Bab Empat Puluh Sembilan: Gadis dari Kota Tetangga
"Musim hujan tahun ini benar-benar panjang," ucap Loxi sambil berdiri di ambang pintu, memandangi hujan rintik-rintik yang turun tanpa henti.
"Anak perempuan ini, kenapa malah kemari untuk bermalas-malasan?" Qiao Chi melangkah masuk dengan gaya santainya dari luar.
Biasanya, Tuan Qiao ini selalu tampil rapi dan serius di hadapan orang lain, namun di depan mereka, ia justru selalu tampak tak beraturan. Loxi hanya bisa menggelengkan kepala tanpa daya.
"Di mana nona majikanmu?" tanya Qiao Chi sambil duduk di samping Loxi seolah-olah itu sudah kebiasaannya.
"Pergi ke Saung Alis Lurus," jawab Loxi dengan nada sedikit kesal.
"Kenapa Nona Wan masih harus ke Saung Alis Lurus?" Qiao Chi juga tampak bingung.
"Itu karena nona kami memang berhati baik," gumam Loxi sebelum berbalik masuk ke dalam kamar.
Saat Shen Wan sedang membereskan barang-barang di toko, Xu Mengqing hanya memandangi dengan diam. Sebenarnya, saat Shen Wan menyerahkan pengelolaan Saung Alis Lurus padanya, semuanya sudah sangat teratur. Pelanggan tetap selalu ada, toko selalu untung, dan pembukuan pun jelas, nyaris tak ada masalah berarti.
Namun, sejak Xu Mengqing mengambil alih, bisnis justru makin menurun. Penyebab utamanya, toko sudah lama tidak mendatangkan barang baru, para pelanggan lama pun lama-kelamaan bosan, sehingga yang datang pun makin sedikit.
Dari sudut pandang Xu Mengqing, ia sangat khawatir. Tuan Kesembilan telah mempercayainya dengan menyerahkan Saung Alis Lurus yang selama ini dikelola Nona Wan. Ia harus membuktikan kemampuannya, tidak boleh membuat usaha ini makin terpuruk di tangannya.
"Nona Wan, terima kasih atas bantuanmu. Sebenarnya, aku masih belum terlalu paham barang-barang yang sebelumnya ada di sini," ucap Xu Mengqing memandang Shen Wan.
"Tidak apa-apa, aku hanya sekalian lewat. Semuanya sudah hampir beres. Barang-barang yang ini sudah aku kelompokkan dan tulis di kertas, nanti kau tinggal mencocokkannya saja," jawab Shen Wan seraya melirik kalung mutiara di atas meja. Ia lalu mengambilnya dengan ragu dan menatap Xu Mengqing, "Ini apa?"
"Kemarin ada seorang nona dari kota sebelah yang membawanya ke sini."
Shen Wan memperhatikan kalung mutiara itu dengan saksama. Warnanya begitu bagus, bukan barang yang biasa dimiliki keluarga sederhana. Rupanya di kota sebelah ada keluarga seperti itu juga.
"Barang seperti ini sebaiknya tidak diterima," ujar Shen Wan.
Xu Mengqing berpikir sejenak lalu berkata, "Menurutku tidak ada masalah dengan barang ini, lagipula dia hanya ingin menukar barang untuk kabur bersama kekasihnya. Aku rasa ini bukan barang palsu."
"Nona Xu, sebaiknya jangan terlalu terburu-buru," kata Shen Wan sambil menepuk pelan bahu Xu Mengqing.
"Ada apa?" Suara Nan Qi terdengar dari pintu. Begitu melihat Shen Wan, ia sempat tertegun, namun di wajahnya tampak kegembiraan, "Wanwan, kau datang."
"Aku hanya mampir untuk membereskan beberapa barang lama, semuanya sudah selesai, aku juga akan pergi," jawab Shen Wan datar, seperti biasanya, namun terasa jauh lebih dingin.
Selesai berkata, ia membuka payung kertas minyak berwarna merah dan melangkah ke tengah hujan.
Nan Qi hanya bisa berdiri terpaku di tempat.
"Tuan Kesembilan..." Xu Mengqing baru hendak bicara, namun Nan Qi sudah berbalik dan melangkah cepat ke tengah hujan.
Tinggallah Xu Mengqing sendiri di toko, hatinya serasa dicabik-cabik.
Tak lama kemudian, nona yang kemarin mengantarkan barang datang. Xu Mengqing sebenarnya sudah berjanji akan bersama Tuan Kesembilan untuk memeriksa barang, tapi ternyata hanya ia sendiri yang datang.
Padahal, urusan kecil seperti ini biasanya Nona Shen juga bisa menyelesaikan dengan baik tanpa bantuan siapapun.
"Nona Shen, silakan naik mobil," terdengar suara yang familiar dari samping.
Sebuah mobil putih perlahan melaju dari tepi jalan. Di dalamnya, Lu Xian yang duduk di kursi belakang tersenyum ramah pada Shen Wan.