Bab Enam: Perempuan Tua
Di ujung Gang Kembang Api, hanya ada beberapa orang. Ketika memandang ke dalam, gang itu tampak gelap gulita seolah tak berujung.
Udara terasa sangat dingin, hingga Jiang Han Sheng menggigil. Malam bulan Juni seharusnya tak sedingin ini, pikirnya. Barangkali tubuhnya masih lemah, sisa masuk angin belum sepenuhnya sembuh.
Jiang Han Sheng berdiri ragu di mulut gang. Benarkah ia harus melewati jalan ini? Sudah bertahun-tahun ia tak melaluinya, dan itupun dulu hanya beberapa kali saat siang hari.
Andai saja tadi ia tidak bertengkar dengan Ruan Yuan Jun.
Lanjut atau tidak? Jika tak melewati gang itu, ia harus memutar jauh. Memikirkan itu, Jiang Han Sheng berdiri termangu, dihantui kegelisahan.
Tak lama, seorang nenek bungkuk berambut putih dengan langkah pincang berjalan susah payah ke arah mulut gang, membawa mangkuk tua di tangannya.
Perlahan, nenek itu akhirnya keluar dari Gang Kembang Api.
“Tunggu sebentar,” panggil Jiang Han Sheng pada nenek itu. Ia mengobrak-abrik sakunya, lalu meletakkan beberapa keping perak ke dalam mangkuk nenek tersebut.
“Terima kasih, Tuan Muda.”
Dengan susah payah, nenek itu membungkuk hormat. Jiang Han Sheng mengibaskan tangannya, lalu menyelipkan kedua tangan ke saku dan bersiap melintas.
Namun, saat ia baru melangkahkan kaki, nenek itu menahannya.
“Tuan Muda hendak melewati gang ini?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Gang ini penuh hawa dingin, sebaiknya Tuan cari jalan lain.”
“Mana mungkin ada hantu atau makhluk gaib di dunia ini.”
Nenek itu hanya menggelengkan kepala, lalu berkata dengan nada pasrah, “Melihat raut wajah Tuan, beberapa hari ke depan akan ada malapetaka menimpa. Berhati-hatilah.”
“Aku baik-baik saja, malapetaka apa pula,” sahut Jiang Han Sheng tak sabar, sambil menarik longgar dasinya. Entah mengapa, belakangan ini orang-orang di sekitarnya sering mengucapkan hal-hal aneh seperti itu.
Benar-benar menjengkelkan.
“Malam ini jalanan gelap, pastikan Tuan melihat jalan dengan baik. Dan apapun yang terjadi, jangan sekali-kali menoleh ke belakang.”
“Tolong ingat, Tuan Muda, apapun yang terjadi jangan menoleh.”
Suara nenek itu semakin lama semakin sayup, sementara Jiang Han Sheng berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang.
Semakin jauh melangkah, hatinya semakin tak tenang. Gang itu benar-benar gelap, seakan tak berujung, bahkan terasa semakin dingin.
Kata-kata nenek tadi terus terngiang di benaknya, membuat hatinya semakin waspada.
Namun ia mencoba menenangkan diri. “Tak perlu takut. Tak ada hantu di dunia ini, harus percaya sains,” ucapnya dalam hati.
Dengan keberanian yang dipaksakan, Jiang Han Sheng melangkah cepat ke depan.
Tapi tiba-tiba, dari belakang terdengar langkah kaki aneh.
Satu langkah, lalu satu langkah lagi…
Ia mempercepat langkah, suara itu juga bertambah cepat.
Ia berhenti, suara itu pun ikut terhenti.
Mungkinkah ada orang lain di dalam gang?
Ia ingin menoleh, tapi teringat pesan nenek tadi, keberaniannya langsung ciut.
Langkah kaki di belakangnya selalu seirama dengan langkahnya. Mungkin karena gang ini kosong, suara langkahnya sendiri jadi menggema.
Ia tak berani menoleh, hanya sengaja memperlambat langkah, ingin tahu siapa sebenarnya di belakangnya.
Namun, setelah beberapa saat, suara yang tadinya seirama tiba-tiba menjadi cepat, terdengar seperti hendak mengejarnya.
Suara itu makin dekat, makin dekat.
Jiang Han Sheng mulai merasa takut dan mempercepat langkahnya.
Namun suara di belakangnya juga berlari, semakin mendekat.
“Sial…” Jiang Han Sheng tersandung batu yang menonjol di jalan dan jatuh ke tanah.
Langkah kaki di belakangnya pun terhenti, namun ia bisa merasakan, “seseorang” itu berdiri tepat di belakangnya.
Lalu,
Sepasang tangan menepuk bahunya. Dengan cemas, ia menoleh ke belakang.