Bab Empat Puluh Enam: Semua Terperanjat
Baru satu jam setelah memasuki kediaman bangsawan, Siulan sudah menyimpulkan beberapa hal. Pertama, Nyonya Tua bahkan tak sudi berpura-pura memperlihatkan kasih sayang pada mereka bersaudara. Kedua, meskipun Siuyang akan segera diangkat menjadi pewaris resmi keluarga, keadaannya di dalam kediaman tak banyak berubah, terbukti dari para pelayan di hadapan Nyonya Tua yang bisa bertingkah semaunya.
Kedatangan Nyonya Lin Muda pun tak di luar dugaan Siulan. Jika ia tak memanfaatkan situasi untuk menambah kesulitan, itu jelas bukan dirinya. Namun, kemunculan Siukong sungguh di luar perkiraan Siulan.
Di tengah keterkejutan itu, Siulan menggunakan Siuyang sebagai tameng untuk mengamati ayah kandung mereka dengan saksama. Ia sama sekali tak dapat melihat adanya kepura-puraan pada Siukong, seolah semua ini benar-benar tulus. Hal ini sangat mengguncang Siulan, membuatnya merasa tak mampu menebak watak ayah yang satu ini.
Di kehidupan sebelumnya, Siukong telah berkali-kali membuat kecewa, dan yang paling membekas di hati Siulan adalah setelah ibunya wafat, Siukong segera mengangkat Nyonya Lin Muda sebagai istri sah.
Namun, benarkah orang di hadapannya kini adalah orang yang sama dengan dalam ingatan masa lalu? Di masa lalu, Siukong membiarkan Siulan, putri sah keluarga bangsawan, diusir keluar kediaman sejak lahir, tanpa pernah menengok selama belasan tahun. Ia membiarkan seorang selir berkuasa di rumah sendiri meski istri sah masih hidup. Baru saja sang istri meninggal, ia langsung mengangkat selir itu menjadi istri utama dan membiarkannya berbuat semaunya terhadap putra putri yang ditinggalkan istri terdahulu. Ia juga membiarkan istri barunya menyingkirkan anak lelaki sulung dari ibu sah hingga ke luar ibu kota, dan menikahkan putri sulungnya dengan pria tak berguna.
Benarkah orang di depannya ini adalah lelaki yang atas nama bakti pada ibu, tega melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma dan perasaan? Kemunculan Siukong hari ini sungguh mengguncang Siulan, membuatnya tanpa sadar bersembunyi di belakang Siuyang sambil mengamati ayahnya dengan cermat.
Sebenarnya, bukan hanya Siulan yang terkejut—Siuyang pun demikian. Ia menatap Siukong yang dingin membeku itu dengan kebingungan, tak mengerti mengapa ayah yang selama ini acuh tak acuh itu tiba-tiba bertindak begitu keras hari ini.
Dalam ingatannya, Siukong memang tidak pernah terlalu menaruh perhatian pada Nyonya Lin Muda. Selain selalu patuh tanpa alasan pada Nyonya Tua, Siukong sangat dingin pada setiap perempuan, termasuk pada istri sahnya, ibu mereka.
Namun, di balik keterkejutannya, Siuyang tidak lupa pada Siulan yang ia lindungi di belakangnya. Ia menoleh, berniat menarik Siulan ke depan. Tapi Siulan kelihatan ketakutan, dan begitu Siuyang hendak mengajaknya ke depan, ia malah semakin bersembunyi di belakang Siuyang.
Melihat itu, hati Siuyang terasa tak nyaman. Adiknya benar-benar terlalu lembut dan rapuh. Di kediaman ini, meski tak banyak orang, namun penuh dengan makhluk licik dan berbahaya. Sepertinya ia harus lebih banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk melindungi ibu dan adiknya.
Dengan pikiran seperti itu, Siuyang memandang Siulan dengan lebih lembut. Sambil mengangkat dagu ke arah Siukong, ia menenangkan adiknya dengan suara pelan, “Jangan takut, itu ayah kita.”
Suara Siuyang sangat lirih. Karena Siukong untuk sekali ini bertindak tegas pada Nyonya Lin Muda, ia tentu tak ingin aksinya itu digagalkan hanya karena sikap mereka.
