Bab Empat Puluh Satu: Perpisahan Sementara
Mungkin hari ini adalah hari ketika Jenderal Besar Han dan Adipati Pembangun Negara kembali ke ibu kota, sehingga gerbang kota tampak sangat ramai, membuat iring-iringan kereta berjalan sangat lambat.
“Hari ini ada peristiwa apa, mengapa begitu banyak kereta dan kuda masuk kota?”
“Wah, kau ini biasanya tahu segala hal, tapi hal ini saja tak tahu! Hari ini adalah hari Jenderal Besar Han dan Adipati Pembangun Negara kembali ke ibu kota. Orang-orang dalam kereta ini pasti keluarga dari kediaman Jenderal Besar atau keluarga Adipati Pembangun Negara.”
“Jenderal Besar Han? Yang berjaga di perbatasan selatan dan telah menaklukkan Negeri Yunluo itu?”
“Apakah negeri kita, Nanling, punya Jenderal Han lain?”
“Benar juga, aku dengar putra pewaris Adipati Pembangun Negara usianya baru enam belas tahun, tapi sudah banyak memperbaiki persenjataan, bahkan berhasil menundukkan bangsa barbar dari negeri Beichen yang terkenal ganas itu!”
“Betul, betul! Putra pewaris Adipati Pembangun Negara dan putra sulung Jenderal Besar Han adalah panglima-panglima muda dari Negeri Nanling. Dengan panglima-panglima seperti mereka, negeri kita sungguh beruntung!”
Percakapan dan gumaman masyarakat di luar terdengar sampai ke dalam kereta. Di sudut bibir Nyonya Fang tersungging senyum tipis, wajahnya tampak dipenuhi rasa bangga.
“Nyonya, ada seorang pemuda yang mengaku bernama Situyang memohon bertemu,” tiba-tiba terdengar suara kepala pengawal di tengah riuh rendah keramaian.
“Kakak?!” Situjiao tidak mampu lagi menahan kegembiraannya. Ia mengulurkan tangan hendak membuka tirai kereta.
Namun, ia segera mengurungkan niatnya. Bagaimanapun, di dalam kereta itu selain dirinya juga ada Nyonya Fang dan Han Xiuyah.
Gerak-gerik Situjiao ini membuat Nyonya Fang diam-diam mengangguk. Walau tumbuh tanpa didikan orang tua, keponakannya ini tetap tahu sopan santun dan sangat mengerti tata krama.
“Suruh seluruh kereta keluarga kita menepi terlebih dahulu. Silakan Tuan Muda Situ kemari,” perintah Nyonya Fang dengan suara sedikit lebih tinggi.
Tak lama, Situjiao merasakan kereta berguncang dua kali lalu berhenti. Segera terdengar suara jernih dari luar, “Keponakan Situyang menyapa Bibi Besar!”
Benar-benar kakaknya! Mata Situjiao langsung bersinar cerah. Nyonya Fang pun segera membaca ekspresi Situjiao dan tahu bahwa pemuda di luar benar-benar Situyang. Ia sedikit mengangkat tirai kereta dan bertanya, “Yang, ada keperluan apa datang kemari?”
“Aku mendapat perintah dari Ibu, khusus menjemput adikku kembali ke kediaman,” jawab Situyang dengan sopan.
Ucapan Situyang membuat Situjiao semakin tidak tenang. Ia sungguh ingin segera membuka tirai dan melompat turun, lalu berlari ke pelukan ibunda di rumah. Namun, ia hanya bisa menahan rasa haru dalam hatinya. Ia teringat pesan Han Jiezh berulang kali sebelum berangkat, bahwa selama di perjalanan ia harus mengikuti semua pengaturan Nyonya Fang. Maka, ia hanya bisa menahan gejolak hatinya, membiarkan air mata bening mengalir dan bibirnya bergetar pelan-pelan mengucap, “Ibu… Ibu…”
Saat Nyonya Fang sedang berbincang dengan Situyang, ia tentu tak sempat memperhatikan Situjiao. Han Xiuyah, yang mengintip ke luar dari celah tirai, segera menyadari perubahan emosi Situjiao. Ia pun segera menarik kembali pandangannya yang penuh rasa ingin tahu, lalu mengulurkan tangan menepuk pelan bahu Situjiao yang bergetar untuk menenangkannya.
Awalnya Han Xiuyah mengira setelah Situjiao ikut mereka ke ibu kota, ia akan tinggal di kediaman Jenderal Besar bersamanya. Tak disangka, sebelum masuk gerbang kota, Situjiao sudah dijemput oleh keluarga Anning Hou, membuat Han Xiuyah merasa kurang senang. Sambil menenangkan Situjiao, ia pun melirik Situyang di luar kereta dengan tatapan tak bersahabat.
Meski ada Nyonya Fang yang menghalangi, namun mungkin karena Han Xiuyah benar-benar kesal, Situyang yang berdiri di luar pun tiba-tiba merasa kedinginan.
Adiknya pasti ada di dalam kereta Bibi Besar. Jika suasana di dalam kereta sedemikian berat, jangan-jangan adiknya memang tidak mau pulang bersamanya ke kediaman Hou?
Tapi, jika dipikir-pikir, memang sangat mungkin. Bukankah kediaman Hou sudah begitu lama menelantarkan adik? Jika bukan karena surat dari Paman Besar, mungkin saja adiknya masih akan tetap kesepian di vila kebun persik itu.
