Bab Tiga: Prasasti Misterius
Bab 3: Prasasti Misterius
Ye Li dan Pengurus Xu menginap di sebuah penginapan di Ibu Kota Kekaisaran. Sebenarnya, Ye Li sendiri tidak terlalu optimis dengan perjalanannya kali ini, dan menerima penghinaan pun sudah menjadi hal yang ia perkirakan. Namun, ia tidak menyangka bahwa Nan Gong Jing ternyata begitu angkuh.
“Tuan Muda, makan malam sudah siap,” ucap Pengurus Xu saat masuk ke kamar Ye Li, yang tengah menikmati pemandangan dari jendela.
“Kakek Xu, makanlah duluan. Aku mau keluar sebentar,” jawab Ye Li yang memang tak berselera makan.
“Tuan Muda, perlu kuaturkan kereta kuda?” tanya Pengurus Xu.
“Tak usah, aku hanya ingin berjalan-jalan saja.” Ye Li melambaikan tangan, lalu keluar dari kamar dan meninggalkan penginapan.
Ye Li tidak terlalu mengenal Ibu Kota Kekaisaran, jadi ia pun berjalan tanpa tujuan. Tak lama kemudian, ia menemukan dirinya telah keluar dari kota. Hamparan dataran luas terbentang di hadapannya, dan di kejauhan tampak sungai besar yang mengelilingi kota sebagai parit pelindung. Sungai itu bukan sungai mati, melainkan mengalir deras dan lebarnya mencapai ratusan meter. Angin sepoi-sepoi sesekali berhembus, membawa kesejukan yang menenangkan hati.
Ye Li memejamkan mata, menikmati kesejukan itu. Namun, saat ia larut dalam ketenangan, tiba-tiba terdengar suara kecapi yang merdu dan damai, membuat hatinya terasa lapang dan tenteram.
Ia pun melangkah mengikuti arah suara kecapi itu. Tak lama, Ye Li sampai di depan sebidang hutan bambu kecil di luar kota. Suara kecapi itu berasal dari dalam hutan bambu.
Saat itu, suara kecapi telah berhenti. Ye Li masuk ke dalam hutan, dan tampaklah sosok seorang gadis berbaju putih duduk anggun di atas batang bambu hijau. Bambu itu bergoyang pelan, namun gadis itu tetap duduk dengan tenang di ujungnya.
Rambut hitam sebatas pinggangnya melayang lembut diterpa angin. Wajahnya yang putih bersih memancarkan kedamaian, seolah-olah seluruh alam memberikan berkahnya, membuat semua yang memandang turut merasa tenteram.
“Tuan, sungguh selera yang indah,” sapa gadis itu pada Ye Li seraya tersenyum tipis.
“Pin Er, mari kita pergi.” Tiba-tiba, saat Ye Li hendak memberi salam pada gadis itu, sebuah suara terdengar dari dalam hutan bambu.
Mendengar suara itu, gadis berbaju putih berdiri, mengangguk dan tersenyum tipis pada Ye Li, lalu melompat ringan ke batang bambu lain. Dengan beberapa lompatan gesit, ia pun menghilang dari pandangan Ye Li. Setelah beberapa saat, Ye Li menghela napas perlahan lalu berbalik kembali ke penginapan.
Saat Ye Li tiba di penginapan, langit sudah mulai gelap. Pengurus Xu telah menyiapkan makan malam yang sangat mewah untuknya, karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun, Ye Li hanya makan seadanya lalu kembali ke kamarnya. Ia tahu, setelah mengucapkan kata-kata tegas di hadapan Nan Gong Jing, ia harus berusaha lebih keras lagi. Dengan kondisi tubuhnya sekarang, mustahil bisa menyusul Nan Gong Jing dalam dua tahun bila tak ada keajaiban. Jika saja kecepatan latihannya seperti dahulu, mungkin masih ada harapan.
Ye Li menutup pintu, duduk bersila di atas ranjang, dan mulai bermeditasi. Energi spiritual di dalam kamar berputar cepat, berkumpul menuju tubuhnya lalu masuk ke dalam dirinya. Kali ini, Ye Li jauh lebih berhati-hati dari sebelumnya. Ia perlahan menuntun energi spiritual itu ke dantiannya. Namun, saat energi itu memasuki dantian, Ye Li terkejut menemukan ada sesuatu di dalam sana.
