Bab 2 / Jika Risau Melanda, Pergilah Sendiri ke Tengah Bara

Não se vê a lâmpada eterna há três séculos Bêbado tinta branca 2908kata 2026-08-03 08:57:18

Langit mendung menekan kota bak pegunungan bertumpuk, sementara senja di luar jendela seakan tumpah seperti magma besi hitam, mengalir berliku di sepanjang jendela kaca berukir, membasahi kandil emas di ruang kerja Keoni menjadi totem muram berwarna abu kebiruan.

Wajah penjaga itu sekeras besi mentah yang ditempa, alisnya berkerut erat, jakun naik turun di bawah cahaya temaram seperti bongkahan timah yang tergantung, keringat dingin di pelipisnya memantulkan kilau dingin. Kebakaran yang datang tiba-tiba ini sedang membakar habis jalan karier yang susah payah ia bangun.

Tangan yang memaksa dirinya menyeka keringat itu bergetar pelan, suaranya serak seperti gesekan logam. “Baik, izinkan saya melapor lagi nanti.”

Belum selesai ia bicara, Keoni sudah tiba di depan pintu. Seluruh ototnya seketika menegang bagai busur yang ditarik penuh, seakan detik berikutnya ia akan tertembus.

Saat Keoni berbicara, pupil pria itu menyusut tajam seperti binatang yang terkejut. Di antara bibir yang gemetar, pikirannya hanya dipenuhi cara bertahan hidup di hadapan majikan yang berubah-ubah itu.

Lehernya yang kaku menoleh, dan pandangannya pada Keoni terjalin antara takut dan putus asa. Dengan suara berat ia berkata, “Baru saja terjadi sesuatu yang mendadak, tampaknya bukan hal biasa.”

Alis Keoni terangkat tipis, lengkung di ujung bibirnya seperti senyum namun juga bukan. Jemarinya tanpa sadar mengusap lambang sihir yang berpendar samar di pinggangnya.

Lambang itu tiba-tiba memercikkan cahaya biru menyilaukan, seperti makhluk petir yang tersentak bangun. Pada saat yang sama, layar komputer di hadapannya mendadak menyala. Di layar elektronik itu, deretan rune sihir seperti ular yang terbangun, menggeliat dan membuat bayang-bayang di mata Keoni semakin pekat.

Di kejauhan, server sihir bergemuruh dan bergetar. Dari kedalaman awan muncul susunan sihir kuno, beresonansi dengan rune elektronik dan memunculkan gelombang aneh, menyelimuti seluruh ruangan dalam cahaya yang berpadu antara nyata dan maya.

Dalam hati ia bertanya-tanya, sebesar apa sebenarnya kejadian ini sampai-sampai pengurus yang biasanya tak tergoyahkan sekalipun dapat kehilangan ketenangan sedemikian rupa?

“Ada urusan sepenting apa sampai pengurus harus datang sendiri?”

Selesai berkata, ia melirik orang itu. Ekor matanya menyapu wajah pria yang pucat pasi itu, sementara ujung gaunnya berayun ringan. Jari-jari panjangnya mengetuk sandaran kursi dengan irama yang menyerupai tabuh maut; di balik langkah anggunnya tersimpan kewaspadaan dan niat membunuh terhadap krisis yang belum dikenal.

Pria itu segera menyingkir ke samping, langkahnya limbung dan hampir menabrak rak bunga di dekatnya. Rautnya gelisah, kedua tangan terus menggosok ujung pakaian seakan itu tali penyelamat.

“Keluarga Babit membakar kediaman, api berkobar hebat dan sulit dipadamkan. Saya datang memohon pertolongan Nona.”

Suara itu bergetar, nyaris seperti isak tangis. Wajahnya mengerut karena takut, seolah ia sudah melihat dirinya jatuh ke jurang tak berujung.

Keoni mendengus pelan, gigi gerahamnya menggigit kuat daging lunak di satu sisi mulut hingga pipinya menonjol.

Angin kencang di luar membawa abu, menghantam kaca seperti anjing terlantar yang menerjang putus asa, menimbulkan suara lirih yang memilukan, sama seperti amarah dahsyat yang bergolak di dalam dirinya.

Ia tahu keluarga Babit tak mungkin bertindak tanpa alasan; di baliknya pasti ada arus tersembunyi yang menyimpan konspirasi lebih besar.

