Bab 64: Seluruh Negeri Bergelora!

Siaran Langsung: Aku Memimpin Umat Manusia Menyerbu Dunia Lain Bulan Menyelimuti Cahaya Bintang 2581kata 2026-03-05 16:13:38

Pesan teratas di berbagai platform media sosial: Rekrutmen besar-besaran, sepuluh juta orang!
Pencarian terpopuler nomor satu: [Situs pendaftaran tumbang.]
Pencarian terpopuler nomor dua: [Hotline pendaftaran tidak bisa dihubungi.]
Di kolom komentar di bawah, ratusan juta orang menyuarakan pendapat mereka karena ini menyangkut kepentingan hidup mereka. Semua yang berkepentingan bersatu untuk bersuara.

"Sialan, situsnya tidak bisa diakses, telepon tidak terhubung, ini apa-apaan? Bisa tidak sih sedikit serius?! Kalau sudah begini, bunuh satu programmer dulu buat pengorbanan!"

"Di mana para jagoan yang buat situs tiket kereta? Cepat panggil ke sini!"

"Di mana para ahli teknologi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

"Aku benar-benar putus asa!"

"Anakku benar-benar butuh ini, tolonglah bantu, aku mohon."

...

Sepuluh ribu komentar!
Seratus ribu komentar!
Satu juta komentar!
Dua juta komentar!

Jumlah komentar meningkat dengan kecepatan luar biasa, dan jumlah bagikan sepuluh kali lipat dari komentar.
Dari sini terlihat betapa marahnya ratusan juta orang.

Lalu, sebuah adegan dramatis terjadi—

Platform media sosial ikut tumbang!

Awalnya tempat bersuara, kini karena terlalu banyak orang, server platform tidak kuat menahan beban, langsung berubah seperti situs pendaftaran: layar kosong, hanya lingkaran kecil di tengah layar yang berputar-putar, lama menunggu tetap saja tidak bisa memuat.

Orang-orang semakin panik, para teknisi platform juga hampir putus asa.

Para teknisi ini dimaki pengguna, dimarahi atasan, benar-benar serba salah.

Namun seberapa pun mereka panik, kemampuan server memang terbatas, tidak mungkin menahan arus miliaran pengguna.
Ini sudah bukan masalah mereka saja, negara atau perusahaan mana pun di dunia tidak akan sanggup.

Itulah kenapa situs pendaftaran langsung tumbang, berubah jadi layar kosong, mau pakai jaringan sekencang apa pun, tetap tidak bisa diakses.

Orang-orang sadar media sosial tumbang, semua langsung kebingungan.

Situs pendaftaran tidak bisa diakses, mau menekan lewat media sosial malah malah bikin media sosial ikut tumbang, lalu harus bagaimana?

Akhirnya, hanya ada satu jalan—langsung datang ke lokasi.

Keluar rumah!

Di musim panas dengan suhu hampir empat puluh derajat, ratusan juta orang meninggalkan kenyamanan ruangan ber-AC, menuju instansi terkait untuk bertanya dan mendaftar.

Di sebuah kota pesisir, di sebuah pabrik pengolahan mesin.

Sekelompok pekerja mengenakan seragam biru lengan pendek keluar dari bengkel, berebutan mengambil motor listrik dari parkiran, segera menaikinya.

Pemilik pabrik sedang berbincang dengan satpam di pos jaga gerbang, tiba-tiba melihat rombongan pekerja mengendarai motor listrik berbondong-bondong, langsung membuka jendela dan membentak, "Kalian jam kerja begini malah keluar, mau ke mana?!"

Seorang pria paruh baya di barisan depan menjawab dengan malas, "Mau daftar jadi tentara!"

"Jangan main-main!" Pemilik marah, "Ini jam kerja, lagi sibuk, kalian pergi siapa yang jalankan mesin bubut? Siapa yang urus produksi? Kalau pesanan terlambat bagaimana? Cepat masuk lagi kerja!"

Pria paruh baya itu mengejek, "Aku kerja pakai tenaga, di mana pun bisa. Untung pesanan juga bukan buat aku, kalau telat apa urusanku? Sudah, aku keluar saja, boleh kan?"

Belum selesai bicara, puluhan orang di belakangnya ikut berteriak.

"Keluar, keluar!"

"Satpam, lama amat sih? Cepat buka pintunya!"

"Ayo cepat! Tidak lihat situasi? Kalau sampai urusanku gagal, awas saja!"

...

Suasana memanas, satpam yang masih muda gemetaran di pos jaga, melirik ke arah pemilik yang perutnya buncit.

Pemilik gigi gemeretak, hampir meledak marah!

