Bab Empat Puluh Tiga: Unjuk Kekuatan

Putri Sulung yang Angkuh Daun yang penuh kasih dan kenangan 2431kata 2026-03-05 15:33:55

Kediaman keluarga bangsawan itu, bila dibilang besar memang tidak terlalu besar, tapi juga jelas tak bisa dianggap kecil. Jika benar-benar berjalan dari gerbang utama hingga ke Aula Ci'an milik Nyonya Besar di halaman belakang, dengan kaki kecil Si Jiao, kira-kira butuh waktu dua puluh menit lebih. Karena itu, sebelum berangkat, Si Yang dan Pengurus Lin sudah memerintahkan agar tandu kecil disiapkan di dalam kediaman.

Namun, ketika Si Yang menggandeng Si Jiao memasuki gerbang utama, tandu kecil yang seharusnya sudah menunggu di sana ternyata tak tampak batang hidungnya.

Wajah Si Yang langsung menjadi dingin. “Tandu kecilnya mana?”

Raut wajah Pengurus Lin pun berubah suram. Padahal ia sudah mengatur satu tandu kecil khusus menunggu di gerbang utama sebelum berangkat, bahkan mengingatkan para pelayan pengusung tandu agar tidak bermalas-malasan. Tapi kini, bukan hanya tandunya yang tak ada, pelayannya pun lenyap. Jelas sekali ada yang ingin memberi pelajaran pada Nona Besar!

“Tuan Muda, Nona, saya akan segera kembali,” ucap Pengurus Lin, menghapus amarah di wajahnya. Ia membungkuk hormat pada Si Yang dan Si Jiao, lalu hendak pergi.

“Paman Lin, silakan saja. Aku akan pergi bersama Kakak menyalami Nyonya Besar,” suara Si Jiao menghentikan langkah Pengurus Lin. Ia tersenyum lembut sambil menggeleng, menandakan agar sang pengurus tidak perlu khawatir.

Sebenarnya ia tak takut berurusan dengan orang-orang semacam itu. Namun hari ini ia baru saja kembali ke rumah, dan ingin segera menemui ibunya di Paviliun Mei, jadi ia tidak mau memperbesar masalah.

Lagipula, ini kali pertama ia pulang, ia memang harus mengenal lingkungan kediaman ini.

Untuk mengenali tempat ini, bukankah lebih baik sembari berjalan dan mengamati?

Ucapan Si Jiao memang ditujukan pada Pengurus Lin, tapi sesaat kemudian ia melemparkan kedipan mata dan anggukan singkat pada Si Yang.

Si Yang yang cerdas segera menangkap maksud Si Jiao dari ekspresi wajahnya. Raut dingin di wajahnya pun mereda. Ia berkata pada Pengurus Lin, “Kalau Adik tidak keberatan, Paman Lin bisa kembali ke sisi Ayah.”

Dalam hati Si Yang sedikit geli. Rupanya ia benar-benar belum mengenal adik kandungnya ini. Siapa pun yang berani memberi pelajaran pada Si Jiao hari ini, selama Si Kong masih peduli pada putrinya, maka setelah Pengurus Lin melapor, Si Kong pasti akan bertindak. Biarlah orang yang berbuat onar itu menunggu ganjarannya!

Pengurus Lin yang melihat Si Jiao bersikeras, akhirnya hanya bisa berdiri di samping, lalu mengantar Si Yang dan Si Jiao dengan pandangan hingga mereka berjalan menuju Paviliun Ci'an milik Nyonya Besar. Setelah bayang-bayang kakak beradik itu lenyap, barulah Pengurus Lin bergegas pergi. Ia harus menyelidiki kejadian hari ini sampai tuntas, kalau tidak, bagaimana ia bisa mempertanggungjawabkan pada Si Kong?

Meski kediaman bangsawan itu adalah rumah Si Jiao, baginya tempat itu terasa sangat asing. Maka sambil berjalan, ia pun sekalian menghafal jalan.

Si Jiao bukanlah gadis yang mudah tersesat. Selain itu, Si Yang hari ini tampak sangat sabar dan penuh perhatian. Ia sengaja melambatkan langkah, sambil menunjuk dan menjelaskan berbagai tempat kepada Si Jiao.

Sepanjang perjalanan, Si Jiao mulai mengenal lingkungan sekitarnya, dan para pelayan di kediaman itu pun bisa melihat betapa Si Yang sangat menyayangi adiknya. Isu bahwa Si Yang akan segera diangkat menjadi pewaris keluarga sudah menyebar perlahan di kediaman itu. Para pelayan yang dulu tidak begitu menghormati Si Yang, kini mulai menahan diri. Maka Si Jiao, sebagai adik kandung Si Yang, meski sejak kecil sudah dikirim keluar rumah, hari ini berjalan bersama kakaknya, cukup membuat para pelayan yang cermat merasa perlu lebih waspada.

Mungkin inilah hasil yang diharapkan oleh Si Yang dan Si Jiao.

Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, mereka berdua akhirnya tiba di Paviliun Ci'an tempat tinggal Nyonya Besar.