Nyonya Lin Muda biasa berpura-pura bijak dan murah hati di depan Siukong. Mungkin hari ini ia mengira Siukong masih sibuk menyambut Jenderal Besar dan Bangsawan Pendiri Negara atas perintah Kaisar, jadi ia berani datang ke taman Ci’an untuk mencari gara-gara begitu tahu Siuyang dan Siulan datang.
Sayangnya, Siukong justru pulang lebih awal dan memergokinya. Meski Nyonya Lin Muda merasa telah menemukan celah untuk menyulitkan Siuyang bersaudara, ia malah terkena batunya sendiri.
Biasanya, dengan perlindungan Nyonya Tua dan kepandaiannya sendiri, Siuyang tak pernah ingat ada kesempatan di mana Siukong bisa mengambil tindakan tegas pada Nyonya Lin Muda.
Hari ini, Nyonya Lin Muda berani secara terang-terangan menyebut dirinya ‘Nyonya Besar’ di depan mereka. Itu bukan hanya melanggar batas kesabaran Siuyang, dari reaksi Siukong, tampaknya juga sudah melampaui batas yang bisa ia toleransi.
Tentu saja, mungkin tindakan Siukong hari ini juga disebabkan rasa bersalah pada Siulan, sehingga ia bermaksud mengambil hati putrinya. Lagi pula, dengan kehadiran Kepala Pelayan Lin di Ci’an Yuan bersama Siukong, pasti ia sudah tahu ada yang hendak memberi pelajaran pada Siulan hari ini.
Namun, apapun alasannya, Siukong bertindak tegas pada Nyonya Lin Muda, bahkan langsung menamparnya, itu adalah pemandangan yang sangat memuaskan bagi Siuyang.
Ternyata, yang terkejut bukan hanya Siuyang dan Siulan. Para pelayan, babu, dan pembantu lelaki yang berjaga di dalam dan luar taman Ci’an pun ternganga melihat Siukong menampar Nyonya Lin Muda.
Hanya Kepala Pelayan Lin yang menunggu di luar taman Ci’an tampak tidak terkejut, malah menunjukkan ekspresi seolah akhirnya keadilan terjadi, dengan senyum tipis di bibirnya.
Meskipun para pelayan seperti Liumei dan Qingtzu belum pernah berurusan langsung dengan Nyonya Lin Muda, mereka tahu dari Ibu Li betapa berbahayanya perempuan itu. Sebelum kembali ke kediaman, Ibu Li sudah berulang kali memperingatkan mereka untuk sebisa mungkin menghindari Nyonya Lin Muda.
Namun, siapa sangka, baru saja masuk kediaman, mereka sudah langsung berhadapan, dan bahkan menyaksikan sendiri bagaimana Nyonya Lin Muda ditampar oleh Tuan Besar.
Liumei dan Qingtzu mungkin belum sepenuhnya memahami betapa pendendamnya Nyonya Lin Muda, tapi para pelayan yang biasa melayaninya sangat paham. Hari ini, setelah melihat sisi terburuk majikannya, mereka khawatir suatu saat nanti akan dicari-cari alasan untuk dipecat atau bahkan dihukum berat.
Sampai saat ini, kendali rumah tangga masih di tangan Nyonya Lin Muda. Ia bisa saja menjual atau menghukum pelayan yang ia benci, dan itu sudah pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu, kecuali Ibu Li yang tetap tenang mendampingi Siulan, dan Liumei serta Qingtzu yang belum tahu bahaya, hampir semua pelayan lain berharap bisa menciut sekecil mungkin agar tak terlihat.
Siukong mengalihkan pandangan jijik dari Nyonya Lin Muda, lalu menatap para pelayan yang berdiri terpaku di halaman dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada Siulan yang kini berdiri sejajar dengan Siuyang.
Wajah Siulan yang mewarisi enam hingga tujuh bagian kemiripan dari mendiang Han, serta sepasang mata yang benar-benar sama, seolah menghantam dadanya dengan dahsyat.
Perasaan perih tiba-tiba membuncah, membuat tubuhnya berguncang, lalu rasa asam dan getir menyeruak di dada, dan matanya mulai berkaca-kaca, pandangannya menjadi kabur hingga sosok kecil di depannya pun tak lagi terlihat jelas.