Bab Dua: Tuan dan Pelayan
Setelah rombongan Situjin pergi, tubuh Situjiao yang berada di dalam kamar pun benar-benar lunglai, seolah kehilangan penyangga, kepalanya tertunduk dan ia terjatuh lemas di lantai, bersandar pada dinding.
Padahal ia hanya mengerahkan sedikit tenaga dalam, namun itu sudah membuatnya merasa lemas sampai-sampai menggerakkan jari pun tak sanggup lagi.
Ah, meskipun setahun belakangan ini ia sudah berusaha keras meningkatkan kemampuan bela dirinya, tubuh kecilnya tetap saja terlalu rapuh.
Dari luar kamar, terdengar suara tegas Li Mama yang dengan cekatan membagi perintah, “Semua kembali ke kamar masing-masing, bersihkan diri dan oleskan obat, lalu lanjutkan tugas seperti biasa. Lumei, kau bagikan salep ke semua orang, Qingzhu, kau ke dapur lihat apakah ramuan obat Nona sudah siap?”
Setelah terdengar beberapa jawaban, langkah kaki di luar pun terdengar kacau, lalu semuanya sunyi senyap.
Pintu kamar berderit dibuka dari luar, lantas terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa masuk.
Situjiao tak perlu mengangkat kepala pun sudah tahu itu suara Li Mama, sebab ia sadar ulahnya barusan memang berhasil mengelabui Situjin, namun mustahil menipu Li Mama.
Lagi pula, keributan di luar tadi bukan sepenuhnya hasil perbuatannya. Ia hanya tak tega melihat para pelayan dan ibu rumah tangganya ditindas Situjin, jadi ia hanya memberi sedikit dorongan, selebihnya adalah bantuan Li Mama yang tampak tak disengaja namun sebenarnya sangat penting.
Tanpa bantuan diam-diam Li Mama di antara kerumunan luar kamar, dengan kekuatan dalam yang ia miliki saat ini, mustahil Situjiao bisa menakuti Situjin, apalagi sampai membuat rombongannya lari tunggang langgang dari paviliun ini.
Langkah kaki Li Mama tampak menuju ruang dalam, namun tak lama kemudian ia sudah berada di samping Situjiao dengan langkah cepat.
Lalu suara Li Mama yang terdengar antara mengeluh dan menegur masuk ke telinga Situjiao, “Nona, mengapa kau nekat memakai tenaga dalam? Kami para pelayan ini kulitnya tebal, dipukul beberapa kali pun tak apa-apa. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada Nona, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya pada Nyonya?”
Bersamaan dengan itu, sepasang tangan kasar menyelip di bawah ketiak Situjiao, dan dengan cekatan mengangkatnya dari lantai.
Situjiao menyandarkan kepala ke pelukan Li Mama, lalu dengan suara yang nyaris tak terdengar ia menenangkan, “Mama, jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Istirahat sebentar pun sudah cukup.”
“Nona, jangan lagi sembarangan pakai tenaga dalam. Setahun ini susah payah kau baru berhasil menghimpun sedikit tenaga di dantian, jangan dihambur-hamburkan seperti ini.” Meski bernada memarahi, suara Li Mama penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
“Baik, lain kali tanpa seizin Mama, Jiaolan tak akan sembarangan lagi memakai tenaga dalam. Mama jangan marah, ya.” Situjiao tentu mengerti isi hati Li Mama.
Li Mama membaringkan Situjiao di ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan selimut tipis, lalu duduk di bangku kecil di tepi ranjang, menggenggam tangan Situjiao dan memeriksa denyut nadinya.
Setelah memeriksa nadinya, raut wajah Li Mama pun agak membaik.
Meski Situjiao tadi memaksakan diri memakai tenaga dalam, untungnya tak membahayakan tubuhnya. Kelemahan yang ia rasakan sekarang lebih disebabkan oleh masuk angin, nadinya memang lemah tapi tidak membahayakan.
Namun mendengar jawaban Situjiao yang agak menggampangkan, Li Mama pun memasang wajah tegas, melotot pada Situjiao, “Tidak boleh ada lain kali!”
“Baik, semuanya akan kuturuti kata Mama!” Situjiao tersenyum tipis, tampak sangat patuh dan manis.
Li Mama menegakkan punggung, menghela napas, pandangannya tertuju pada anak yang ia besarkan sendiri itu, penuh kasih sayang dan rasa sayang yang mendalam, berbagai perasaan bercampur di hatinya.
Nona yang terbaring di ranjang ini, sejak setahun lalu setelah didorong hingga terluka oleh adik keduanya, benar-benar telah berubah.
Dulu, mana mungkin ia berani melawan?
