Bab Dua Puluh Lima: Tuan Ketiga Lu dari Beiping
“Bagaimana keadaan Tuan Kesembilan?” Qiao Chi dan Shen Wan segera kembali begitu mendengar kabar bahwa Nan Qi ditusuk. Ketika mereka tiba, tabib sudah menyelesaikan penanganan luka. Saat itu, Nan Qi bersandar di ranjang dengan mata terpejam, beristirahat. Melihat keadaannya, Shen Wan dan Qiao Chi tidak ingin mengganggu dan memilih meninggalkan kamar menuju ruang tamu.
Tabib yang memeriksa belum pergi. Ia memandang Shen Wan dan berkata, “Lukanya cukup dalam, jadi darahnya banyak keluar. Untung saja tidak mengenai bagian vital. Kalau pisau itu meleset sedikit saja, akibatnya takkan sesederhana ini.” Tabib itu berkata dengan hormat pada Shen Wan.
“Kemana wanita itu pergi?” Qiao Chi yang biasanya selalu bercanda, kali ini tampak serius. Ia menatap Liu Zi dengan penuh amarah.
“Setelah menusuk Tuan Kesembilan, dia langsung melarikan diri. Aku sudah mengirim orang untuk mencari, tapi belum ditemukan.”
“Perempuan sialan itu, berani-beraninya melukai Tuan Kesembilan. Sepertinya dia memang sudah bosan hidup.” Ini pertama kalinya Liu Zi melihat Qiao Chi begitu serius. Dalam ingatannya, Tuan Qiao selalu tampak ceria dan cuek terhadap segalanya. Tak disangka, ia juga punya sisi seperti ini.
“Nona Wan, keluarga Lu mengirim surat, katanya untuk Tuan Kesembilan.”
Shen Wan seperti sudah menduga sebelumnya. Ia menerima surat itu dengan tenang, membaca sekilas, lalu menyimpannya. Ia berbalik dan berkata pada Liu Zi, “Biarkan Tuan Kesembilan beristirahat dan memulihkan diri dengan tenang, jangan ganggu dengan urusan seperti ini lagi.”
“Baik, Nona Wan.”
Lu Xian duduk bersandar di kursi bambu dengan mata terpejam, sementara Lu Chuan Nan berdiri di sampingnya, tampak ketakutan.
“Paman Ketiga, kau harus membelaku. Kita harus memberi pelajaran pada Nan Qi.”
Lu Xian diam saja, tetap menutup mata, seolah beristirahat tapi tidak benar-benar tidur.
“Tuan Lu, orang dari keluarga Nan sudah datang.”
“Suruh mereka masuk,” kata Lu Chuan Nan buru-buru. Hari ini ia benar-benar ingin memberi pelajaran pada Nan Qi.
Namun yang datang ternyata bukan Nan Qi, melainkan Shen Wan.
Shen Wan masuk ke ruang tamu bersama Luo Xi. Melihat yang datang adalah dia, Lu Chuan Nan tampak tidak senang.
“Apa-apaan ini? Sejak kapan Tuan Kesembilan Nan yang disegani di Kota Jinling sembunyi di belakang perempuan untuk mengurus urusan?”
Shen Wan mengabaikan Lu Chuan Nan dan langsung berjalan ke hadapan Lu Xian.
“Urusan perempuan, biarlah perempuan yang menyelesaikan. Bukankah itu lebih pantas, Tuan Lu?”
Akhirnya, mata Lu Xian yang tadi terpejam perlahan terbuka. Ia menatap lekat-lekat wanita di depannya. Begitu tenang, tanpa sedikit pun terlihat gugup.
“Kedatangan Shen Wan kali ini, pertama-tama ingin mewakili Tuan Kesembilan meminta maaf pada Tuan Muda Lu, kedua ingin meminta seseorang pada Tuan Lu.”
“Permintaanmu banyak juga. Lalu bagaimana cara meminta maafnya?” Lu Xian yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Suaranya dalam, seolah berasal dari dasar neraka.
Shen Wan memberi isyarat pada Luo Xi. Beberapa pria berbadan tegap membawa masuk sejumlah barang dan meletakkannya di ruang utama.
“Aku memilih beberapa ramuan obat sebagai penambah kesehatan untuk Tuan Muda Lu.”
“Barang-barang seperti ini, siapa juga yang tidak punya? Kau kira bisa menipuku dengan ini?” Lu Chuan Nan melirik ramuan-ramuan itu. Meski mulutnya ketus, ia tak bisa menampik bahwa keluarga Nan memang bermurah hati.
Shen Wan tak menanggapi, lalu mengeluarkan selembar surat utang dari dalam tas dan menyerahkannya pada Luo Xi untuk disampaikan.
“Beberapa waktu lalu, Tuan Muda Lu sering datang ke rumah judi kami dan meninggalkan beberapa barang. Mumpung Tuan Lu baru tiba di Jinling, anggap saja ini hadiah perkenalan dari keluarga Nan.”
Lu Xian menerima surat utang itu dan membacanya. Setelah selesai, ia meletakkannya di samping. Ia menatap Shen Wan dengan senyum makin lebar, penuh minat.
“Tuan Kesembilan beruntung memiliki sepupu sepertimu. Kalau begitu, karena Nona Shen begitu menyukai Xu Mengqing, aku serahkan saja dia padamu, anggap saja hadiah perkenalan dariku.”
“Atas kebaikan Tuan Lu, aku ucapkan terima kasih. Lain waktu, aku akan berkunjung kembali. Untuk sekarang, aku pamit undur diri.”