Orang-orang selalu berkata bahwa Nona Besar Shen dari Kedai Qimei bagaikan bunga di cermin atau bulan di air, indah namun tak tergapai. Namun mereka tak tahu, bahwa ia menyembunyikan seluruh ketulusan hatinya. Dulu ia pernah mencurahkan segalanya untuk seseorang, hanya saja, setelah terlalu sering memberikan ketulusan, mungkin orang lain sudah tak lagi menganggapnya penting...
Pada bulan Juni di Ibu Kota Selatan, musim hujan sedang melanda daerah selatan Sungai Yangtze. Cuacanya lembap dan panas, bahkan saat hujan tak turun sekalipun, udara lembap seolah menguar dari tanah.
Kelembapan itu menambah keresahan di hati.
Di jalan pegunungan, dua pria—yang satu tinggi, yang satu pendek—sedang berjalan maju.
“Tuan Muda, sebaiknya kita menunggu sampai tanggal sembilan dan turun gunung bersama Nyonya. Atau biarkan sopir mengantar Anda. Kalau berjalan kaki begini, entah sampai kapan kita baru tiba,” kata pria pendek itu.
“Tidak bisa. Kalau Nyonya Jiang tahu aku hendak pergi, pasti dia akan mencari tali dan mengikatku di kuil ini. Aku tidak mau,” jawab yang lain.
“Tapi…”
“Kau takut apa? Di gunung ini tak ada binatang buas, tak akan ada yang menculikmu.”
“Bukan binatang buas yang kutakutkan, aku hanya…”
“Jiang Wen, sudah bertahun-tahun tidak bertemu, kenapa kau masih saja penakut. Melihatmu begini, jangan-jangan kau pikir ada hantu perempuan di gunung ini?”
“Tuan Muda, di gunung ini memang ada hantu.”
“Itu hanya takhayul. Tak ada hantu di dunia ini.”
Belum selesai bicara, hujan pun turun tanpa peringatan. Bulan Juni memang sering membawa hujan tiba-tiba, rintik-rintik pun langsung mengguyur.
Jiang Hansheng dan Jiang Wen buru-buru berlari. Tak lama, mereka melihat sebuah pendopo di kejauhan. Namun Jiang Wen yang menggigil menarik lengan Jiang Hansheng, enggan melangkah maju.
“Tuan Muda, lihat itu… Perempuan berbaju putih di sana…”
Di dalam pendopo, seorang perempuan muda