Ringkasan versi biasa: Dunia mulai bertumpuk dengan dunia lain, berbagai makhluk aneh bermunculan satu demi satu. Sebagai satu-satunya orang di Bumi yang memiliki kekuatan luar biasa, Zhang Xiaoman merasa beban di pundaknya sangat berat. Agar hidupnya sedikit lebih ringan, ia memutuskan untuk berbohong. Baiklah, sebenarnya ini adalah kisah tentang seorang penipu besar yang menipu sekaligus menyelamatkan seluruh dunia. —————————————— Ringkasan versi serius: Dunia ini sedang mengalami perubahan. Ketika kebenaran yang belum diketahui terkuak, kejahatan dari bayang-bayang mulai menyebar, kegelapan akan menyelimuti tanah ini, siapakah yang masih menjaga fajar? Babak kebangkitan telah ditulis, overture evolusi mulai bergema, nyanyian kuno terdengar di telinga. “Ketakutan akhirnya akan diusir oleh harapan, kehendak para penerus pasti akan mengalahkan segalanya!” —————————————— Ringkasan versi penuh semangat: Monster-monster menyerbu dunia! Barisan monster: seluruh alam semesta. Barisan manusia: hanya aku seorang. Bagaimana ini? Mohon jawab segera! Benar-benar mendesak!
“Huff... huff...”
Di lorong sebuah gedung perkantoran tua, seorang pemuda tampak terengah-engah menuruni tangga.
Pemuda itu kira-kira berusia dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, merupakan karyawan magang di salah satu perusahaan di gedung itu. Saat ini, tangan kirinya memegang sebuah ponsel yang sedang memutar lagu untuk menguatkan hati di malam hari, sementara tangan kanannya tetap bersarang di saku, mencengkeram erat sesuatu.
“Ah ah oh~ ah ah oh hei~”
Suara nyanyian tanpa makna mengalun dari ponsel, menggema di lorong yang sempit dan gelap, menambah kesan aneh yang mencekam.
“Braaak!”
Sebuah suara keras terdengar saat pemuda itu tiba-tiba menerobos pintu darurat menuju parkiran bawah tanah.
“Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang terus mengikutiku!?”
Ia berlari menembus lorong yang panjang, wajahnya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.
“Kretek... kretek...”
Di belakangnya, terdengar suara seperti gesekan sendi tulang, membuat bulu kuduk merinding. Pemuda itu merasakan tubuhnya menggigil, langkahnya pun dipercepat, dan genggamannya pada benda di sakunya semakin erat.
“Gluk... gluk...”
Saat itu, suara aneh di belakangnya mendadak terdengar lebih dekat, seperti erangan yang keluar dari tenggorokan, seolah jaraknya kini hanya berselisih satu lantai saja.
“Sial! Kenapa bisa turun tangga secepat ini?!”
Jantungnya berdegup kencang, ada perasaan seolah ia akan tertangkap kapan saja.
“Sudahlah, aku tak peduli lagi, di sini saja aku lakukan!”
Pemuda itu segera mengeluarkan benda