Bab 018: Angin Berhembus Sayu

Jurus Pedang Pengusir Duka Lukisan Pedesaan 1351kata 2026-03-04 14:14:27

Sesampainya di puncak gunung, A Empat berdiri dengan tangan di belakang punggung, tepat di tempat guru mereka pernah bertarung. Ia menyapu pandangannya ke seluruh puncak. Meskipun ini adalah kali keduanya tiba di puncak, setiap kali ia berdiri di sini, perasaannya selalu berbeda.

Memandangi hamparan salju putih di hadapannya, hati A Empat terasa berat. Tiga tahun lalu, tepat di hari ini, sang guru pergi tanpa sepatah kata pun, tidak memberi tahu apa pun, dan sejak saat itu tidak pernah menampakkan diri lagi. Berbagai desas-desus beredar di dunia persilatan, konon saat itu puncak Gunung Qian mengalami longsor salju besar, tumpukan salju runtuh lalu mencair, airnya mengalir ke kaki gunung, luasnya bak sungai lebar.

Ada pula yang mengatakan, saat itu terdengar suara duel di puncak Gunung Qian, suara ledakan-ledakan itu diduga berasal dari adu tenaga para pendekar sakti. Orang lain lagi mengaku melihat seorang pria berbaju putih muncul di kaki Gunung Qian.

Intinya, berbagai macam cerita beredar. Dari semua deskripsi tersebut, pria berbaju putih yang muncul di kaki gunung itu diyakini tak lain adalah sang guru. Jika guru sudah terlihat di kaki Gunung Qian, dan setelah itu tak pernah muncul di mana pun, maka di sanalah alasan mengapa A Empat begitu yakin mencari gurunya ke Gunung Qian.

“Guru, di mana engkau? Apakah engkau masih hidup? Banyak orang berkata kau telah tiada, tapi aku tak percaya, aku tak percaya kau akan mati. Kau begitu agung dan gagah, ilmu silatmu tiada tanding, tak terkalahkan di dunia. Tak ada lawan sebanding, aku tak percaya kau benar-benar sudah mati. Jika kau memang telah tiada, mengapa tak tersisa satu pun jejakmu?”

“Ah…”

A Empat mengerahkan jurus Pedang Pelupa Duka, menghantamkan serangan bertubi-tubi ke arah bukit-bukit di kejauhan. Di mana pun pedangnya melesat, salju beterbangan, permukaan asli bukit-bukit kecil itu pun tersingkap. Air salju mengalir deras menuruni lereng menuju kaki gunung.

Setelah A Empat mengamuk dengan jurus Pedang Pelupa Duka, di dasar Danau Qian yang tak jauh dari kaki gunung, sebuah pedang pusaka berkilauan emas seolah-olah hendak melepaskan diri dari dasar danau, ingin melesat menembus permukaan air.

Di samping pedang itu, seorang pria paruh baya berbaju putih tampan terbaring tenang di dalam air. Entah sudah berapa lama pria itu berbaring di sana, pakaian putihnya tak menunjukkan tanda-tanda pembusukan, bahkan tubuhnya pun masih utuh.

Jika A Empat berada di sini, ia pasti mengenalinya. Pria paruh baya berbaju putih itu tak lain adalah gurunya, Sang Perajut Mimpi, Li Yufeng.

Telinga Sang Perajut Mimpi, Li Yufeng, sedikit bergerak, lalu ia kembali tenang seperti sedia kala. Pedang pusaka yang berkilauan emas itu semakin hebat bergetar, seolah siap terlepas dari dasar danau kapan saja.

Di puncak Gunung Qian, A Empat terus mengerahkan jurus Pedang Pelupa Duka, menggempur bukit-bukit kecil dengan membabi buta. Setelah mengamuk, seluruh tenaganya terasa terkuras habis dari dalam dantian, ia tersungkur berlutut di salju, membiarkan butiran salju menimpa pakaian malamnya yang tipis.

Tiba-tiba, terdengar suara “syut”, sebuah pedang pusaka melesat menembus langit, terbang menuju tempat A Empat berada. Gagang pedang itu tertancap di depan A Empat, sementara bilahnya tenggelam separuh ke dalam salju.

“Pedang Pelupa Duka?”

A Empat terperanjat, matanya menatap tajam ke arah pedang pusaka di hadapannya. Itulah pedang milik gurunya, Sang Perajut Mimpi, Li Yufeng, yang selalu dibawa ke mana-mana. A Empat bangkit berdiri, menoleh ke segala arah sambil terus memanggil nama gurunya.

Namun, tak peduli seberapa keras ia memanggil, tak ada yang menjawab, apalagi sosok gurunya yang muncul.

“Guru…”

A Empat berlutut di depan Pedang Pelupa Duka, membungkuk tiga kali penuh hormat. Ia tidak menyembah pedang itu, melainkan memberi penghormatan pada pemilik pedang itu, sang guru, Sang Perajut Mimpi, Li Yufeng.

“Guru, aku pasti akan menemukanmu. Jika masih hidup, aku ingin melihatmu, jika sudah tiada, aku ingin menemukan jasadmu.”

Ucapnya sambil mengulurkan tangan menggenggam Pedang Pelupa Duka. Pedang itu tidak menolak sentuhannya, justru dengan patuh mengikuti gerakannya. Sebuah aliran tenaga murni mengalir dari pedang ke dalam dantian dan lautan kesadarannya, menyatu dengan tenaga putih di dalam tubuhnya.

Kedua tenaga itu berpadu, seakan Pedang Pelupa Duka menjadi bagian dari tubuh A Empat sendiri.