Sang Pembawa Wahyu telah tiba, baja tunduk pada kehendaknya, api mengakui dirinya sebagai penguasa, dan dunia gemetar di hadapan kekuatannya. Ia akan menyelamatkan segala penderitaan, ia akan membawa surga turun ke bumi—Setelah ramalan Sang Wahyu diumumkan oleh bijak Nia, seluruh dunia pun bergolak, baik monster maupun manusia berlomba-lomba mencari Sang Pembawa Wahyu. Pada waktu yang sama, Rosen, mahasiswa unggulan di jurusan fisika, tanpa sengaja terlempar ke dunia lain yang dipenuhi monster, kegelapan, dan kebodohan. Di dunia asing itu, ia tetap mewarisi ajaran Sang Tuan Newton, dengan bangga menjadi seorang... murid alkimia. Ada yang berkata, "Newton adalah ilmuwan pertama di dunia modern, sekaligus alkemis terakhir di masa kegelapan." Sebuah syair mengungkapkan, "Andai Newton tak dilahirkan, sepanjang sejarah akan tetap gelap." Rosen pun menyadari, di dunia baru ini, mungkin... ia punya peluang... kesempatan... untuk menggantikan nama ‘Newton’ dengan namanya sendiri.
Bermain game, melawan bos, begadang hingga larut malam, dan merasa lapar—apa kira-kira kejadian tak terduga yang bisa terjadi jika keluar rumah untuk mencari makan malam? Kecelakaan lalu lintas? Perampokan? Atau... pertemuan romantis?
Bukan semuanya.
Rosen membuka pintu apartemennya, melangkah keluar, dan tiba-tiba saja sudah berada di dunia lain.
Begitu melangkah melewati ambang pintu, kepalanya terasa limbung, cahaya di sekeliling bergetar aneh seperti riak air, ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Rosen cepat-cepat meraih gagang pintu di belakangnya secara refleks, menahan tubuhnya sebelum terjatuh.
“Apa-apaan ini? Gempa bumi, kah... Tidak, ada yang aneh, rasa gagang pintunya beda!”
Gagang pintu apartemen yang ia sewa terbuat dari baja tahan karat yang licin dan dingin, tapi gagang yang ia pegang sekarang terbuat dari kayu, permukaannya kasar dan penuh ukiran motif yang asing. Ia menoleh ke belakang dan melihat pintu yang ia sandari bukan lagi pintu baja biru tua apartemennya, melainkan pintu kayu berwarna alami yang dipenuhi ukiran kuno.
Cahaya di sekeliling pun berubah. Lampu hemat energi di lorong apartemen biasanya berwarna putih dan terang, tapi kini menjadi kuning temaram, redup, dan bergoyang-goyang.
Rosen mengikuti sumber cahaya itu dan melihat di tengah ruangan ada sebuah meja tulis bergaya kuno, di atasnya terdapat tempat lilin perak dengan dua belas batang lilin, enam di antaranya menyala. Di samping tempat lilin, ada sebuah buku tebal dengan kertas menguning.
Tangga dan pintu kayu, perabotan bernuansa