Bab 23 Kita Memiliki Musuh Bersama
Ruan Anning mendengar suara yang dikenalnya, lalu melepaskan kekuatannya.
Ia menoleh dan menatap pria itu dengan kesal. "Muncul di belakangku tanpa suara, kau membuatku kaget saja."
Gu Changqing menampilkan ekspresi wajah yang tampak dirugikan. Jika bukan karena ia sudah berlatih seni bela diri sejak kecil dan memiliki gerakan yang tangkas, kekuatan istrinya tadi mungkin sudah cukup untuk mematahkan tulang rusuk orang biasa. Namun, ia merasa penasaran, bagaimana mungkin istrinya yang terlihat lemah lembut itu memiliki kemampuan bela diri yang begitu hebat?
"Maaf!" Gu Changqing mengesampingkan rasa penasarannya dan meminta maaf dengan tulus. "Ibu memanggilmu untuk kembali makan."
"Baik!" Gu Changqing mengangguk.
Tepat saat itu, pertunjukan seni di panggung baru saja berakhir, dan tepuk tangan meriah membahana dari bawah panggung. Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari tengah kerumunan, diikuti oleh teriakan panik.
Ruan Anning menoleh ke belakang dan melihat orang-orang di bawah panggung sedang berkerumun dengan panik. Tanpa sempat berpikir, tubuhnya sudah bergerak lebih dulu menuju tengah kerumunan.
"Minggir!" Ruan Anning membelah kerumunan.
Ia melihat seorang wanita paruh baya terbaring telentang di tanah dengan wajah pucat, bibir tanpa warna, dan tubuh yang berkeringat dingin. Orang-orang di sekitar mencoba menggendongnya untuk dibawa ke puskesmas.
"Jangan pindahkan dia dulu," seru Ruan Anning lantang.
Ia membisikkan sesuatu kepada Gu Changqing di sampingnya, dan Gu Changqing mengangguk lalu segera melaksanakannya.
He Xiaoxia melihat Ruan Anning maju untuk menghalangi, lalu segera berdiri dan menegurnya. "Pemuda Terpelajar Ruan, untuk apa kau menghalangi di sini? Jika terjadi sesuatu karena keterlambatan penanganan medis terhadap pemimpin ini, apakah kau sanggup menanggung akibatnya?"
Kepala desa pun menatap Ruan Anning dengan serius. "Pemuda Terpelajar Ruan, ini adalah pemimpin yang datang untuk observasi dari kabupaten. Jika ada masalah apa pun, tunggu sampai kami kembali nanti."
Ruan Anning mengernyit. "Dia hanya mengalami hipoglikemia, kita bisa melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu."
Saat itu, Gu Changqing sudah datang membawa segelas air. Ruan Anning mengambilnya dan hendak memberikannya kepada wanita paruh baya itu, namun He Xiaoxia langsung menghalangi di depannya.
He Xiaoxia berkata dengan nada sok benar, "Pemuda Terpelajar Ruan, aku tahu kau ingin mencari perhatian, tapi kau tidak boleh mempermainkan kesehatan seorang pemimpin."
Begitu mendengar hal itu, orang-orang di sekitar mulai menyalahkan Ruan Anning.
"Pemuda Terpelajar Ruan, ini pemimpin dari kabupaten. Jika terjadi sesuatu yang buruk, apakah kau sanggup memikul tanggung jawabnya?"
"Benar! Jika ingin mencari perhatian, kau bisa ikut tampil di atas panggung seperti Rekan He dan yang lainnya!"
"Jika urusan besar perbaikan jalan di desa kita terhambat karenamu, kami tidak akan melepaskanmu."
Emosi para penduduk desa semakin meluap-luap.
Gu Changqing tiba-tiba menatap tajam dengan aura yang mengintimidasi. Ia tidak berbicara, hanya berdiri melindungi Ruan Anning. Ke mana pun pandangannya tertuju, penduduk desa yang sedang menunjuk-nunjuk Ruan Anning seketika terdiam. Aura Gu Changqing benar-benar sangat menakutkan; mereka yang berjumlah banyak pun tidak berani bertindak sembarangan di hadapannya.
Melihat hal itu, He Xiaoxia menggertakkan gigi karena kesal.
Ruan Anning melihat tidak ada yang menghalangi lagi, lalu menyodorkan gelas air ke depan wanita paruh baya itu. Karena wanita itu merasa tubuhnya sangat lemas, Ruan Anning pun membantunya meminum air gula tersebut secara perlahan.
Setelah meminum air gula, gejala pusing dan jantung berdebar pun berangsur mereda. Kekuatannya perlahan pulih, dan ia memberikan senyum terima kasih kepada Ruan Anning.
"Rekan muda, terima kasih! Aku sudah merasa jauh lebih baik."
Dia adalah Zhou Menghua, Sekretaris Komite Partai Kabupaten. Berdasarkan dokumen dari atasan, ia harus mendorong pembangunan perdesaan secara besar-besaran. Untuk menjadi kaya, jalan harus diperbaiki terlebih dahulu. Oleh karena itu, hari ini ia datang bersama beberapa rekan dari kabupaten untuk meninjau kondisi desa-desa di sekitar. Ia berencana memperbaiki jalan raya terlebih dahulu sebelum mengembangkan ekonomi kota kecil.
