Hari itu akhirnya tiba. Gim nasional yang telah lama dinantikan, "Memandang Langit Berbintang", akhirnya resmi diluncurkan. Alur epik yang berkisar pada umat manusia, bangsa mesin, dan suku serangga mulai perlahan-lahan tersaji di hadapan semua orang. Su Xia, pemuda unggulan di era baru, mengenal gim ini berkat rekomendasi dari teman sekamarnya. Namun, tak lama kemudian, ia dikejutkan oleh sebuah kenyataan... "Latar dunia di trailer gim ini, kenapa persis sama dengan dunia yang aku datangi saat menyeberang waktu?" Benar, sehari sebelumnya, ia telah menyeberang ke dunia lain. Lebih mengejutkan lagi, ia bisa bebas berpindah antara dua dunia itu. "Komandan legendaris di trailer ini, bukankah itu identitasku setelah menyeberang waktu?" "Aku jadi NPC?" "Apa sebaiknya aku diam-diam membantu teman-teman baikku mendapatkan keuntungan?"
Pukul sepuluh tiga puluh malam.
Masih ada setengah jam sebelum lampu asrama dipadamkan.
Setelah kembali dari perpustakaan dan membersihkan diri sebentar, Su Xia naik ke ranjang atasnya, bersiap untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba ia melihat sebuah kotak paket di samping bantalnya.
Kotak itu tidak mencantumkan informasi pengirim, hanya terdapat tulisan miring “Ekspedisi Antar Bintang” di bagian depannya.
“Ekspedisi Antar Bintang? Di dalam negeri ada perusahaan ekspedisi seperti itu?” Su Xia tampak bingung. Ia melirik teman-teman sekamarnya yang sedang asyik bermain gim.
Jangan-jangan ini ulah jahil mereka? Dengan ragu, ia membuka kotak itu. Sebuah gelang hitam dan selembar petunjuk tipis langsung terlihat.
Su Xia mengambil petunjuk itu dan membacanya, hanya ada satu kalimat.
[Gelang ini sangat hebat. Kenakanlah, dan kau akan merasakan kehidupan yang berbeda.]
“Hebat sekali?” Su Xia mengatupkan bibir, tak terlalu percaya.
Gelang itu tampak biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Ia meletakkan petunjuk itu di samping, mengambil gelang tersebut, dan mencoba memakainya di pergelangan tangan kiri.
Tiba-tiba, gelang itu menyusut kuat, menggigit pergelangan tangannya erat-erat. Rasa nyeri seperti arus listrik langsung menyambar.
“Apa ini…”
Mata Su Xia seketika gelap. Tubuhnya lemas, terkulai di atas ranjang seolah jatuh pingsan.
Teman-teman sekamarnya masih asyik bermain bersama, tak menyadari apa yang terjadi.
...
Planet Biru.
Kota Zirah Rongsok, kawasan laboratorium pinggiran D3