia membiarkan veteran tim khusus Huo Yan melawan Jiang Long. Bukankah itu sama saja menjebak Jiang Long?
Seorang anak muda, mana mungkin bisa melawan Pang Zhong?
Sepasang manusia sial itu memandang Jiang Long dengan penuh kebencian. Dalam pikiran mereka, Jiang Long sebentar lagi pasti akan dihajar habis-habisan. Para anak buah Pang Zhong pun memasang wajah bangga. Mereka sangat paham kekuatan Pang Zhong; sebagai veteran tim khusus Huo Yan, ia punya kemampuan yang jauh di atas prajurit biasa. Dulu saat menangkap penjahat kelas kakap, Pang Zhong bisa melawan sepuluh orang tanpa senjata. Apalagi ini hanya anak muda, pasti akan dihajar sampai babak belur.
“Tenang saja, kakak pasti akan diam-diam membalaskan dendam untuk kita,” bisik wanita itu pada kekasihnya.
Pria itu sudah sangat dendam pada Jiang Long, berharap Pang Zhong bisa menghajar Jiang Long sampai mati. “Tak kusangka anak ingusan itu punya backing juga. Hari ini, giliran kakakmu yang membalas dendam untuk kita,” katanya sambil menggertakkan gigi.
Pang Zhong pun sangat percaya diri. Dalam pandangannya, Kaisar Fan masih berpihak padanya. Kalau tidak, mana mungkin dia diizinkan melawan Jiang Long? Ini jelas cuma alasan agar orang lain mengira distrik militer Hua Bei tidak sewenang-wenang, dan para penonton pun bisa menyaksikan tontonan menarik tanpa curiga.
“Anak muda, hati-hati. Tinju ini tidak punya mata,” kata Pang Zhong, menegaskan peringatannya.
Di dalam restoran, orang-orang sudah sengaja memberi ruang kosong di tengah untuk mereka berdua. Para penonton pun berdesakan di pinggir, menunggu aksi seru.
“Semoga kepercayaan dirimu sejalan dengan kemampuanmu,” kata Jiang Long datar.
Pang Zhong menyeringai sinis. Anak muda bodoh ini, berani sekali meremehkannya? Bahkan orang-orang yang tidak terlibat pun merasa Jiang Long terlalu sombong, menganggap generasi muda sekarang terlalu tinggi hati.
Begitu Pang Zhong menundukkan badan, seluruh tubuhnya seperti busur yang siap dilepaskan, tanda ia benar-benar serius dan ingin menghukum Jiang Long atas kesombongannya. Kaisar Fan yang berdiri di samping tiba-tiba merasa sedikit khawatir. Ia sangat tahu kemampuan orang yang ia latih sendiri. Walaupun Han Jiang sangat memuji Jiang Long, kalau tidak menyaksikan sendiri, siapa tahu itu hanya bualan. Kalau benar begitu, Jiang Long pasti akan kena batunya hari ini.
“Bersiaplah!” teriak Pang Zhong. Tubuhnya melesat seperti anak panah. Gerakannya sangat cepat, orang lain baru saja berkedip, Pang Zhong sudah muncul di depan Jiang Long.
Menyaksikan ini, Kaisar Fan mengangguk puas. Inilah hasil dari latihan kerasnya. Anggota tim khusus Huo Yan, siapapun itu, punya kemampuan tempur individu yang sangat tinggi. Mungkin secara tim mereka kalah dari distrik lain, tapi dalam duel satu lawan satu, mereka jelas yang terkuat di antara tujuh distrik militer.
Di mata orang lain, Pang Zhong bergerak sangat cepat, tapi di mata Jiang Long, segalanya tampak sangat lambat. Bahkan ia bisa melihat setiap detail, sampai rambut yang melayang. Ini adalah pertama kalinya Jiang Long bertarung setelah mencapai tingkat pejuang langit. Dibandingkan saat ia masih di tingkat pejuang bumi, perasaannya sangat berbeda. Bahkan dari gerakan sendi Pang Zhong, ia bisa menebak jurus apa yang akan dikeluarkan.
“Terlalu lambat,” seru Jiang Long dingin. Ia mengayunkan tendangan kilat dengan kekuatan tiga bagian.
Pang Zhong melesat maju dengan cepat, tapi mundur jauh lebih cepat lagi, bagai layang-layang putus, terlempar mundur hingga lima meter sebelum jatuh terhempas ke lantai.
Di mata siapa pun, dalam duel ini, Jiang Long seharusnya kalah.
Namun kenyataannya, Jiang Long justru membungkam semua orang di sana. Tak seorang pun melihat bagaimana Jiang Long melancarkan serangannya, bahkan Kaisar Fan pun tidak. Yang terlihat, Jiang Long tetap berdiri di tempat, tidak bergerak, lalu Pang Zhong sudah terlempar jauh.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Semua orang melongo tak percaya pada apa yang baru saja mereka lihat.