Ia memang memiliki riwayat hipoglikemia, namun selalu terkontrol dengan baik. Hanya saja, hari ini ia berangkat dengan terburu-buru dan lupa membawa gula. Ditambah lagi, ia sudah berjalan cukup jauh dan belum sempat makan, yang akhirnya memicu serangan hipoglikemia hingga pingsan di bawah panggung. Untungnya, wanita muda ini segera menyelamatkannya.
"Syukurlah Anda baik-baik saja! Jika tidak, beberapa orang pasti akan mengira saya hanya mencari perhatian," ujar Ruan Anning sambil melirik ke arah He Xiaoxia.
Zhou Menghua baru saja mendengar apa yang dikatakan He Xiaoxia dan para penduduk desa kepada Ruan Anning. Wajah Zhou Menghua meredup, dan kewibawaannya sebagai pemimpin seketika terpancar.
"Terima kasih kepada rekan muda ini yang telah memberikan air gula, sehingga gejala saya segera mereda. Coba tanyakan pada diri kalian sendiri, jika salah satu dari kalian tiba-tiba jatuh sakit, apakah kalian berharap ada orang yang maju untuk menyelamatkan, atau membiarkan kalian tergeletak hingga mungkin tidak sempat mendapatkan pertolongan medis?"
"Menolong sesama adalah perbuatan mulia. Jika setiap orang penuh dengan niat buruk dan menyalahkan orang yang berbuat baik, siapa lagi yang akan mau menolong di masa depan?"
Kata-kata Zhou Menghua membuat para penduduk desa yang tadi ikut menyalahkan Ruan Anning menundukkan kepala karena malu. Terutama He Xiaoxia, meskipun Sekretaris Zhou tidak menyebut namanya, ia merasa seolah-olah baru saja ditampar di depan umum. Ia sangat berharap bisa menghilang dari sana saat itu juga.
"Apa yang dikatakan Sekretaris Zhou benar, menolong sesama adalah hal yang baik. Kita harus belajar banyak dari Pemuda Terpelajar Ruan," ucap kepala desa. Ia merasa perasaannya seperti naik <i>roller coaster</i> setelah melihat Ruan Anning benar-benar berhasil menyembuhkan Sekretaris Zhou.
Ia merasa bersyukur hari ini tidak terjadi malapetaka. Di saat yang sama, ia mengumpat dalam hati bahwa He Xiaoxia benar-benar tidak bisa diatur. Sudah lima tahun mengikuti pantat Pemuda Terpelajar Gu, jika pria itu memang tertarik, ia sudah lama menikahinya. Sekarang saat Pemuda Terpelajar Gu sudah memiliki istri, ia malah terus-menerus mencari masalah dengan istri orang. Sepertinya, ia harus mencari waktu untuk memberikan pelajaran ideologi yang mendalam kepada He Xiaoxia.
Ruan Anning merasa semuanya sudah selesai, ia berniat pulang bersama Gu Changqing untuk makan. Namun, Zhou Menghua segera memanggilnya.
"Rekan muda, tunggu sebentar. Bisakah kita bicara sebentar secara pribadi?"
Sebelum Ruan Anning menjawab, kepala desa dan ketua kelompok memberi isyarat mata dengan penuh semangat. Mereka bahkan terlihat hampir ingin menjawab mewakili Ruan Anning.
"Baik!" Ruan Anning mengangguk, lalu mengikuti Zhou Menghua ke luar aula di bawah tatapan iri semua orang.
Setelah Ruan Anning pergi, He Xiaoxia menghampiri Gu Changqing dengan ekspresi lugu dan memelas. "Kakak Gu, aku tidak tahu Pemuda Terpelajar Ruan mengerti ilmu medis, aku juga hanya berniat baik. Seandainya dia tidak berhasil menyembuhkan pemimpin itu, akibatnya..."
Nada bicara He Xiaoxia terdengar sedih, mencoba menarik rasa kasihan dari Gu Changqing.
"Rekan He, apakah kau berniat baik atau tidak, kau sendiri yang tahu. Selain itu, kita tidak terlalu akrab, mulai sekarang tolong panggil aku Rekan Gu."
Setelah mengucapkan itu, Gu Changqing melangkah pergi dengan tegas.
He Xiaoxia terpaku di tempat, seolah tidak percaya kata-kata kejam seperti itu keluar dari mulut Gu Changqing. Dulu ia memanggilnya Kakak Gu, dan pria itu tidak pernah keberatan. Sekarang, pria itu bahkan menjaga jarak dari sebutan yang ia berikan, dengan nada bicara yang dingin dan penuh jarak.
"Kau menyukainya, ya?" Sebuah suara yang bernada mengejek terdengar di telinga He Xiaoxia. Itu adalah Lin Xiaoli, pemuda terpelajar perempuan yang juga ikut mendaftar pertunjukan seni.
He Xiaoxia langsung mengubah ekspresi saat melihat orang itu, matanya penuh dengan kewaspadaan. "Apa urusannya denganmu?"
He Xiaoxia tidak menyukai Lin Xiaoli. Selama latihan beberapa hari ini, wanita itulah yang paling sulit diajak bekerja sama dan sering mengucapkan kata-kata sindiran. Jika saja waktu latihan pertunjukan seni tidak mendesak dan jumlah peserta perempuan sedikit, He Xiaoxia pasti sudah menendangnya keluar dari tim latihan.
"He Xiaoxia, jangan terlalu bermusuhan denganku. Siapa tahu aku bisa membantumu, lagipula kita memiliki musuh yang sama."
Siapa pun yang melihat pasti tahu bahwa He Xiaoxia menyukai Gu Changqing.