Bab Empat Puluh Satu: Roh Perempuan Kecil Krisan
Mereka terus berjalan sangat lama, berdua hanya mengitari tepi danau tanpa sepatah kata pun. Menatap punggungnya yang lebar, hati Xu Mengqing diliputi perasaan aneh. Sebenarnya ia tidak membenci Nan Qi, walaupun Nan Qi memang selalu tampak dingin, namun ia telah banyak membantunya.
Selain itu, kematian ibunya selalu terasa tidak sesederhana yang terlihat. Tiba-tiba, Xu Mengqing mendengar suara gemerisik pelan dari belakang. Ia berbalik dengan cepat, dan dalam sekejap, Xiao Ju yang berlumuran darah telah muncul di hadapannya.
“Aku mati dengan sangat mengenaskan, Nona,”
“Xiao Ju…”
“Jangan mendekat.” Nan Qi yang sedari tadi berjalan di depan itu menatap hantu perempuan itu dengan wajah muram.
Perempuan itu hanya mengenakan pakaian tipis, tubuhnya penuh bekas cambukan, jelas sekali ia telah mengalami penyiksaan sebelum meninggal.
Namun Xu Mengqing tak lagi peduli pada semua itu. Begitu melihat Xiao Ju, air matanya pun tumpah deras. Semua ini salahnya, ia gagal melindungi Xiao Ju hingga membuatnya berakhir seperti ini. Tak menghiraukan peringatan Nan Qi, ia segera melangkah maju, mendekati Xiao Ju.
Sejak kecil, Xiao Ju selalu berada di sisinya. Dulu ia paling takut rasa sakit. Pasti sebelum meninggal ia sangat menderita. Melihat bekas-bekas luka itu, Xu Mengqing memeluk tubuh Xiao Ju dengan lembut, air matanya terus mengalir tanpa henti.
Tak disangka, tiba-tiba kuku-kuku tajam Xiao Ju mengarah langsung ke leher Xu Mengqing.
“Aaah…”
Sebuah jeritan nyaring membelah keheningan malam. Xu Mengqing dan Xiao Ju sama-sama terjatuh ke tanah.
“Makhluk durhaka!” seru Nan Qi dengan suara keras, melirik Xiao Ju yang tergeletak di tanah.
Xu Mengqing menutupi luka di lehernya dengan tak percaya menatap pemandangan di depannya. Kenapa? Kenapa Xiao Ju ingin mencelakainya? Bukankah hubungan mereka begitu dekat?
“Xiao Ju, kenapa?” Ia menatap Xiao Ju, air matanya mengalir deras, hatinya terasa seperti disayat-sayat.
“Aku membencimu! Kalau saja kau tidak meninggalkanku, mana mungkin aku berakhir seperti ini? Dulu aku sudah ingin membunuhmu, andai bukan perempuan itu yang menghalangi, aku pasti sudah membunuhmu. Jalan menuju akhirat itu sunyi, kau seharusnya menemaniku, ha ha ha…” Xiao Ju menengadah dan tertawa lirih melihat Xu Mengqing.
Semasa hidup, ia mengalami penghinaan yang tak akan pernah ia lupakan. Ia membenci orang yang memaksanya sampai pada titik itu, juga membenci Xu Mengqing—semua ini terjadi karena dirinya.
Tiba-tiba Xiao Ju menjerit seperti orang gila, lalu berubah menjadi hantu ganas dan langsung menerjang.
Nan Qi melafalkan mantra, mengambil kipas lipat dan menghantam kepala Xiao Ju dengan keras. Dalam sekejap, tubuh Xiao Ju lenyap menjadi abu.
“Dendamnya terlalu kuat, jika dibiarkan di dunia hanya akan membawa bencana.” Nan Qi melipat kembali kipasnya, lalu menatap Xu Mengqing dengan tatapan sayu.
“Paman Sembilan, kenapa Xiao Ju bisa seperti itu?” Xu Mengqing memegangi ujung pakaian Nan Qi, matanya masih basah oleh air mata.
“Ia bukan lagi manusia, ia sudah menjadi arwah. Sifat arwah itu dingin dan kejam, tentu berbeda dengan dirinya semasa hidup.”
“Pasti semasa hidup Xiao Ju banyak menanggung penderitaan, makanya ia begitu membenciku.”
“Tak perlu kau terlalu memikirkannya. Semua ini juga bukan sepenuhnya salahmu, itu memang sudah menjadi garis hidupnya. Kau hanya perlu memikirkan bagaimana menjalani hari-harimu ke depan. Masa lalu, lepaskan saja.” Untuk pertama kalinya, Nan Qi berbicara begitu sabar dan sungguh-sungguh kepada Xu Mengqing.
Xu Mengqing mengangguk pelan, merenung.
Ia harus menjadi lebih kuat, ia pasti akan membalas dendam.
Setelah Nan Qi selesai mengobati luka Xu Mengqing, waktu telah larut malam. Saat ia hendak kembali beristirahat, ia melihat Shen Wan sedang duduk di halaman, menikmati teh.