Anak buah Pang Zhong pun hampir matanya copot. Apa maksudnya ini?
“Hisss…”
Kaisar Fan menghela napas dalam-dalam. Ia tidak melihat bagaimana Jiang Long menyerang, tapi justru itu membuktikan kekuatan luar biasa Jiang Long. Rupanya apa yang dikatakan Han Jiang tidak berlebihan. Anak muda ini benar-benar punya kekuatan setara pejuang langit!
“Kakek Han, seumur hidupmu beruntung sekali bisa mengenal orang sehebat ini,” ujar Kaisar Fan dengan senyum getir pada Han Jiang.
Han Jiang memandang Jiang Long dengan penuh kekaguman. Setiap kali melihat Jiang Long bertarung, baginya seperti menyaksikan lukisan terindah di dunia, meski kali ini ia tidak sempat melihat apa pun, tetap saja pesona itu terasa tak terlukiskan.
“Kali ini kau coba-coba, kalau Jiang Long jadi sakit hati, rencanamu bisa gagal total,” sindir Han Jiang.
Kaisar Fan yang cerdas tentu menyadari kemungkinan itu, hatinya pun disesaki penyesalan.
Pang Zhong yang terjatuh memegangi dadanya, wajahnya sangat pucat. Satu jurus, hanya satu jurus, ia langsung kalah dari anak muda itu!
Sebelum kejadian ini, jika ada yang bilang Pang Zhong hanya bisa bertahan satu jurus di depan seorang anak muda, ia pasti takkan percaya. Tapi kini, kenyataan berkata lain. Pang Zhong sadar, diberi sepuluh atau seratus kesempatan lagi pun, hasilnya tetap sama.
Di kepalanya hanya terlintas satu kata: Kuat! Terlalu kuat! Anak muda ini luar biasa hebat! Mungkin seluruh tim khusus Huo Yan pun tak akan sanggup mengalahkannya.
Pang Zhong menggertakkan gigi, menahan sakit di dadanya, lalu berdiri dan berkata pada Kaisar Fan, “Pelatih Fan, maaf telah mempermalukanmu.”
Kaisar Fan menggeleng, hasil yang di luar dugaan tapi masuk akal. Itu karena ia sendiri setengah tidak percaya pada ucapan Han Jiang, kalau tidak, kejadian seperti ini takkan terjadi.
“Minta maaflah pada Bibi Fang,” kata Jiang Long dingin pada sepasang manusia sial itu.
Jia Fang sempat sangat khawatir pada Jiang Long, tapi setelah melihat kejadian ini dan mendengar kata “Bibi Fang”, ia menutup mulut menahan tangis, air matanya menetes laksana mutiara. Dua tahun terakhir, tak seorang pun tahu betapa berat hidup yang ia jalani. Sudah lama ia tidak merasakan perhatian orang lain. Suaminya di rumah, selain mabuk, kerjaannya hanya memukul dirinya. Semua itu ia telan diam-diam, hanya demi cinta.
Sepasang manusia sial itu gemetar ketakutan mendengar ucapan Jiang Long. Mereka sangat tahu kemampuan Pang Zhong. Seluruh keluarga mereka dulu sangat bangga saat Pang Zhong masuk tim khusus Huo Yan. Sekarang, orang yang bahkan Pang Zhong saja tidak mampu mengalahkannya, apa hak mereka untuk sombong di depan Jiang Long?
Tanpa banyak kata, wanita itu berlutut di lantai, lalu terus-menerus membenturkan kepala ke lantai di depan Jia Fang, “Maafkan aku, aku sengaja menyusahkanmu, aku memang pantas dihukum. Aku hanya iri karena kau lebih cantik dariku, jadi aku mempersulitmu. Tolong maafkan aku, jangan balas dendam padaku.”
“Aku juga salah, lidahku lancang, berkata hal yang tak sepantasnya. Aku minta maaf padamu,” pria itu juga ikut berlutut.
Orang-orang yang tadi menonton dan sempat mengejek Jia Fang, kini mendengar pengakuan itu jadi naik darah. Mereka ramai-ramai memaki sepasang manusia sial itu. Hanya karena seseorang lebih cantik, kau tega menyiksanya? Wajahmu yang jelek itu salah siapa?
“Bibi Fang, ayo kita pulang,” kata Jiang Long sambil menggandeng tangan Jia Fang. Ia bisa membayangkan betapa banyaknya penderitaan yang dialami Jia Fang selama dua tahun ini. Suaminya yang tak berguna itu, harus ia beri pelajaran.
Merasa digenggam tangan Jiang Long yang besar dan kasar, Jia Fang semakin tak kuasa menahan tangis. Anak kecil ini, benar-benar sudah dewasa.