Sun Yu tiba di dunia yang telah hancur, sistem Komando Merah pun aktif. Apa peduliku pada kawanan makhluk buas? Aku punya jutaan pasukan! Apa peduliku pada mayat yang berserakan di mana-mana? Lihatlah arus baja yang kugerakkan! Kekuatanmu tak ada yang bisa menandingi? Badai petirku menghancurkan segala yang tua dan rapuh, sekalipun bentengmu kokoh dan tembokmu teguh? Nuklirku mampu memusnahkan langit dan bumi! Dengan Komando Merah di tangan, dunia ini menjadi milikku.
Sun Yu membuka matanya. Hari ini yang membangunkannya bukanlah alarm, melainkan suara aneh yang entah dari mana asalnya.
“Tuan, selamat datang di kiamat, Sistem Komando Merah siap melayani Anda.”
Sun Yu berusaha bangkit dari lantai dengan susah payah...
Tunggu, lantai?
Bukankah aku tidur di ranjang kemarin?
Sun Yu segera melihat sekeliling.
Ia menemukan dirinya bukan di kamar kontrakannya, melainkan terbaring di tengah reruntuhan.
Di mana ini? Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?
Sun Yu bingung, bertanya-tanya dalam hati.
Benar juga, tadi seperti ada suara yang menyebut soal sistem.
“Benar, itu Sistem Komando Merah,” Sun Yu akhirnya teringat nama itu.
“Tuan, saya di sini.”
“Gila, ternyata benar-benar Sistem Komando Merah!” Sun Yu tak bisa menahan diri untuk mengumpat.
Komando Merah, Sun Yu sudah sangat familiar dengan nama ini. Dulu, setiap masuk warnet, setengah komputer di sana pasti sedang menjalankan game ini.
Bahkan dua puluh tahun kemudian, game ini masih punya banyak penggemar di berbagai platform.
Sun Yu bertanya hati-hati, “Jadi, aku ini menyeberang ke dunia lain?”
“Benar, Tuan. Sekarang Anda berada di Bintang Biru. Saat ini Bintang Biru sedang berada di akhir zaman, masa bencana besar, atau yang biasa disebut kiamat. Anda harus berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup, karena bahaya di sini tak sesederhana yang terlihat.”
Bintang Biru penuh dengan para penyeberang dunia.
Sun Yu membatin dalam hati.
Setelah syok sesaat, ia cepat menyesua