Setelah duduk di kursi berukir, ia bersandar malas pada sandaran, ujung jarinya mengetuk sandaran tangan dengan ritme teratur. Saat ia mengangkat mata, tatapannya pada lawan bicara mengandung cemoohan yang menyembunyikan bilah tajam; sebenarnya ia sedang menguji benar tidaknya ucapan pria itu.

Ia tak berkata sepatah pun, tetapi melihat urat di dahi pria itu menonjol seperti cacing tanah dan tubuhnya tak henti bergetar kecil. Hatinya sendiri juga terguncang.

Sesaat kemudian, ia menegakkan punggung. Ada sekelebat kelam melintas di matanya, seolah ia telah mengambil keputusan. Ia pun mengangkat kepala dan melanjutkan, “Aku sudah meminta bantuan kepada Dewan Tetua, tetapi mereka juga belum punya jalan.”

Saat mengucapkan kalimat itu, bibirnya mengatup tipis, rahangnya menegang bagai besi. Hatinya penuh dengan rasa tak rela dan ketidakberdayaan, namun ia tetap harus memaksa diri menjaga ketenangan terakhir yang tersisa.

Pada saat itu, cangkir kopi logam cair di tangannya tiba-tiba terdistorsi dan berubah bentuk. Tepi mulut cangkir mengeras menjadi sudut-sudut tajam, memantulkan wajahnya yang tak menentu.

Usai berbicara, Keoni mengayunkan tangan putihnya dengan ringan. Sepasang api biru gelap melintas seperti kilat yang merobek kehampaan, dan Alice, kepala Dewan Tetua, segera muncul di tempat.

Ia tetap tenang. Ia mengambil kopi di meja, meniup uap hangat yang mengepul di bibir cangkir, lalu menyeruput sedikit, berusaha menenangkan kegelisahan di hati. Namun ruas jarinya yang memegang cangkir justru memutih karena terlalu kuat menggenggam, seperti dahan kering di tengah musim dingin.

Pada awalnya, Alice tampak bingung. Setelah mengenali orang yang berdiri di sampingnya, pupil matanya menyusut tajam seperti elang, dan sudut bibirnya tanpa sadar melengkung ke bawah. Dalam hati ia mengeluh pahit, tahu bahwa urusan ini amat rumit, seperti simpul mati yang tak terurai.

Ia menarik napas panjang, lehernya memerah tipis, lalu menjelaskan, “Nona, perkara ini masih dalam penanganan. Perlu menunggu sebentar baru akan ada hasil.”

Di permukaan ia tampak tenang, tetapi kedua tangannya saling menggenggam erat di belakang punggung, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak, sementara pikirannya sibuk mencari cara menyelesaikan masalah ini dengan baik agar tidak mengecewakan kepercayaan Keoni.

Melihat Keoni diam, Alice memaksakan senyum kaku lalu berkata lagi, “Sebaiknya kita tunggu perubahan keadaan dulu.”

Kalimat itu bukan hanya untuk Keoni, tetapi juga untuk menenangkan dirinya sendiri yang masih menggantung cemas.

“Kalau begitu, silakan duduk sesukamu.”

Selesai berkata, Keoni membuka komputer. Rune sihir di layar bersinar saling memantul dengan kilatan api yang naik-turun di luar jendela, hingga pandangannya samar, seolah ia berada di dalam dunia ilusi yang ganjil.

Ia menatap layar dengan saksama, padahal sebenarnya sedang menyembunyikan kegelisahan dalam hatinya, seperti burung unta yang menenggelamkan kepala ke dalam pasir.

Alice tak berani banyak bicara. Ia berjalan ke area istirahat, punggungnya tegak lurus seperti tombak, lalu duduk di sofa. Jemarinya tanpa sadar meremas ujung rok sambil menghitung berbagai kemungkinan langkah penanganan; otaknya bekerja secepat roda gigi yang presisi.

Pria itu juga ikut duduk. Karena perbedaan status, ia sengaja memilih tempat yang agak jauh, lalu duduk kaku di tepi sofa, kedua tangan menggenggam lutut erat-erat, seperti duduk di atas duri, takut setiap gerak-geriknya menjadi celah bagi orang lain untuk menyerang.

Tingkah itu menarik tatapan Alice. Ia sedikit mengangkat alis, sudut bibirnya membentuk lengkung meremehkan. Lalu ia memanggil komputer dari kejauhan dan mengetik keras-keras di papan tombol untuk mengurus pekerjaan, matanya memancarkan sedikit rasa jijik pada pria itu dan kekhawatiran terhadap keadaan, seolah ia hanyalah bidak tak berguna dalam krisis ini.