Sejak para penantang mulai merekrut pemain, biaya tenaga kerja langsung melambung.
Sekarang pabrik susah dapat tenaga kerja kasar, upah rendah tidak ada yang mau.

Pabriknya punya dua-tiga ratus orang, rata-rata gaji empat juta lebih. Banyak yang lihat gaji di luar lebih tinggi, ingin pindah. Demi mempertahankan, dia sudah naikan gaji karyawan utama sampai hampir enam juta.

Hanya untuk ini saja, pengeluaran bertambah ratusan juta setahun.

Dan tren biaya tenaga kerja terus meningkat.

Padahal laba bersih pabrik setahun hanya sekitar satu miliar.

Awal tahun dia masih ingin beli satu apartemen dekat sekolah buat investasi, tambah satu mobil mewah atas nama perusahaan buat potong pajak, sekalian ganti mobil baru.

Sekarang, semua rencana buyar.

Sudah begitu, kalian malah berani mengancamku!

"Sialan!"

Pemilik hanya bisa mengumpat dalam hati, tidak berani marah terang-terangan.

Mereka semua operator mesin CNC, salah satu bagian inti pabrik.

Kalau mereka pergi, pabrik langsung lumpuh.

Wajah pemilik yang buncit itu berubah-ubah, dalam hati marah sekali, ingin menyingkirkan mereka, tapi pengalamannya berbisnis selama bertahun-tahun membuatnya tetap tersenyum palsu.

"Kawan-kawan, bukan maksud saya begitu.
Di bengkel kan ada AC, meski panas tetap lebih baik daripada di luar yang hari ini empat puluh derajat, bisa mati kepanasan.
Kalian sudah lihat di berita belum?
Beberapa waktu ini sudah ada beberapa yang meninggal karena serangan panas.
Saya melarang kalian keluar itu karena peduli sama kalian!

Saya selalu anggap kalian seperti saudara sendiri, mana mungkin saya menipu kalian?
Tapi saya juga tahu ikut penantang itu banyak untungnya, kalau memang mau, saya tidak bisa melarang. Saya cuma ingatkan, hati-hati dengan panas, jangan sampai kena heatstroke, apalagi serangan panas."

Pria paruh baya itu melambaikan tangan, tidak sabar, "Sudah selesai? Kalau sudah, cepat buka pintu!"

Pemilik tetap tersenyum ‘ramah’, menyuruh satpam membuka pintu.

Dia menyaksikan puluhan orang naik motor listrik pergi, masih berteriak, "Cepat pergi, cepat pulang, jangan lama-lama!"

Lalu, hanya bisa menatap saat mereka menghilang dari pandangan.

Tak lama, departemen lain meniru, ikut keluar.

Akhirnya, pabrik yang tadinya ramai jadi sunyi senyap.

"Kamu ngapain bengong? Semua orang sudah pergi, kenapa pintu belum ditutup?!"

Pemilik berteriak melampiaskan emosi, menyuruh satpam menutup pintu.

Tapi gerbang tetap saja, tidak ada suara.

Dia menoleh—

Jendela pos satpam terbuka, satpamnya sudah kabur lompat jendela.

"Sial!"

Pemilik itu bibirnya bergetar, botol air mineral di tangannya dibanting ke lantai.

Pemandangan di pabrik itu hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa hari itu.

Hari itu, ribuan perusahaan dan pabrik besar kecil berhenti beroperasi.

Orang-orang keluar dari apartemen, perkantoran, pabrik, dan berbagai gedung, berkumpul membentuk barisan panjang.

Dari udara, kota-kota besar memanjang dipenuhi kendaraan seperti ular raksasa, macet berjam-jam tak bergerak, suara klakson bersahutan menembus langit kota.

Di pinggir jalan, lautan manusia bersepeda, naik motor listrik, atau berjalan kaki menyesaki trotoar, hanya mampu bergerak pelan.

Seluruh petugas lalu lintas dikerahkan, berusaha menjaga ketertiban.

Namun!

Sia-sia!

Karena sebagian pengemudi sadar situasi tidak beres, langsung meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki ke tujuan.

Mobil-mobil tidak bisa bergerak, jalanan benar-benar macet total.

Suara klakson makin memekakkan telinga.

Para polisi lalu lintas hanya bisa melihat makin banyak orang meninggalkan mobil dan berjalan ke trotoar, tak mampu berbuat apa-apa.

Seperti kata pepatah, kalau tak bisa melawan, bergabunglah. Para polisi lalu lintas pun berhenti mengatur kendaraan, beralih mengatur pejalan kaki. Tapi saat melihat kerumunan di trotoar, mereka pun langsung lemas.