Jilid Satu: Jurus Pedang Penghapus Duka Bab 46: Pertempuran Sengit di Sarang Perampok
Sarang bandit di Bukit Kota Harapan.
Batu datang seorang diri ke gerbang, beberapa bandit penjaga menghadangnya.
“Pergi beri tahu kepala kalian, katakan Batu sudah datang, cepat keluarkan adikku!”
Para penjaga itu mengelilingi Batu, menggoda, “Hei, tahu ini tempat apa?”
“Tentu saja tahu, ini sarang bandit, kan?” Batu sama sekali enggan berurusan dengan mereka.
Para bandit ini memang suka merampok dan berbuat onar, hanya menimbulkan penderitaan bagi rakyat.
Menyebut mereka manusia adalah penghinaan bagi kata itu. Menyebut mereka binatang malah lebih tepat.
Penjaga berkata, “Tahu ini sarang bandit, masih berani sombong, siapa yang memberimu nyali?”
“Hahaha, di dunia ini, ke mana pun aku mau pergi, tak ada yang bisa melarang,” jawab Batu.
“Sepertinya kau datang mencari masalah! Saudara-saudara, ayo kita bunuh dia!” Penjaga itu tak sanggup berdebat, akhirnya memerintahkan yang lain mengeroyok Batu.
Meski kemampuan bertarung Batu biasa saja, ia sudah berkali-kali menghadapi bahaya, tidak mudah ditakuti, apalagi ia membawa jimat pelindung.
Batu berkata, “Tunggu.”
Penjaga itu berkata, “Kenapa? Takut sekarang? Tadi sombong sekali, sekarang jadi pengecut?”
Batu mencibir, “Kalau aku jadi kau, aku takkan banyak bicara, cepat pergi lapor! Kalau lambat, bisa-bisa nyawamu melayang.”
Penjaga itu marah sampai telinga dan lehernya memerah, hendak berbuat sesuatu.
Saat itu, seorang penjaga lain berkata, “Tadi sepertinya dia bilang namanya Batu?”
“Mau Batu atau kotoran kuda, berani menentangku pasti sial!” balas penjaga yang lain.
“Semuanya, serang! Bunuh dia!”
Tapi penjaga lain segera menghentikan yang lain, lalu berbisik lama di telinga penjaga pertama.
Penjaga itu menatap Batu, makin lama makin gugup, kakinya gemetar.
Penjaga lain melihat kawannya gugup, segera menyuruh seorang bandit lain bergegas melapor.
Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh besar memimpin rombongan bandit muncul di gerbang.
Pria bertubuh besar itu adalah kepala bandit Bukit Kota Harapan, Harimau Besar.
Harimau Besar berjalan ke hadapan Batu dan berhenti. “Benar-benar berani, selama ini kau yang pertama berani datang sendirian ke sarang kami.”
Batu menjawab, “Tak usah banyak bicara, lepaskan adikku!”
Harimau Besar berkata, “Bisa saja, kau bawa barang yang kuminta?”
“Menurutmu aku bodoh atau kau yang otaknya ditendang keledai? Kalau kuberikan sekarang, aku masih bisa selamat turun gunung?”
“Berani bicara begitu pada kepala kami! Kau cari mati!” Seorang bandit menghunus pedang mengancam Batu, tapi Harimau Besar menahan.
Harimau Besar berkata, “Meski kubunuh kau, barang itu tetap jadi milikku.”
Mendengar itu, Batu makin tenang. “Kau boleh membunuhku, tapi sebelum itu aku punya seribu cara menghancurkan barang yang kau mau, percaya tidak?”
Harimau Besar mulai ragu, ia tak berani bertaruh.
Ia sudah menerima bayaran, harus menyelesaikan tugas. Kalau gagal, bisa kehilangan nyawa.
“Apa maumu?”
Akhirnya Harimau Besar memilih tak berjudi.
Melihat Harimau Besar melunak, Batu merasa lega. “Sederhana saja, aku harus pastikan adikku selamat, lalu kita tukar barangnya.”
“Bawa wanita itu ke sini.”
Sementara itu, Asih dan kawan-kawan mereka telah melumpuhkan penjaga, diam-diam mendekati tempat Sandera, bersiap menyelamatkan Siti Mawar.
Asih mengambil batu di tanah, memukul penjaga di samping Siti Mawar sampai pingsan.
“Siapa itu?” Tiba-tiba lima-enam bandit menyerbu. Dalam keadaan genting, Juwita melemparkan beberapa jarum perak, menewaskan para bandit itu.
