Bab 17: Krisis Saudara Pahlawan
Melihat pesan yang dikirimkan oleh Wi, Zhang Xiaoman baru saja hendak membalas, namun beberapa rekan kerja lainnya sudah lebih dulu ikut meramaikan suasana.
Bu: "Bro Wi, kenapa sekarang kamu juga bersekongkol dengan Zhang Xiaoman untuk menipu orang? Hari ini hari April Mop, ya? Tapi jujur saja, trik kalian ini terlalu murahan, sama sekali tidak mempan buatku."
Tang: "Bro Wi, bukannya kamu mengaku sebagai pria paling berani di kantor ini? Kok cuma gara-gara sesuatu yang kotor saja kamu langsung ketakutan begitu? Gimana kalau gelar itu kamu serahkan ke aku saja? Biar aku yang panggil Pak Petugas Kebersihan?"
Wi: "Serius! Kalian harus percaya sama aku!"
Xian: "Saya angkat tangan mau bertanya, bagaimana cara percayanya? Berdiri atau tiduran, atau harus posisi lima titik menghadap langit?"
Wi: "Aku nggak bercanda sama kalian! Dengar dulu penjelasanku! Waktu pulang kerja tadi, karena lift penuh banget, aku sendirian turun lewat tangga. Pas sampai di lantai dua, tiba-tiba dari balik pintu darurat ada suara gluduk-gluduk, lalu terdengar dentuman keras, pintunya sampai bergetar."
Wi: "Aku berani jamin, itu jelas bukan manusia! Kalian nggak tahu suaranya, benar-benar menakutkan! Untung aku lari cepat, kalau nggak mungkin sekarang aku sudah celaka!"
Bu: "Udah ah, ngapain juga hantu nabrak pintu? Pasti dia tembus tembok nyari kamu dong!"
Xian: "Omongan Bu memang benar, tapi menurutku cerita Wi ini lumayan keren, bisa aku pakai buat live streaming nanti."
Zhang Xiaoman memandangi teman-temannya yang bercanda itu, tapi ia sama sekali tidak bisa tertawa.
Ia tahu, yang dikatakan Wi pasti benar. Makhluk aneh di kantor itu, kemungkinan besar masih berkeliaran.
Memikirkan hal ini, ia segera mengetik beberapa baris di grup obrolan, lalu menekan tombol kirim.
"Teman-teman, Wi tidak sedang bercanda, aku dan dia sama-sama mengalaminya. Makhluk itu mungkin masih berkeliaran di sekitar lantai dua dan tiga, area yang tidak disewa perusahaan dan biasanya tidak dijaga satpam. Aku tidak ingin ada di antara kita yang jadi korban pertama. Kita sudah jadi rekan, aku juga tidak ingin kalian dalam bahaya. Jadi, mulai sekarang usahakan naik lift saja, jangan lagi lewat tangga."
Setelah mengirim pesan itu, Zhang Xiaoman tidak lagi memperhatikan reaksi mereka dan langsung menutup grup. Ia tahu, mereka pasti tidak akan percaya dengan ucapannya. Menganjurkan mereka cuti atau resign, jelas lebih tidak mungkin lagi. Yang penting ia sudah memperingatkan, soal mereka mau mendengar atau tidak, itu urusan mereka.
Baru saja menutup ponsel, Zhang Xiaoman bermaksud menyiapkan bahan-bahan untuk menjual sushi esok hari, tiba-tiba ponselnya menyala lagi. Ada pesan masuk dari Bro Jantan.
Zhang Xiaoman mengambil ponsel dan seketika wajahnya berubah panik.
"Aku terjebak di parkiran bawah tanah, ada makhluk aneh di luar! Aku tidak berani bersuara! Cepat tolong laporkan polisi untukku!!!!"
Kepala Zhang Xiaoman langsung kosong sesaat, makhluk itu ternyata bertemu Bro Jantan? Sial, kenapa dia bisa sebegitu apesnya!
Ia segera meletakkan cangkir tehnya di atas meja, mengambil dua pistol air yang baru dibelinya dan hendak bergegas keluar.
Namun baru saja mengganti sepatu, Zhang Xiaoman terdiam di tempat.
Ia memandangi rumahnya, lalu menengok ke lorong luar, dan tiba-tiba muncul keraguan di hatinya.