“Nenek sudah bangun?” tanya Si Yang saat mereka berhenti di depan kamar Nyonya Besar. Tepat saat itu, Nyonya An, pengasuh yang paling dekat dengan Nyonya Besar, keluar dari kamar.

“Tuan Muda sudah datang, pasti ini Nona Besar, ya. Sayang sekali, kalian harus menunggu sebentar. Nyonya Besar tidur siangnya agak larut hari ini, sekarang masih terlelap,” Nyonya An memandang Si Yang lalu melirik Si Jiao yang berdiri di samping kakaknya dengan kepala menunduk. Senyumnya pun merekah seperti bunga krisan.

“Kalau begitu, kami akan kembali nanti saja. Aku dan Adik belum makan siang, sekalian ke tempat Ibu untuk menikmati camilan. Kalau Nenek sudah bangun, kami akan kembali memberi salam,” Si Yang menoleh ke arah tirai kamar yang masih bergoyang, seberkas cahaya yang sulit ditebak melintas di matanya. Ia sedikit mengangkat alis dan tersenyum tipis.

“Ini... Tuan Muda, mohon tunggu sebentar. Biar saya periksa dulu, barangkali Nyonya Besar sudah bangun,” Nyonya An tampak panik saat melihat Si Yang hendak pergi membawa Si Jiao. Ia pun buru-buru kembali masuk ke dalam kamar, khawatir Si Yang benar-benar membawa adiknya pergi dari Paviliun Ci'an.

Di wajah Si Jiao yang menunduk, terselip senyum sinis. Sementara itu, wajah Mama Li, serta para pelayan Lu Mei dan Qing Zhu yang mengiringi mereka, juga terlihat berubah.

Siapa pun bisa melihat, alasan tidur siang itu hanya dalih belaka. Jelas Nyonya An mendapat perintah dari Nyonya Besar untuk sengaja menyulitkan Nona Besar. Entah trik apa lagi yang disiapkan oleh Nyonya Besar.

Menyadari Nyonya Besar hendak mempersulit Si Jiao, Mama Li dan para pelayan pun mulai merasa khawatir. Walaupun kondisi Si Jiao sudah jauh membaik, tapi dibandingkan gadis kebanyakan, ia tetap lebih lemah. Mereka hanya bisa berharap Nyonya Besar, mengingat Si Jiao sudah lama tak tinggal di rumah, mau sedikit berbelas kasihan.

Namun Si Jiao sendiri sama sekali tidak gentar. Tubuhnya memang tampak lebih kurus dan lemah dari orang kebanyakan, tapi setelah setahun pemulihan, keadaannya sudah hampir pulih sepenuhnya. Bahkan tenaga dalamnya kini sudah luar biasa, mungkin saja Si Yang pun belum sekuat dirinya.

Kalau tidak, dari tadi ia pasti sudah kelelahan!

Orang yang sengaja memindahkan tandu kecil itu pasti ingin melihatnya tak berdaya. Sayang sekali, meski tubuhnya tampak kurus, hari ini ia tidak akan membiarkan para penjahat kecil itu bersenang hati.

Hari ini adalah hari pertamanya kembali ke kediaman, Si Jiao sudah menyiapkan diri untuk menghadapi segala kesulitan.

Nyonya Besar memang nenek dan orang tua, kalau beliau mau mempersulit, Si Jiao siap menerima semuanya.

Tapi untuk orang lain seperti Nyonya Lin dan Si Jin, Si Jiao tidak akan membiarkan mereka semena-mena terhadap dirinya.

Waktu pun berlalu, namun dari dalam kamar Nyonya Besar tak terdengar satu pun suara, bahkan Nyonya An tak kunjung muncul kembali. Dua pelayan muda yang berjaga di depan pintu hanya menunduk, seolah-olah di halaman itu tak ada kakak beradik Si Jiao dan Si Yang. Meski begitu, sesekali mereka tetap mencuri pandang ke arah kakak beradik itu.

Untunglah cuaca hari ini tak terlalu panas atau dingin, jadi berdiri agak lama pun tak jadi soal.

Si Yang yang melihat Nyonya An tak kunjung keluar dan kamar Nyonya Besar tetap sepi, semakin paham bahwa Nyonya Besar benar-benar ingin mempersulit Si Jiao. Wajahnya pun berubah muram.

Ia melirik adiknya yang sejak tadi menunduk, merasa semakin iba dan sekaligus kesal pada Nyonya Besar.

“Adik, kau lelah? Kalau mau, istirahatlah dulu di bawah pohon itu,” ujar Si Yang sambil menunjuk meja dan bangku batu di bawah pohon tak jauh dari mereka.

“Tenang saja, Kak, aku baik-baik saja,” jawab Si Jiao, mengangkat kepala dan tersenyum manis pada Si Yang, lalu menggeleng pelan.

Jika Nyonya Besar ingin mempersulit dan memberi pelajaran, biarlah ia lakukan sepuasnya. Siapa tahu, suatu saat nanti, Si Jiao bisa membalas semuanya dengan bunga-bunganya sekalian.