Bab delapan puluh tujuh: Hati yang Jujur
Kedua ujung telepon itu dihiasi keheningan. Ao Lingxue menunggu jawaban Li Si, sementara di hati Li Si, berbagai pikiran berkecamuk.
Inilah sebabnya ia merasa dirinya benar-benar bodoh tanpa harapan. Mengapa ia merasa begitu payah? Dengan malu-malu ia mengusap batang hidungnya, kebingungan dalam hatinya perlahan menghilang, dan semuanya terasa cerah di hadapannya.
"Sayangku Xue'er, nanti akan kuceritakan semuanya padamu." Dengan suara yang paling lembut, Li Si menatap keluar jendela, menatap Kota Hangzhou yang disinari matahari, dan berkata pelan.
"Iya, aku akan segera menemuimu," jawab Ao Lingxue di seberang dengan anggukan.
Kembali hening, kali ini tak seorang pun tahu harus berkata apa. Keduanya hanya saling mendengarkan tarikan napas masing-masing.
"Jangan tinggalkan aku... Aku benar-benar takut suatu hari kau akan pergi meninggalkanku." Tiba-tiba suara Ao Lingxue berubah menjadi penuh permohonan dan ketakutan, ia kembali menangis.
"Iya, bahkan jika aku mati, arwahku pun akan terus menemani Xue'er."
"Apa yang kau bicarakan, kau tidak akan mati... Kita masih punya masa depan yang indah, kita bahkan belum merasakan indahnya cinta... Aku juga ingin punya anak, seorang putri."
"Nanti malam kita pulang dan langsung buat anak." Dengan nada serius, wajahnya dibuat seolah-olah sangat tegas.
Bayangan indah yang sempat muncul seketika runtuh karena ucapan Li Si.
"Tidak mau, nanti saja setelah kita menikah."
Meski tidak bisa melihat wajah Lingxue, Li Si bisa membayangkan betapa saat itu pipi gadis itu pasti mengembung, manja dan imut.
"Aduh, jangan segitu kejamnya. Suamimu ini sudah menunggu lama, demi itu aku bahkan sudah belajar banyak hal... Dijamin bikin istri puas, sekali tembak langsung kena sasaran."
Suasana berat langsung mencair.
"Tidak mau..."
"Mau!"
"Tidak mau..."
"Mau."
"Janganlah..."
"Harus mau!"
Tak lama kemudian, mobil pun berhenti di depan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, perdebatan sengit terjadi di antara mereka berdua, berkutat antara mau dan tidak, hingga akhirnya tercapai kompromi sepihak...
Hasil akhirnya, Li Si harus menerima kekalahan telak. Gadis kecil seperti Lingxue kalau sudah manja memang bikin siapa pun tak tahan... Sambil mengusap hidung yang masih sedikit berdarah, Li Si turun dari mobil.
Sebentar lagi Lingxue akan datang bersama Lian Sheng. Li Si telah berjanji akan menceritakan segalanya, termasuk tentang dunia kultivasi dan dunia tersembunyi...
"Permisi, ruang operasi Liu Yu ada di mana?"
Rumah sakit itu sangat besar, Li Si langsung kebingungan setelah masuk. Ia juga tidak punya nomor telepon Long Yi, jadi ia terpaksa bertanya ke bagian resepsionis.
Dua petugas resepsionis yang sebelumnya asyik mengobrol langsung menoleh dan menjawab.
Tampan sekali...
Dengan pipi bersemu merah, salah satu menunjuk ke kanan, "Lantai dua, lurus ke kanan."
"Terima kasih," jawab Li Si sambil tersenyum dan mengangguk, lalu berbalik menuju arah yang ditunjukkan.
"Eh, tampan banget, ini juga nanya ruang operasi Liu Yu," kata salah satu resepsionis pada temannya dengan tatapan penuh kekaguman.
"Kamu mulai genit lagi ya? Suka, ya minta nomornya! Hari ini kamu sudah lihat cukup banyak cowok tampan, kalau bisa dapat satu saja sudah untung besar," goda temannya, meski ia pun harus mengakui pria tadi memang sangat tampan.
"Ah, sudahlah. Kalau dia ada urusan sama pemuda yang baru saja dibawa masuk, pasti dia orang super kaya. Tadi waktu Liu Yu dibawa masuk, di belakangnya ada barisan orang berbaju hitam, lalu sekelompok orang-orang kaya, di luar juga penuh mobil Rolls Royce dan McLaren..."
