Bab Lima: Kucing Hitam
Kedua orang itu berjalan satu di depan, satu di belakang. Sambil melangkah, Han Sheng menendang-nendang kerikil di pinggir jalan. Ia memang tidak pernah suka menemani perempuan berbelanja. Di masa lalu, saat berada di luar negeri, ia paling hanya berkumpul dengan beberapa teman dekat untuk minum-minum, bersenang-senang, dan walaupun ada perempuan, pasti bersama sekelompok besar orang.
Namun hari ini, ia justru sendirian bersama seorang perempuan. Rasanya sungguh tidak biasa baginya.
Perempuan? Han Sheng terkejut dengan pikirannya sendiri. Ia baru saja menganggap gadis gemuk ini sebagai seorang perempuan. Tidak boleh, tidak boleh. Mungkin karena beberapa hari yang lalu ia terlalu banyak minum, hingga belum sepenuhnya pulih.
Han Sheng menggelengkan kepala.
Wen mengikuti di samping Han Sheng dengan wajah penuh tawa.
“Tuan muda, kenapa tidak menikah saja dengan Nona Ruan? Kalian berdua kalau bersama seperti pasangan muda yang suka bertengkar.”
“Wen, akhir-akhir ini kau makin berani, ya?”
Sementara itu, Yuan Jun yang berjalan di depan hanya menunduk menatap ujung kakinya, tidak mendengar percakapan mereka. Namun, sesuatu yang berwarna hitam di bawah roda mobil menarik perhatiannya.
Kenapa ada anak kucing hitam di bawah mobil ini?
Ia berjongkok. Untung ia melihatnya, kalau tidak, begitu mobil berjalan nanti, si kecil itu akan celaka.
Ia mengulurkan tangan, menggendong anak kucing itu, lalu meletakkannya di pangkuan. Anak kucing itu pun langsung berbaring manis di pelukannya. Yuan Jun tersenyum, mengelus lembut bulu kucing itu dua kali.
“Lucu sekali.”
“Kenapa kau memeluknya? Kotor sekali.” Han Sheng berdiri di samping, menggerutu tidak senang.
Seolah-olah mendengar ketidakpuasan Han Sheng, kucing hitam itu menoleh, menatap Han Sheng tajam.
Apa ini?
Han Sheng merasakan bulu kuduknya berdiri, hawa dingin merambat tiba-tiba. Itu bukan kucing hitam biasa. Di tengah dahinya ada titik merah yang membuat bulu kuduk merinding, dan tatapan matanya bukan seperti binatang pada umumnya. Pandangannya aneh dan membuat siapa pun bergidik.
“Meong...”
Suara jeritan nyaring melengking menembus langit malam.
“Sakit sekali.”
Yuan Jun terjatuh duduk di tanah, di tangannya tampak bekas cakaran berdarah yang baru saja dibuat kucing itu.
Han Sheng buru-buru menghampiri, membantu Yuan Jun berdiri, lalu dengan cemas memeriksa tangannya.
“Kau tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa.” Namun suaranya terdengar gemetar, dan ketika menyadari ia masih menggenggam tangan Yuan Jun, Han Sheng pura-pura tenang melepaskan genggaman, lalu berkata dengan nada marah.
“Apa susahnya mengusirnya saja, kenapa harus memeluknya?”
“Aku dengar kucing hitam bisa melihat hantu. Menurutmu kenapa tadi dia tiba-tiba berulah seperti itu? Mungkin dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat?”
“Ruan Yuan Jun, kenapa kau setiap hari selalu bicara soal hantu dan hal aneh? Kalau kau begitu takut, lebih baik pergi ke wihara saja dan jadi biksuni.”
“Kau tidak tahu, di Jinling ini banyak kejadian aneh. Hal-hal seperti itu, lebih baik percaya daripada tidak.”
“Ya, ya, ya, apa pun katamu. Wen, antar Nona Ruan ke rumah sakit.”
“Baik, Tuan muda.” Wen segera menghampiri, membantu Ruan Yuan Jun berdiri. Saat hendak masuk mobil, ia melihat Han Sheng berbalik hendak pergi.
Mau ke mana dia?
Wen memandang tuan mudanya dengan heran.
“Tuan muda, Anda mau ke mana?”
“Wen, kau antar Nona Ruan ke rumah sakit.”
“Lalu Anda, Tuan muda? Tidak ikut bersama kami?”
“Tidak. Aku jalan kaki pulang. Lewat jalan malam, dan akan memilih jalan paling gelap.”
Setelah berkata demikian, Han Sheng melambaikan tangan dan pergi tanpa memperdulikan dua orang di belakangnya.
“Han Sheng, kau memang keras kepala, tidak mau kapok sebelum celaka!” teriak Yuan Jun dengan marah pada punggungnya yang menjauh.