Bab 1: Malam Itu?

Não se vê a lâmpada eterna há três séculos Bêbado tinta branca 2984kata 2026-08-03 08:57:17

Bulan beku yang sunyi menyelimuti malam. Di atas ranjang berukir, sosok yang meringkuk gemetar halus dalam bayang-bayang. Qiongie Florez—atau kini dikenal sebagai Leng Feifan—tanpa sadar mencengkeram selimut sutra, buku-buku jarinya memutih laksana kertas, sementara di telinganya terus terngiang makian tajam para tetua keluarga.

Kenangan tiga tahun silam di ruang musyawarah menggerogoti hatinya bak ular berbisa—jari-jari yang layu mencolok bahunya yang masih muda, suara serak dan penuh penghinaan membentak, “Anak kecil berambut kuning, kau kira bisa mengendalikan kekuasaan?”

Setiap hari, ia melangkah dengan hati-hati, seolah menapaki es yang tipis. Di antara pelajaran di akademi dan urusan remeh keluarga, sepulangnya ke rumah, ia masih harus menyesuaikan diri dengan perubahan emosi banyak orang. Saat menundukkan kepala dan merapatkan alis, punggungnya tetap tegak lurus, bak bambu muda yang menggigil dihembus angin dingin.

Sedikit saja ia melakukan kesalahan, ia akan segera menunduk meminta maaf; bulu matanya yang panjang memantulkan bayang-bayang gelisah di bawah mata. Jika menghadapi ketidakpuasan, ia mencengkeram rok dan mundur setengah langkah, ujung jarinya mencubit telapak tangan hingga meninggalkan bekas sabit berdarah, suara gemetar namun tetap berusaha menganalisis masalah yang ada. Meskipun hatinya penuh kepiluan, ia hanya mampu menggigit bibir bawah, membiarkan air mata menggenang, sementara bekas luka berbentuk sabit di telapak tangan menjadi satu-satunya perlawanan tanpa suara.

Setiap kali semua orang seakan kehilangan akal, ia serasa terjatuh ke dasar jurang es. Wajahnya pucat membeku, dan saat ujung jarinya menyentuh tongkat sihir di pinggangnya, lapisan es tipis mulai merembes. Lambang keluarga yang diukir tangan ayahnya di permukaan tongkat tiba-tiba terasa panas membakar, seakan membakar darah yang mengalir dalam dirinya.

Pandangan matanya menatap lambang keluarga di ujung ranjang, dihiasi dua belas bintang, di mana salah satu bintangnya berkelip redup, seolah membawa firasat buruk.

Di usia semuda itu, ia sudah mulai memikirkan makna-makna kehidupan yang mendalam. Ketika usulannya ditolak, ia meremas rok, seluruh tubuh menegang, bibirnya terkatup lurus, dan matanya memancarkan ketidakrelaan. Saat tindakannya dihalangi, ia akan berlari pergi, kepangan rambutnya berantakan, masuk ke loteng dan terduduk di lantai, kedua tangan menutupi wajah, isak tertahan merembes di celah jemari.

Setiap kali ia menggunakan ilmu terlarang, harga yang harus dibayar perlahan tampak—senyum hangat ayahnya semakin samar, dan tongkat sihir di tangannya mulai mewarnai matanya dengan warna ungu yang penuh pertanda.

Leng Feifan, atau Qiongie Florez, adalah pewaris keluarga. Ejekan dunia luar selalu mengikutinya. Setiap kali mendengar kata-kata pedas, ia mencengkeram rok hingga buku-bukunya memutih, bibirnya terkatup kaku, bulu matanya bergetar hebat, sekuat tenaga menahan air mata agar tak jatuh.

Berkali-kali di tengah malam, ia meringkuk di dalam lemari, suara tangis terpendam memenuhi ruang sempit itu. Dalam cermin lemari, sosoknya perlahan menyerupai potret kepala keluarga di dinding yang memegang tongkat sihir patah.

Pada tanggal dua puluh tujuh April, awan hitam menutupi kota, hujan lebat hampir turun. Ia berdiri di hadapan ranjang ayahnya, menatap wajah tak bernyawa itu. Lambang keluarga di kepala ranjang berpendar dalam remang, salah satu bintangnya tampak lebih suram dari biasanya.

