Bab 038: Dalam Kesulitan
Saat Batu menemukan Bunga Batu, gadis itu sedang dikepung oleh beberapa pria dan tak bisa bergerak. Bunga Batu terus-menerus memohon belas kasihan, berkata, "Tolonglah, lepaskan aku. Aku mohon, lepaskan aku."
Pria-pria yang mengepungnya berjumlah lima orang, yang memimpin bernama Gendut Besar, satu-satunya anak keluarga Hartawan Wang di kota kecil itu. Anak ini tak pernah belajar, hanya mengandalkan kekayaan keluarganya untuk menindas laki-laki dan perempuan, melakukan segala kejahatan, hingga terkenal kejam di seluruh penjuru desa.
Di dalam dirinya, tak ada selain niat menyakiti orang lain.
Setidaknya sudah lima gadis di daerah itu yang menjadi korban kebiadabannya. Keluarga korban, karena takut kekuatan keluarga Wang, hanya bisa marah dalam diam. Warga lain pun, karena takut pada keluarga itu, enggan ikut campur, lebih baik menghindari masalah.
Gendut Besar berjalan mondar-mandir di depan Bunga Batu, kedua tangannya menggosok-gosok, matanya memandang gadis itu seperti melihat makanan di mangkuknya. "Cantik, jangan melawan. Ikut saja dengan kakak, kakak akan menyayangimu."
Bunga Batu sudah ketakutan hingga wajahnya pucat pasi, tubuhnya meringkuk seperti anak ayam menanti disembelih. "Tolonglah, lepaskan aku," rintihnya.
Semakin lemah dan memelas Bunga Batu, Gendut Besar semakin girang. "Hahaha, kalau aku melepaskanmu, siapa yang akan melayaniku? Hahaha!"
"Turuti saja keinginanku, nanti kau akan hidup mewah, makan enak, minum lezat, dan mendapat kemuliaan yang tak terhingga—apa yang kurang?"
"Benar, Kak Gendut punya banyak uang, satu-satunya anak di keluarga, kau bakal bahagia, dasar tak tahu diri," sahut seorang anak buah.
"Diam kau!" bentak Gendut Besar, menatap tajam anak buah yang bicara. "Kau menakuti kekasihku, awas nanti aku makan hidup-hidup!"
Anak buah yang tadi bicara langsung ketakutan dan menjauh.
Setelah selesai memarahi anak buahnya, Gendut Besar kembali bersikap manis. "Ayo, manisku, sini, kakak akan menyayangimu."
Ia mengulurkan tangan hendak mencengkeram bahu Bunga Batu, namun gadis itu berusaha menghindar, hingga sepotong kain di bahunya tersingkap, menampakkan lengan putih mulus.
Melihat itu, Gendut Besar menelan ludah dengan rakus. "Hahaha, aku suka!"
Ia langsung menerkam seperti anjing lapar, tubuhnya yang berat dua ratus jin itu mengarah ke tubuh Bunga Batu.
Bunga Batu begitu ketakutan hingga nyawanya serasa melayang, secara refleks ia menyingkir ke bawah, berhasil menghindari serangan Gendut Besar.
"Jahanam, lepaskan adikku!"
Saat bahaya nyaris menimpa, Batu tiba tepat waktu. Melihat adiknya disakiti, ia tanpa pikir panjang melemparkan bakpao yang dibawanya ke arah Gendut Besar, menggunakannya sebagai senjata rahasia.
Senjata itu meluncur tiba-tiba, tapi Gendut Besar sigap menghindar dengan berguling ke samping, selamat dari serangan Batu.
"Kakak, tolong aku!" Teriakan Bunga Batu berubah penuh harap saat melihat Batu. Selama ini, mereka sudah sering menghadapi penjahat dan bencana. Setiap kali kakaknya muncul, semua bahaya selalu sirna.
Bunga Batu percaya, kali ini pun takkan berbeda.
Begitu berhasil menyerang, Batu langsung melesat ke depan Bunga Batu, menarik tangan adiknya dan mengajaknya lari.
Ia harus membawa adiknya pergi sebelum Gendut Besar sadar dan mengejar. Kalau terlambat, mereka tak akan punya kesempatan.
Baru saja keluar dari kepungan, Gendut Besar sadar telah dikelabui. Ia melempar bakpao yang tadi ditangkap, lalu berteriak marah, "Kejar mereka!"
Beberapa anak buah Gendut Besar segera bergegas mengejar kakak beradik itu. Jika mereka tak berusaha sekarang, nanti usai urusan, mereka sendiri yang bakal dihukum.
Saat ini, tak ada pilihan selain berlari sekencang-kencangnya, meski hanya sekadar memenuhi kewajiban.
