Bab Delapan Puluh Satu: Menyelamatkan Situasi
Sekali lagi, setelah mundur dari pertempuran yang dahsyat bak badai, Long Ming memegangi lengan kirinya yang berlubang ditembus peluru. Ia terengah-engah, kepalanya terasa pusing—itu akibat kehilangan terlalu banyak darah.
Dalam pertarungan sengit barusan dengan Dong Lun, Gauter menembak dari tempat persembunyian, empat kali berturut-turut dari posisi yang licik. Itu adalah peluang terbaik, namun Long Ming, berkat naluri bertarungnya, berhasil menghindari tiga tembakan pertama.
Tembakan terakhir diarahkan tepat ke jantungnya. Bidikannya sangat presisi, bahkan saat Long Ming bergerak dengan kecepatan tinggi, ia tetap terkunci sebagai sasaran. Tak ada ruang untuk menghindar, jadi ia hanya bisa meminimalisir kerusakan, memutar tubuhnya agar peluru yang seharusnya menembus jantungnya justru masuk ke lengan kiri.
Gauter menggunakan senapan runduk Barrett berat, terkenal karena kekuatan tembaknya yang luar biasa—sekali tembak, bahkan gajah pun bisa tumbang.
Gauter sangat menyukai senapan runduk penghancur semacam ini. Walaupun berat dan mustahil dibawa berlari, baginya, seorang penembak jitu seharusnya hanya butuh satu peluru untuk menghabisi musuh, membuatnya hancur berkeping-keping.
Malam hari adalah wilayah kekuasaannya. Ia tak perlu bersembunyi dalam gelap, kebanyakan orang takkan pernah menemukannya. Itu keunggulan rasnya.
Terdengar tawa kejam dari tempat gelap di mana Gauter bersembunyi. “Hehe.” Satu tembakan lagi, dan kematian pria itu tinggal menunggu waktu.
Ia mengangkat Barrett dan bergerak ke posisi berikutnya yang sudah direncanakan. Tempat ini sudah terlalu terbuka. Dengan kelincahan Long Ming, mustahil mengenai sasaran dari sini. Setiap kali menembak, ia pasti berpindah tempat.
Tempat ini sudah ia survei sejak pagi. Baik dari segi medan maupun kecepatan angin, ia sudah menentukan sepuluh titik penembakan terbaik. Malam ini, anggota kelompok Naga itu pasti akan beristirahat di sini untuk selamanya.
Di saat yang sama, Long Ming sedikit melonggarkan kewaspadaannya. Setiap peluru yang ditembakkan berasal dari arah berbeda, artinya penembak gelap itu selalu berpindah setelah menembak. Dari selang waktu antar tembakan, ia tahu setiap tembakan berselang tiga menit.
Sudah satu menit berlalu sejak tembakan terakhir. Masih ada dua menit—ini kesempatan terakhir.
Meski bahu kirinya berlubang tembus peluru, Long Ming belum kehilangan harapan. Dua menit untuk mengalahkan Dong Lun, bagi orang lain itu mustahil. Tapi baginya, masih ada peluang.
“Pedang Xuanyuan!” Long Ming mengeluarkan pusaka keluarga mereka.
Inilah pedang Xuanyuan legendaris. Banyak orang mengira itu hanyalah mitos, namun pedang ini benar-benar ada di dunia, diwariskan turun-temurun di keluarga Long.
Memang tidak seajaib cerita rakyat, namun tetap saja sebuah pusaka sakti.
Dengan jurus menutup titik darah, Long Ming menghentikan pendarahan. Ia menggenggam pedang, bersiap untuk pertarungan terakhir!
Sementara itu, Dong Lun di seberang juga meningkatkan kewaspadaannya. Ia tahu ini kesempatan terakhir Long Ming. Asal bertahan dua menit lagi, kemenangan di tangannya.
“Api Burung Hong Membakar Padang!” Dong Lun tidak bodoh, ia meninggalkan pertarungan jarak dekat dan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Api di tangannya berubah menjadi burung phoenix, lalu dilemparkan ke arah Long Ming.
“Nafas Naga Xuanyuan!” Long Ming mengayunkan pedang ke udara. Gelombang energi pedang yang besar muncul begitu saja, langsung menahan burung api yang melayang ke arahnya.