Kuku jarinya menancap di telapak tangan, sorot matanya berubah tegas, punggungnya ditegakkan dan ia melangkah keluar kamar. Di lorong panjang, tiba-tiba sebuah lukisan jatuh menimbulkan debu; dalam lukisan itu, tongkat sihir kepala keluarga tampak patah.

Ketika ia masuk ke ruang baca, pintu kayu ek menutup dengan dentuman keras.

Di dalam bayang-bayang, potret para kepala keluarga terdahulu tampak samar, tatapan mereka terasa nyata menekan punggungnya, seolah sedang menguji sang pewaris muda.

Pupil matanya menyusut, tangan kanan menggenggam tongkat es, tangan kiri mengepal erat. Ia menahan rasa panik, alisnya berkerut kuat, rahangnya mengeras, wajahnya pucat namun tetap mengangkat tangan memanggil formasi sihir keluarga.

Begitu pola sihir bintang terbentang, garis emas di lehernya merayap seperti ular, kulitnya terbelah meninggalkan jejak darah tipis. Yang lebih menakutkan, kenangan hangat bersama ayahnya perlahan menghilang, bagai pasir di sela jari.

Di antara tiga pola yang berputar, mantra emas gelap muncul—ilmu terlarang yang menggerogoti nyawa tiap kali digunakan.

Tiba-tiba, lambang keluarga bersinar terang, dua belas bintang serentak menyala, kekuatan leluhur mengalir deras, hawa dingin menusuk tulang menyelimuti tubuhnya.

“Berani-beraninya menahan dengan ilmu terlarang, tak takut binasa?” Teriakan Mandy yang menggema bersama suara Juti yang melengking lirih terdengar dari tangga.

Hujan malam tujuh tahun lalu di perpustakaan melintas di benak Qiongie, peringatan Mandy dan teriakannya kini tumpang tindih. Kilat membelah langit, menyoroti wajah Mandy yang terdistorsi—penyihir tingkat menengah yang biasanya angkuh, kini matanya merah menyala, taring memanjang, urat di dahi menonjol, aura sihir mengoyak gaunnya.

“Tiga tahun kepala keluarga koma, kau kira kursi itu milikmu selamanya?” Teriakan Mandy membuat lampu kristal bergoyang.

Jari Qiongie membelai ukiran tongkat bertuliskan ajaran keluarga: “Bintang boleh jatuh, punggung tak boleh tunduk.” Mantra beredar, matanya berpendar cahaya ungu aneh.

“Tiga tahun lalu, saat kalian menghancurkan mahkotaku—”

Qiongie melangkah di atas pecahan lampu kristal, es menjalar di lantai bak duri. Bayangan Mandy di dinding berubah menjadi monster raksasa, namun api biru di ujung tongkat menancap di tenggorokannya.

Garis emas di tongkat sihir melahap darah dengan rakus. Qiongie membungkuk dan berbisik, “Tongkat es ini tidak meminum darah musuh... melainkan darah pengkhianat.”

Sulur ungu gelap menembus lantai; ajaran ayahnya tentang belas kasih dalam kekuasaan terngiang di telinga. Tapi raut kesakitan Mandy membangkitkan segala kepiluan selama ini. Ketika sulur menembus pakaiannya, Mandy merintih pilu. Qiongie menggenggam lebih erat, memandangi punggung lawannya yang melengkung, matanya berkilat kegilaan, “Sudah kukatakan, selama ayah koma, tak seorang pun boleh menantang wewenang kepala keluarga!”

Menjelang ajal, Mandy malah tertawa liar, “Kau kira hanya kau yang menahan derita? Malam kepala keluarga koma, tiga tahun lalu...”

Ucapannya terputus, meninggalkan rahasia yang menggantung di udara.

Malam itu? Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Pupil Qiongie menyusut, ia mengecap rasa besi di mulut, jari-jarinya terus mengusap tongkat sihir, gelisah tak terelakkan.

Namun tempaan hidup dan mati di masa lalu membuat pikirannya tetap jernih, bagai pedang dingin yang membelah es, langsung mengendalikan diri.

Giginya mengatup keras, rahang mengeras, “Tak boleh gagal di sini.”