Tubuh Gendut Besar yang berat dua ratus jin berlari di belakang, sambil berteriak, "Cepat! Tangkap gadis itu, siapa yang berhasil akan kuberi sepuluh tael perak!"
Orang bilang, hadiah besar mendatangkan keberanian besar. Mendengar iming-iming sepuluh tael perak, anak buahnya pun berlari seperti kesetanan, mengerahkan seluruh tenaga.
Sepuluh tael perak, siapa saja yang berhasil menangkap gadis itu akan mendapatkannya. Dengan uang sebanyak itu, mereka bisa bersenang-senang berhari-hari di rumah hiburan kota.
Kesempatan emas seperti ini, di mana lagi bisa mereka dapatkan?
Semua berlari seperti orang kesurupan, mengejar dengan segenap tenaga.
Batu menggandeng Bunga Batu berlari ke sana ke mari, menembus beberapa gang sempit. Namun sejak tadi mereka tak makan, tubuh lemas, tenaga pun jauh di bawah para pengejar. Selain itu, tenaga Batu sudah terkuras karena terus berlari.
Tak berapa lama, jarak antara mereka dan para pengejar semakin dekat.
Tampaknya sebentar lagi mereka akan tertangkap.
Batu tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka tertangkap. Jika hanya dirinya yang dipukuli, itu tak masalah. Tapi jika adiknya dinodai, bagaimana ia bisa menebus dosa kepada mendiang orang tua mereka?
"Adik, cepat lari, biar kakak yang tahan mereka!" Batu membuat keputusan, hanya dengan mengorbankan diri, adiknya punya waktu untuk kabur.
Jika mereka terus kabur bersama, tak ada yang akan lolos.
"Tidak, kita harus kabur bersama!" Bunga Batu menolak meninggalkan kakaknya.
"Pergilah cepat!"
Batu mendorong Bunga Batu menjauh, lalu berbalik menghadapi para pengejar.
Tak lama kemudian, Batu sudah terlibat perkelahian dengan beberapa anak buah Gendut Besar.
Mereka banyak dan bertubuh kuat, sedangkan Batu seorang diri, lemah dan kurus. Tak butuh waktu lama, Batu pun dihajar ramai-ramai.
Ia hanya bisa melindungi kepalanya, menahan pukulan dan tendangan yang membabi buta menghujani tubuhnya yang ringkih.
Beberapa saat kemudian, tubuh Batu sudah penuh luka, dua tulang rusuknya patah. Mereka melemparkan Batu ke tanah, tapi masih belum puas, lalu menendangnya lagi dengan brutal.
"Tolong, lepaskan kakakku!" Bunga Batu memohon, air matanya berlinang.
Setelah puas menghajar Batu, mereka menoleh ke Bunga Batu, menyeringai cabul dan mendekati gadis itu.
Tanpa pertolongan, Bunga Batu tak ubahnya daging di atas talenan, siap dipotong kapan saja.
Mereka langsung mengepung Bunga Batu, menampakkan taring dan kuku, mulai bertindak kasar.
"Tidak, jangan!" Bunga Batu menjerit penuh keputusasaan.
"Binatang, kalian semua binatang!" Batu berusaha bangkit, tapi beberapa kali mencoba tetap tak berhasil, ia hanya bisa memukul tanah, meraung dalam sakit.
"Binatang, kalian akan mendapat balasan!"
Menghadapi para penjahat keji itu, Batu tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menyaksikan adiknya diperlakukan kejam.
Tangisan dan teriakan memenuhi jalanan.
"Sini, kemarilah!" Gendut Besar menarik salah satu anak buahnya, hendak mendekati Bunga Batu.
Bunga Batu tahu dirinya takkan bisa selamat, hanya bisa pasrah menutup mata, menanti nasib.
Tiba-tiba, dua suara desingan melesat, mengenai tubuh para penjahat itu dengan tingkat luka berbeda-beda.
Mereka menjerit kesakitan, melepaskan Bunga Batu seperti burung ketakutan, lalu siaga mencari sumber serangan.
"Siapa yang berani menggagalkan urusan Tuan Gendut Besar?"
Sekali lagi terdengar suara desingan, kali ini mengenai lutut Gendut Besar yang langsung menjerit, lututnya tertekuk hingga ia jatuh berlutut kesakitan, tak bisa berdiri.
"Kalian para bajingan, di siang bolong berani-beraninya menculik dan memperkosa gadis desa! Apa di dunia ini sudah tak ada hukum?"
Bersama suara lembut itu, muncullah seorang wanita berbaju putih dengan kerudung menutupi wajah, berjalan perlahan ke arah mereka.
Setiap langkah wanita itu seakan menjadi vonis kematian bagi mereka.