Dengan teliti, Ye Li menemukan benda itu adalah sebuah prasasti batu besar, sama persis dengan yang ia lihat semalam, bahkan tulisan kunonya pun identik! Lebih tepatnya, di dalam tubuhnya itu adalah jiwa prasasti! Bagaimana mungkin prasasti itu bisa masuk ke dalam dantian-nya? Hal ini membuat Ye Li merasa cemas, namun setelah mencoba berbagai cara dan tak menemukan kejanggalan lain, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya lagi, lalu kembali bermeditasi. Energi spiritual di sekitarnya mulai kembali berputar.
Ye Li menuntun energi spiritual ke dantian, lalu dengan hati-hati menggerakkan energi spiritual lamanya untuk memadatkan energi baru tersebut.
Namun, saat energi itu hendak dipadatkan menjadi kekuatan spiritual, terdengar suara samar dari dalam dantian Ye Li.
“Huft!” Ye Li menghembuskan napas lega, karena ia tahu itu pertanda energi akan buyar.
“Aneh?” Namun, saat ia mengira energi itu akan menghilang, ternyata energi tersebut tidak lenyap. Ye Li segera memeriksa dantian-nya dan mendapati jumlah kekuatan spiritual di dalamnya justru bertambah! Ia juga melihat energi spiritual itu memadat dengan cepat tanpa perlu ia kendalikan!
Keanehan ini membuat Ye Li terkejut. Setelah diamati dengan saksama, ia akhirnya menyadari bahwa jiwa prasasti di dantian-nya bergetar pelan, dan getaran itu membuat energi spiritual terkondensasi dengan sangat cepat, lalu berkumpul di sisi prasasti.
Ye Li mencoba lagi menarik energi spiritual ke dalam tubuhnya. Setiap kali energi itu masuk, jiwa prasasti langsung bergetar dan membantu mengonsolidasikannya.
Penemuan ini membuat Ye Li sangat terkejut sekaligus gembira. Ia mengamati jiwa prasasti itu lama, dan selain membantu memadatkan energi, tidak ada efek berbahaya lain yang ia rasakan. Barulah ia benar-benar merasa tenang.
“Kalau begitu, mari kita buktikan apakah aku benar-benar bisa berlatih lagi,” gumam Ye Li dengan senyum bahagia yang jarang terukir di wajahnya.
Setelah menemukan rahasia ini, Ye Li segera duduk bersila dan menyerap energi spiritual di sekelilingnya. Kecepatannya masih sama cepatnya, bahkan lebih cepat dari masa kejayaannya dulu. Walaupun selama beberapa tahun ini ia tak mampu memadatkan energi spiritual, Ye Li tak pernah berhenti menyerapnya. Ia selalu mencoba, meski tahu hasilnya akan gagal, namun ia tak pernah menyerah. Karena itu, kecepatan serapannya makin meningkat.
Energi di sekeliling Ye Li seperti besi yang ditarik magnet, masuk deras ke tubuhnya hingga udara di sekitarnya pun ikut berputar!
Begitu memasuki tubuhnya, energi itu langsung terkondensasi menjadi kekuatan spiritual berkat getaran jiwa prasasti.
Proses itu berulang-ulang, dan Ye Li menikmatinya tanpa merasa lelah.
Saat fajar menyingsing, Ye Li akhirnya menghentikan latihannya.
“Huft!” Ia menghembuskan napas dalam-dalam. Walaupun berlatih semalaman, ia sama sekali tidak merasa letih, bahkan tubuh dan pikirannya terasa lebih segar.
Setelah memeriksa kekuatan spiritual di dalam dirinya berkali-kali, Ye Li yakin bahwa ia hampir menembus batas!
“Dengan kecepatan seperti ini, beberapa hari lagi aku pasti bisa menembus tahap berikutnya!” Ye Li bergumam gembira. “Jiwa prasasti itu sungguh menakjubkan. Entah dari mana asal prasasti ini. Tapi benda ini tak boleh sampai diketahui orang lain. Untungnya, ia hanya berupa jiwa dan tersembunyi di dalam tubuhku, sehingga aku pun tak perlu repot-repot lagi.”
Ye Li tahu, jiwa prasasti itu jelas bukan benda sembarangan. Malam itu saja sudah cukup membuktikan betapa misteriusnya benda tersebut. Dan kini, benda itu sangat bermanfaat baginya—mulai hari ini, akhirnya ia bisa berlatih lagi!