Segera ia mengayunkan tongkat, simbol di ujung lengan menyala laksana bintang, sihir mengalir deras membawa aroma belerang, dalam sekejap ia telah berdiri di depan Juti.

Tangan putihnya menonjolkan urat-urat, mengunci leher lawan bak cakar elang, alis berkerut, mata berkilat cemas—apakah rahasia itu benar diketahui Juti?

Juti tercekik, tubuhnya limbung, wajah membiru, matanya hampir pecah, namun walau napasnya nyaris putus, tak sedikit pun ia gentar.

Qiongie menampilkan senyum tipis penuh dingin, sudut matanya terangkat, menampakkan kekejaman, “Kau memang keras kepala, sayang, aku tak punya waktu.”

Suaranya sedingin embun beku, setiap kata laksana sembilu.

Juti mendengus mencemooh, sudut bibir mencong penuh hina, namun ujung jarinya tanpa sadar mengelus tanda jaring laba-laba samar di tulang selangka, seolah menyentuh sesuatu yang terlarang.

Sayap hidung Qiongie bergetar, matanya berkilat tajam, namun ia menahan diri, menunduk menatap lawan dengan leher sedikit maju, tatapan tajamnya menelanjangi ketakutan di mata Juti, berusaha mencari celah di balik sorot mata yang menghindar.

Tanpa sengaja, Qiongie melirik jam pasir tembaga di dinding, bulu matanya bergetar cepat, jemari rampingnya di dalam lengan baju bergerak menekuk dan meluruskan.

Dalam hati ia menghitung waktu, setiap detik terasa seperti palu menghantam dadanya.

Ia menggigit bibir bawah, dan ketika suara tetesan terakhir berhenti, urat lehernya menonjol, tangan putihnya menekan keras, tekanan magis menghempas, menundukkan Juti ke tanah, rambutnya berantakan menutupi dahi, ia hanya ingin memaksa kebenaran keluar.

Juti terengah-engah, tetap menggigit rahang. Urat di pelipis Qiongie menonjol, tenaganya makin berat, seolah hendak menggiling lawan ke liang kubur, matanya merah darah, pikirannya hanya terpaku pada satu hal, “Hari ini, kau harus bicara!”

Juti tak tahan, ia mengerang, “Aku sungguh tak tahu apa-apa, Pewaris!”

Nada panik di suara lawan membuat pupil Qiongie menyempit, sudut bibirnya melengkung tipis, secercah kepuasan terlintas di hati.

Namun saat matanya menangkap kegelisahan itu berubah menjadi tajam, ia segera menegaskan wajah dingin, alisnya setajam pisau. Ia berseru pelan, simbol biru di pakaian memancarkan cahaya biru kehijauan, ular perak muncul, sisiknya memantulkan kilau biru misterius.

“Jika tak mau bicara, kau tak lagi berguna.”

Saat ia berbalik, helai bajunya berkibar, punggungnya lurus, ular perak di belakang tiba-tiba berubah menjadi ular raksasa, suara daging robek terdengar seperti kain disobek, sekali telan, tubuh Juti terputus di pinggang dan langsung ditelan.

Potongan tubuh yang jatuh ke tanah berubah menjadi kepingan kristal, memantulkan bayangan-bayangan masa kecil Qiongie yang dikorbankan, sehelai rambut emas jatuh di tengah totem, bagai pemberat terakhir pada timbangan takdir.

Qiongie memandang kejadian berdarah itu, bulu matanya bergetar halus, wajahnya tetap tanpa ekspresi, hanya hasrat untuk menguak misteri yang semakin membara.

Tak lama, tubuh ular mengecil, melingkar naik ke totem biru di pakaian Qiongie. Sekejap cahaya berkilat, lalu lenyap tanpa jejak.

Saat itu, guratan biru di lehernya perlahan memudar, motif biru yang memudar itu tampak seperti makhluk hidup yang merintik, di bawah kulitnya pembuluh darah membentuk pola jaring laba-laba, keringat dingin mengalir di sepanjang punggung.

Tak lama kemudian, seorang pemuka agama berjas putih bergegas menuju pintu kamar Qiongie. Tepi lambang di baju zirah penjaga perlahan mengeluarkan cairan biru nila, membentuk kontras aneh dengan motif totem Qiongie yang memudar.

“Nona belum kembali, mohon datang lain waktu.”