Setelah penjaga Siti Mawar tewas, Asih bergegas membebaskan Siti Mawar, sementara Juwita berjaga di luar.
Setelah membebaskan Siti Mawar, mereka membawa Siti Mawar melarikan diri ke arah yang telah mereka rencanakan.
Di gerbang sarang Bukit Kota Harapan.
Penjaga yang tadi pergi sudah setengah jam tak kembali.
Harimau Besar mengumpat dalam hati, “Apa-apaan, kenapa lama sekali?”
Batu merasa ada yang aneh, sudah siap melarikan diri kapan saja.
Sesuai rencana, Batu memancing di gerbang, sementara Asih dan yang lain mencari kesempatan menyelamatkan Siti Mawar.
“Jangan-jangan mereka sudah berhasil?” Batu merasa senang, lalu berkata, “Harimau Besar, apa yang kalian lakukan pada adikku? Lama sekali tak juga dibawa ke sini!”
Harimau Besar pun merasa tak enak.
Jarak antara gerbang dan tempat tahanan Siti Mawar tak jauh, seharusnya sudah kembali.
“Tenang saja, kami tak tertarik pada adikmu, kami hanya mau barang itu.”
Saat itu, seorang bandit berlari panik, berbisik di telinga Harimau Besar.
Batu tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi ia menduga adiknya pasti sudah diselamatkan.
Batu berkata, “Karena kepala sibuk, aku pamit dulu.”
Ia langsung berlari tanpa menunggu izin.
Karena sudah bersiap, ia mengerahkan seluruh tenaganya, seketika berlari sejauh puluhan meter.
“Tangkap mereka!” Harimau Besar baru sadar, Batu sudah jauh, di luar jangkauan.
Para bandit segera mengejar Batu.
Meski kemampuan bertarung Batu biasa saja, ia sangat lihai melarikan diri, dalam waktu singkat sudah jauh meninggalkan para pengejarnya.
“Mau kabur, tidak semudah itu!”
Melihat Batu makin jauh, Harimau Besar yang cemas merampas senjata anak buahnya, lalu melemparkannya ke arah Batu seperti senjata rahasia.
Batu sudah mengerahkan semua tenaga, tak bisa lagi menambah kecepatan.
Musuh semakin banyak, kalau dikejar terus, jarak pasti makin dekat.
“Celaka.”
Batu merasa ada sesuatu menyerang dari belakang, ia langsung mengubah arah. Baru berpindah dua langkah, sebilah golok besar menancap di batang pohon tepat di depannya.
Golok itu menancap dalam, hanya gagangnya yang terlihat.
Batu langsung berkeringat dingin. Kalau golok itu menancap di tubuhnya, pasti ususnya terburai.
Meski sangat ketakutan, ia tak berhenti berlari. Ia mengitari hutan di depannya, terus menuju tempat berkumpul yang telah disepakati.
Begitu sampai di sana, dengan bantuan Asih dan Juwita, peluang selamatnya jauh lebih besar.
Baru berlari sebentar, ia sudah mendengar suara senjata melayang di udara dari belakang.
Ia menoleh, terlihat panah-panah beterbangan di udara, mengarah padanya.
“Habis sudah.”
Ia berpikir, hidupnya belum puas, bahkan belum pernah menyentuh perempuan, kini harus tamat.
Di saat-saat kritis itu, dua bayangan melompat melewati kepalanya, mendarat di belakangnya.
Asih memegang pedang patah, Juwita dengan sapu suci menggambar sesuatu di udara.
Seketika, lingkaran cahaya besar muncul, membungkus mereka bertiga. Panah-panah yang menancap di sana langsung jatuh ke tanah.
Asih dan Juwita bekerja sama menahan serangan lawan.
“Ayo pergi!”
Asih dan Juwita menarik Batu yang masih ketakutan, lalu melompat masuk ke hutan lebat, menghilang tanpa jejak.
Semua terjadi dalam sekejap. Saat Harimau Besar dan para bandit tiba, yang tersisa hanya panah-panah di tanah, tak ada tanda-tanda Batu dan kawan-kawannya.
“Sialan, tak kusangka mereka punya teman!” Harimau Besar memukul batang pohon hingga patah.
Seorang bandit berkata, “Kepala, sekarang bagaimana? Kalau Batu lolos, bagaimana kalau orang besar itu murka?”
Mengingat orang besar itu, Harimau Besar pun merinding, lalu memerintahkan, “Perintahkan semua orang mengejar, hidup atau mati harus ditemukan!”