Meski berhasil menahan serangan, percikan api tetap menyebar ke mana-mana. Saat itu musim panas yang kering, rerumputan dan pepohonan kering langsung terbakar, dalam sekejap berubah menjadi lautan api.
“Sialan, apa-apaan ini.” Melihat hutan terbakar, Gauter mengumpat kesal. Apa Dong Lun sebodoh ini? Api sebesar ini malah menyulitkannya, bisa-bisa ia gagal menembak jika target bersembunyi di balik api.
Namun Gauter percaya diri dengan keahliannya. Meski api menutupi setengah medan pandang, ia tetap bisa menemukan titik fatal musuh. Tak seperti penembak jitu lain yang lari jauh jika gagal sekali tembak, ia selalu mencari peluang.
Jadi, itu hanya keluhan semata. Siapa pun pasti memilih jalan yang lebih mudah jika hasilnya sama.
“Membakar gunung, bisa-bisa masuk penjara seumur hidup.” Saat itu, Li Si baru keluar dari rumah keluarga Tang. Ia mencium bau hangus di udara, menoleh, dan melihat hutan di sebelahnya terbakar.
Tampaknya pertempuran belum usai. Masih sempat untuk turun tangan. Li Si memutuskan masuk ke hutan.
Waktu sudah hampir habis... Meski memegang pedang Xuanyuan dan mendapat dukungan kekuatan pedang legendaris itu, Long Ming tetap belum bisa menaklukkan Dong Lun. Sebaliknya, ia malah semakin mandi keringat.
“Kau mati di tanganku pun tak perlu menyesal.” Dong Lun tersenyum di tengah ayunan pedang dan pisau. Udara di sekitarnya panas membara, kekuatan apinya berlipat ganda. Kekalahan baginya hampir mustahil.
Long Ming melompati batang pohon yang terbakar dan tumbang, kembali bertarung sengit dengan Dong Lun.
Namun semakin lama, Long Ming semakin putus asa. Dalam kobaran api, Dong Lun seperti dewa perang, seolah-olah tempat itu adalah panggung utamanya.
Keringat menetes dari kening Long Ming, mengaburkan penglihatannya. Dalam sekejap, Dong Lun melayangkan pisau hampir menebas lehernya. Nafas Long Ming berat, keringat terus mengalir deras hingga menghalangi pandangannya. Dalam pertarungan sengit, ia tak sempat mengelap wajah. Setiap ayunan pisau Dong Lun terlihat samar-samar, bak sabit malaikat maut.
“Dor!” Tiba-tiba, suara senapan runduk terdengar lagi. Dari tempat gelap, Gauter tak lagi memperhatikan Long Ming yang kini dikepung api. Dalam kondisi seperti itu, bahkan dewa pun takkan bisa menghindar dari peluru ini.
Ia mengeluarkan cerutu dari saku celananya, menyalakannya, dan bersiap pulang setelah mengisapnya.
Mendengar suara tembakan keras itu, Long Ming pun memejamkan mata. Kali ini benar-benar mustahil untuk menghindar.
Mati seperti ini pun tak apa... Tak harus lagi memikul beban sebagai pewaris keluarga. Hanya saja, ia merasa sedikit bersalah pada kelompok Naga. Kematian ini pasti membuat ayahnya sangat murka...
Dua detik berlalu, kematian tak kunjung menjemput. Apa tembakannya meleset? Tidak mungkin, pikir Long Ming, lalu ia membuka mata dengan curiga—sebuah pedang panjang berwarna biru es melayang aneh tepat di depannya.
Pedang itu sungguh aneh bentuknya: gagang dan bilahnya menyatu tanpa pelindung, memancarkan hawa dingin membeku.
Pedang inikah yang menahan peluru...?
“Nyaris saja, untung aku datang tepat waktu. Kalau tidak, aku pun takkan bisa menyelamatkanmu.” Suara yang familiar terdengar dari kejauhan.
Long Ming menoleh. Seseorang berjalan keluar dari tengah kobaran api, menyeret seorang lain di tangannya.
Sambil mengusap keringat di dahi, barulah Long Ming mengenali siapa dia.
Ternyata Li Si...