Keluarga Babit memang ahli dalam sihir api. Api kali ini begitu sulit dikendalikan karena sebagian besar penyihir api dari Keluarga Flores telah gugur, hingga tak ada lagi orang yang bisa digunakan.

Alis Alice berkerut saat ia membolak-balik berkas. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya. Rune sihir di layar komputer tiba-tiba berkedip hebat, membuat keringat dingin di pelipisnya berkilau aneh kebiruan, seperti tanda kutukan.

Sembari mendesak para tetua di kelompok rapat agar meminimalkan kerugian, ia juga terus menatap lidah api yang kian menjulang di luar jendela. Kegelisahannya makin pekat, terasa seolah ditindih batu besar hingga sulit bernapas. Ia tak tahu kapan krisis ini akan reda, seakan dirinya terperangkap dalam mimpi buruk tanpa ujung.

Saat itu, ponsel di tangan pria itu tiba-tiba memproyeksikan tampilan holografis. Gambar api yang berdenyut di dalamnya tersinkron langsung dengan kobaran yang terlihat di luar, dan cahaya api dari dunia maya serta dunia nyata berpadu di dalam ruangan, menambah ketegangan.

Di ruangan itu hanya terdengar bunyi ketukan papan tombol dari Keoni dan Alice. Pria itu duduk termangu di sisi, bosan tak menentu, alisnya mengunci rapat, ia menggigit kuku sambil dipenuhi kekhawatiran pada api dan rasa takut akan keselamatannya sendiri, seperti burung yang terkejut oleh busur.

Maka ia mengeluarkan ponsel untuk memeriksa keadaan api. Setiap kali menyegarkan halaman, ia menelan ludah dengan keras; jantungnya juga ikut melonjak, seakan detik berikutnya akan melompat keluar dari dada.

Api makin berkobar. Lebih dari seratus penyihir berusaha keras menahan kobaran di luar area kebakaran.

Pria itu mencuri pandang ke arah Alice, lalu menatap Keoni yang sibuk dengan pekerjaannya. Jakunnya bergerak susah payah, dan dengan perasaan tak menentu ia mengetik di ponsel: “Api masih sulit dikendalikan. Jika merembet ke wilayah keluarga lain, bagaimana?”

Begitu pesan terkirim, jemari Keoni tampak berhenti sejenak. Rune sihir di layar komputer tiba-tiba berubah menjadi ular api yang mengerikan. Ia seketika menahan napas, wajahnya pucat, jantungnya langsung naik ke tenggorokan, seolah lehernya dicekik tangan tak kasatmata, takut dirinya menyinggung penguasa itu.

Balasan datang: “Mana mungkin tak bisa dikendalikan? Sekalipun merembet ke keluarga lain, Nona pasti sudah punya keputusan. Karena sudah meminta bantuan Dewan Tetua, tunggulah saja.”

Pria itu tak mau menyerah. Ia mengirim lagi: “Sekarang saya berada di ruang kerja Nona, tetapi ia hanya menyerahkan urusan ini kepada kepala tetua. Apakah ini berarti perkara ini tak layak dikhawatirkan?”

Setelah mengirim pesan itu, wajahnya langsung berubah. Tangannya gemetar saat menyelipkan ponsel ke saku, anggota tubuhnya terasa dingin seolah jatuh ke dalam es. Ia tak tahu hukuman macam apa yang menantinya.

Baru saja pesan itu masuk ke baris terkirim, suara dingin Keoni sudah terdengar di telinganya. “Kalau begitu cemas sekali, lebih baik pergi langsung ke lokasi kebakaran. Satu orang tambahan tenaga mungkin bisa menambah satu peluang.”

Selesai bicara, pria itu merasa cahaya di depan matanya berputar. Kakinya lemas, dan ia jatuh terduduk ke lantai. Wajahnya sepucat kertas, pandangannya kosong, sementara hatinya penuh penyesalan dan ketakutan, seolah dunia telah runtuh.

Sementara itu, sahabat yang sedang merangkai kata-kata di ponselnya menengadah dan mendadak melihat pria itu muncul di hadapannya dengan ponsel di tangan, wajahnya dipenuhi keterkejutan. Keduanya saling memandang, sama-sama bingung dan tak berdaya, sementara keringat dingin di dahi mereka terus mengalir ke pipi seperti butiran mutiara yang putus talinya.