Memang, Situjiao dulu selalu enggan belajar bela diri. Walau setiap tahun Kakek Han selalu datang ke paviliun untuk membantu melenturkan otot dan mengalirkan tenaga dalam padanya, tetapi tenaga itu tak pernah berhasil dihimpun di dantian-nya.
Setahun ini, begitu berubah, ia berlatih keras setiap hari, ditambah bakat bawaannya memang bagus, sehingga hasilnya pun luar biasa.
Hanya saja…
Dalam hati, Li Mama menghela napas panjang. Ia berharap Situjiao tak lagi lemah dan rendah diri seperti dulu, tapi juga tak ingin ia menjadi terlalu keras dan kaku.
Tak sadar ia teringat, sesuatu yang terlalu keras mudah patah.
Namun, begitu mengingat Rumah Adipati Annin yang bagaikan kubangan lumpur, Li Mama pun terpaksa menguatkan hati. Jika Situjiao kembali jadi lemah dan penakut seperti dulu, bila nanti kembali ke Rumah Adipati Annin, belum lama sudah pasti akan dilumat habis tanpa sisa.
Bukankah Nyonya Han adalah contoh paling nyata?
Nyonya Han berasal dari keluarga Jenderal Han yang menguasai hampir seluruh kekuatan militer Negeri Nanling, tapi lihatlah kehidupannya sekarang di Rumah Adipati?
Kondisi Nyonya Han memang sangat dipengaruhi oleh sakit-sakitan akibat melahirkan Situjiao secara sulit, namun sifat dasarnya yang lembut adalah penyebab utama. Tepat seperti pepatah, kelembutan berlebih mengundang kelemahan.
Kalau tidak, mana mungkin seorang selir seperti Ny. Lin, yang tidak terlalu disayang Adipati Annin, bisa memegang kekuasaan rumah tangga?
Padahal, jika saja Nyonya Han tak terlalu lemah, para pelayan tangguh di sisinya bisa membantunya mengendalikan seluruh rumah tangga, apalagi ada keluarga Jenderal Han sebagai penopang.
Sayangnya, Nyonya Han terlalu lemah, sampai-sampai tak mampu melindungi putrinya sendiri, dan membiarkan seorang selir menguasai rumah tangga.
Dulu, ibu kandung Nyonya Han yang juga nyonya besar Keluarga Jenderal, demi putrinya yang lemah, memilihkan pelayan-pelayan tangguh seperti Li Mama untuk dibawa serta sebagai pengiring dan pelengkap mas kawin saat menikah.
Sayangnya, Nyonya Han tak pernah memanfaatkan sumber daya itu dengan baik, terhadap Nyonya Tua Rumah Adipati pun ia selalu terlalu penurut.
Jadilah, selama bertahun-tahun hidup Nyonya Han di Rumah Adipati Annin hanya bisa digambarkan dengan satu kata: suram.
Sebesar apapun kekuatan para pelayan, jika sang majikan terlalu lemah, mana mungkin mampu melindungi orang-orangnya di dalam rumah tangga yang penuh intrik?
Mengingat Nyonya Han yang kini masih bertahan hidup di Rumah Adipati Annin, hati Li Mama terasa sangat pedih.
Meski hanya mengeluh dalam hati, namun hal itu tak luput dari pengamatan Situjiao. Ia menepis kesedihan di matanya, lalu tersenyum, “Mama, jangan bersedih, semuanya akan membaik. Kita pasti akan kembali ke Rumah Adipati.”
Li Mama agak tertegun mendengar ucapan Situjiao, setelah beberapa saat baru ia bertanya lirih, “Nona, benar-benar ingin kembali ke Rumah Adipati?”
“Ya, aku pasti akan kembali! Mama, apakah Mama takut?” Situjiao menjawab tegas, wajahnya pun sangat serius.
“Takut? Walau Nona harus pergi ke sarang naga sekalipun, aku tetap akan ikut. Pokoknya di mana Nona berada, di situ aku akan selalu ada!” Mata Li Mama memancarkan cahaya penuh keyakinan.
“Bagus, dengan janji Mama, aku jadi makin percaya diri! Mama, setelah ini, Mama, Lumei, Qingzhu, dan yang lain bisa mulai berkemas pelan-pelan. Dalam dua bulan ke depan, kita usahakan sudah kembali ke Rumah Adipati.” Situjiao berkata penuh semangat.
Li Mama walau masih ragu, namun demi Situjiao bisa segera kembali ke Rumah Adipati, itu memang impiannya selama ini.
Bagaimanapun, Nona adalah putri sulung sah Rumah Adipati, di keluarga lain, gadis seusianya bahkan sudah mulai dijodohkan, sementara Nona belum sekalipun kembali ke Rumah Adipati.
Li Mama memikirkan soal perjodohan Situjiao, sedangkan dalam hati Situjiao yang terpikir justru soal keselamatan Nyonya Han yang lemah dan Situyang.