Di kehidupan sebelumnya, ia rela menahan segala hinaan demi kedamaian, namun akhirnya dipaksa menikah dengan pria tak bermoral dan menjadi korban kejahatan mereka, menyisakan sisa hidup dalam kesepian di bawah cahaya lampu redup. Di kehidupan kali ini, ia bertekad merajut takdirnya sendiri, melawan ibu tiri licik, melindungi ibu kandungnya, merencanakan perjodohan, dan meraih cinta serta kemuliaan sepanjang hidup.
Konon, setiap tahun mulai dari tanggal satu bulan ketujuh, gerbang neraka akan terbuka. Roh-roh penasaran yang selama setahun penuh menderita dan terbelenggu di neraka akan keluar, mendapatkan kebebasan sementara untuk berkeliaran, menikmati darah dan makanan manusia. Karena itu, bulan ketujuh disebut juga Bulan Hantu. Bulan ini dianggap sebagai waktu penuh kesialan, masyarakat tidak menikah, tidak pindah rumah, apalagi melakukan penggalian tanah.
Konon pula, pada tengah malam tanggal empat belas bulan ketujuh, gerbang hantu terbuka dan baru akan tertutup kembali pada tengah malam tanggal lima belas. Semua arwah harus kembali ke alam baka sebelum gerbang itu tertutup, jika tidak, mereka akan terdampar di dunia manusia menjadi arwah penasaran yang kesepian!
Tanggal lima belas bulan ketujuh juga merupakan hari libur bagi para hantu. Pada hari itu, semua hantu bebas naik ke dunia manusia untuk bersantai, sehingga disebut sebagai Festival Hantu.
Banyak sekali legenda, namun tak peduli yang mana, sepanjang bulan ketujuh dianggap sebagai bulan dengan aura yin terberat dalam setahun. Jumlah arwah gentayangan meningkat, dan pada malam hari dilarang menangis atau bersiul, agar tidak mengundang para hantu!
Di kalangan masyarakat, anak yang lahir tepat pada hari Festival Hantu tanggal lima belas bulan ketujuh disebut sebagai Anak Hantu.
Konon, Anak Hantu membawa sial untuk ayah, ibu, dan orang terdekatnya. Mereka kerap dianggap sebagai pembawa petaka, ditakuti dan dibenci oleh masyarakat.
Bulan ketujuh tahun itu seolah-olah membuktikan kebenaran