"Apa aku benar-benar harus pergi? Itu makhluk dari dimensi lain, sesuatu yang benar-benar tidak diketahui dan menakutkan. Apa aku tidak akan membuat diriku sendiri dalam bahaya kalau ke sana sekarang?"
Ia merasa seolah sudah mempersiapkan diri dan menetapkan berbagai tekad, tapi pada saat genting, ia tetap ragu, tangan dan kakinya membeku dan terasa berat untuk melangkah.
"Tidak! Bro Jantan itu saudara kandungku! Satu-satunya saudara yang kupunya sejak kecil! Aku nggak bisa membiarkan dia mati! Kalau pun harus… aku akan lapor polisi di jalan! Bagaimanapun juga, aku harus ke sana!"
"Kalau Bro Jantan sampai benar-benar mati…"
Bayangan wajah istri Bro Jantan yang menangis histeris, dan kedua anak laki-lakinya yang meraung-raung memanggil ayah, langsung muncul di benak Zhang Xiaoman.
Walaupun sebenarnya anak Bro Jantan baru saja genap sebulan, jadi belum bisa memanggil ayah.
Tapi ternyata imajinasi Zhang Xiaoman cukup bermanfaat, karena itu membuat tekadnya untuk menyelamatkan orang bertambah kuat.
Kini, semuanya sudah jelas. Zhang Xiaoman tak lagi merasa kedinginan seperti tadi, malah semangatnya menyala-nyala, seolah hendak bertarung.
Sesampainya di gerbang kompleks, Zhang Xiaoman meminjam uang dari Pak Ma untuk memesan taksi online.
Sambil menunggu mobil, ia tiba-tiba teringat pengalaman terakhirnya bertemu makhluk itu, lalu secepatnya membuka ponsel dan mengirim pesan pada Bro Jantan.
"Bro Jantan! Kamu sembunyi yang baik! Jangan bersuara! Kalau sampai ketahuan makhluk itu, segera putar lagu bernada tinggi! Dia takut nada tinggi! Ingat baik-baik!"
Tak ada balasan dari Bro Jantan, Zhang Xiaoman pun tak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Ia hanya bisa berharap ia selamat.
Di dalam mobil, Zhang Xiaoman tidak tinggal diam. Ia menelpon polisi, berharap ada bantuan tambahan.
"Halo, Pak Polisi! Di Gedung Aries, Kawasan Industri Informasi Timur, ada hantu! Temanku terjebak di parkiran bawah tanah! Dia nggak berani bersuara, jadi minta aku yang melapor, tolong segera ke sana!"
"Tuan, di dunia ini tidak ada hantu, mohon jangan bercanda dengan laporan seperti ini…"
"Ah! Benar, benar! Bukan hantu, itu monster! Ada monster di sana! Temanku terjebak sama monster itu!"
"Tuan, mohon jangan melakukan panggilan darurat dengan maksud iseng. Kali ini kami beri peringatan lisan, jika Anda tetap tidak mendengarkan, kami akan menindak secara hukum!"
"Bukan, Mbak Polisi, dengarkan aku! Di sana benar-benar ada monster! Monster pemakan manusia! Mbak… Mbak!?"
"Tuut… tuut… tuut…"
Zhang Xiaoman melongo menatap layar ponsel yang sudah terputus, mulutnya menganga lebar.
"Aku… aku tadi ngapain, sih?" Wajahnya penuh kebingungan dan tak percaya, "Kenapa aku sebodoh itu! Kenapa aku langsung bilang ada monster! Astaga!"
Kini Zhang Xiaoman benar-benar menyesal, ingin rasanya menampar dirinya sendiri.
Tadinya ia berharap mendapat bantuan, tapi karena panik, ia malah mengacaukan semuanya.
"Masih terlalu cupu! Mental ku belum cukup kuat! Maaf, Bro Jantan… Aku harus turun tangan sendiri…"
Zhang Xiaoman merasa sangat bersalah.
Sopir di depan sempat melirik ke arah penumpang lewat kaca spion, ekspresinya campur aduk.
"Maaf, Pak, bisakah agak ngebut sedikit, saya… saya ada urusan penting!" Zhang Xiaoman berusaha menyembunyikan wajah malunya.
Sopir itu cukup sigap, memberi isyarat OK, lalu segera menginjak gas dan menunjukkan kemampuannya.
"Mas, nanti jangan lupa kasih bintang lima, ya!"