Meski sudah cukup jauh, Li Si masih bisa mendengar percakapan kedua petugas itu. Apakah dirinya sekarang memang setampan itu? Sambil mengusap wajah sendiri, ia jadi sedikit narsis.
Tapi, siapa sebenarnya para orang kaya yang mereka bicarakan itu...?
Tak lama ia bertanya-tanya, saat sampai di lantai dua, semuanya menjadi jelas. Di depan ruang operasi, lorong penuh sesak oleh orang-orang yang terbagi dalam beberapa kelompok kecil, masing-masing sibuk berbincang pelan.
Ada apa ini? Siapa mereka semua...? Lorong itu begitu padat, Li Si pun tak bisa langsung menemukan Long Yi.
Namun, Long Yi yang jeli langsung melihat Li Si. Ia melambaikan tangan dari posisi terdekat dengan pintu ruang operasi.
"Di sini!"
Mendengar teriakan Long Yi, Li Si pun melihatnya. Semua orang yang semula sibuk mengobrol langsung diam dan menatap Li Si dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.
Tatapan mereka membuat Li Si merasa tidak nyaman. Ada apa dengan pandangan mereka...? Berdesakan di antara kerumunan, ia akhirnya sampai di depan Long Yi.
"Apa maksudnya semua ini?" tanya Li Si langsung pada Long Yi. Bagaimana bisa di depan ruang operasi Liu Yu tiba-tiba penuh orang, dan semuanya tampak punya status dan kedudukan tinggi, para elite masyarakat.
"Mereka semua adalah para pemimpin perusahaan yang dikelola di bawah Empat Keluarga Besar... Begitu dengar kalau anak tuan Liu dan Long terluka, mereka semua datang, ingin ikut nimbrung, dan sekaligus mencari kesempatan berkenalan dengan keluarga besar," jawab Long Yi sambil menggaruk kepala, tampak kesal. Ia sendiri baru saja dikerumuni oleh banyak orang. Orang-orang ini bukan benar-benar peduli pada nasib Liu Yu, hanya mementingkan keuntungan pribadi.
"Bagaimana bisa begini, kenapa kamu tidak menertibkan? Suasana operasi butuh ketenangan," Li Si berkata dengan nada agak marah.
"Aku bisa apa? Mereka semua orang penting, mana mungkin mau dengar kata-kataku. Paling karena statusku, mereka sedikit menahan diri, tapi aku ini cuma penjaga keluarga besar, tidak punya kedudukan," jawab Long Yi dengan pasrah. Ia juga kelelahan. Hari ini benar-benar berat baginya. Operasi sudah berlangsung hampir lima jam dan dokter utama belum juga keluar. Untungnya, Long Ming tidak mengalami cedera serius, dokter bilang cukup istirahat sebulan sudah pulih.
Li Si dan Long Yi duduk menunggu dengan sabar, namun bisik-bisik orang di sekitar mereka tak kunjung berhenti, seperti lebah berdengung di telinga. Tak ada yang menertibkan, suara mereka makin lama makin bising. Li Si yang sudah sejak tadi merasa kesal akhirnya tak tahan lagi.
"Apa kalian tidak punya tata krama? Ini ruang operasi, bukan taman hiburan! Kalau mau ngobrol, silakan jauhkan diri. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau bertindak tegas!"
Suara Li Si langsung menenggelamkan suara semua orang. Semua orang serempak diam dan menoleh ke arahnya.
"Heh, Nak, kamu siapa? Hati-hati kalau bicara," ejek salah satu ibu-ibu kaya di antara kerumunan. Namun ia pun tidak berani berkata terlalu jauh. Ia tidak mengenal siapa pemuda itu, tapi yakin bahwa di antara Empat Keluarga Besar tidak ada anggota seperti dia.
Mungkin saja dia kenalan Long Yi, berarti dia anggota kelompok Long juga. Tapi apa gunanya, kelompok Long itu hanya anjing Empat Keluarga Besar, statusnya tidak jauh beda dengan mereka.
"Hmph, aku hanya mengingatkan, ini ruang operasi, bukan tempat main. Kalau mau bicara, keluar saja. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau tidak sopan." Dengan sikap seperti itu, Li Si merasa tak perlu bersikap ramah. Setinggi apa pun statusmu, kalau kelakuanmu seperti itu, tetap saja sampah masyarakat.
Mendengar Li Si bicara sekeras itu, orang-orang yang tadinya masih menahan diri langsung marah dan mulai mencaci maki Li Si. Gaya mereka yang memakai jas mahal bukannya seperti orang sukses, malah lebih mirip ibu-ibu bertengkar di pasar.