Memikirkan hal ini, Situyang merasa semakin bersalah pada Situjiao. Sikapnya pada Nyonya Fang pun makin penuh hormat, “Sebenarnya Ayah hendak menjemput sendiri adik di gerbang kota, namun karena ada tugas penting negara, beliau tak bisa meninggalkan tugasnya. Maka aku diperintah untuk menjemput adik kembali ke rumah.”
“Ibu sangat gembira mendengar adik akan kembali ke ibu kota bersama Bibi Besar. Maka, beliau menulis surat dengan tangannya sendiri dan memerintahku menunggu di sini, agar pasti bisa menjemput adik kembali ke rumah,” ujarnya sambil mengeluarkan sepucuk surat dari saku lengan bajunya, lalu menyerahkannya dengan penuh hormat kepada Nyonya Fang.
Nyonya Fang menerima surat itu dan membacanya dengan saksama. Benar, itu tulisan tangan Ny. Han, bahkan di dalamnya ada tanda rahasia khusus dari Ny. Han yang hanya dapat dikenali oleh para pemilik utama Kediaman Jenderal Besar. Orang lain yang mendapat surat itu pun takkan mengerti artinya.
Meskipun Han Jiezh sudah berpesan, Nyonya Fang mendengar dari ucapan Situyang bahwa ia terus saja membela Situkong, sehingga senyumnya menipis dan ia mendengus, “Tak perlu membela Situkong. Jika ia sungguh berniat menjemput Jiao-jiao kembali ke rumah, mengapa harus menunggu sampai hari ini?
Situkong tidak menginginkan Jiao-jiao, namun Paman Besar, Bibi Besar, dan para sepupu semua sangat menyayangi Jiao-jiao! Jika menurut kemauan Paman Besar, tentu Jiao-jiao akan diajak tinggal di kediaman Jenderal Besar agar bisa menemani adik sepupunya.
Tapi jika ibumu sangat merindukannya, tentu aku takkan menolak permintaannya agar adikmu kembali. Namun, jika adikmu mendapat perlakuan buruk di kediaman Hou, walaupun harus berseteru dengan keluargamu, Paman Besar pasti akan datang menjemput Jiao-jiao sendiri!”
Karena ada surat tangan dari Ny. Han, dan dari kata-kata Situyang Nyonya Fang bisa merasakan kedekatan hubungan mereka, lagipula mereka memang sudah sepakat, jika Situyang datang membawa surat tangan dari Ny. Han, maka Situjiao harus diizinkan kembali bersama Situyang ke kediaman Hou.
“Bibi Besar tenang saja, adik adalah putri sulung sah keluarga Anning Hou. Jika ada yang berani memperlakukannya dengan buruk, aku yang pertama takkan tinggal diam!
Dulu, karena kondisi adik yang lemah dan ibu juga sakit-sakitan, maka adik belum dijemput pulang. Kini, ibu sudah membaik dan adik pun sudah sehat, tentu adik harus kembali ke rumah.
Kali ini, Bibi Besar membawa adik kembali ke ibu kota, Ayah sangat berterima kasih. Aku diutus untuk menyampaikan rasa terima kasih Ayah atas segala kasih sayang Bibi Besar pada adik,” ujar Situyang sambil memberi hormat dalam-dalam ke arah Nyonya Fang di dalam kereta.
Meski hatinya juga tidak menyukai sikap Situkong yang selama ini acuh pada Situjiao, namun di hadapan orang lain, ia tetap harus menjaga nama baik ayahnya. Sebab, menjelekkan Situkong di depan umum berarti mempermalukan keluarga Anning Hou sendiri—dan itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri. Karena itu, kata-katanya tetap menjaga muka Situkong.
“Baik, Bibi Besar harap kau bisa sungguh-sungguh melindungi Jiao-jiao dan ibumu. Jangan sampai ada selir atau saudari tiri yang berani menindas adikmu!” Ucapan Nyonya Fang kali ini sangat pelan, jika Situyang tidak berdiri dekat kereta, pasti takkan mendengar. Ini pun sudah merupakan penghormatan besar kepada keluarga Anning Hou.
“Situjiao mohon pamit pada Bibi Besar! Pamit, Kakak Sepupu!” Situjiao mengenakan kerudung menutupi wajahnya, lalu berpamitan pada Nyonya Fang dan Han Xiuyah.
“Jiao-jiao, jika ada yang menyakitimu, kirimi saja pesan pada Bibi Besar. Ingat, Kediaman Jenderal Besar selalu jadi tempatmu berlindung. Setelah Bibi Besar sudah tenang di ibu kota, akan datang menjenguk ibumu di kediaman Hou,” pesan Nyonya Fang sambil memeluk Situjiao erat, enggan berpisah.
Situjiao turun dari kereta Kediaman Jenderal Besar, namun tidak langsung naik ke kereta keluarga Anning Hou bersama Situyang. Ia justru berjalan ke depan kereta milik Ny. Chen, lalu memberi hormat dalam, “Bibi, Situjiao mohon pamit. Terima kasih atas segala bantuan Bibi.”
Di dalam kereta Ny. Chen hanya ada dirinya dan putra kecilnya, Yang Linghao, yang baru berusia enam tahun. Ia pun tidak seketat Nyonya Fang dalam menjaga tata krama, sehingga tirai kereta langsung terbuka dan wajah cantik Ny. Chen tampak jelas. “Siapa yang menjemputmu pulang?”
“Situyang menyapa Bibi!” Situyang yang berdiri di belakang Situjiao segera melangkah maju, “Atas perintah Ibu, aku datang menjemput adik kembali ke rumah.”
Melihat hanya Situyang sendiri yang datang menjemput, dahi Ny. Chen mengernyit, tampak jelas ketidakpuasannya.
Situyang cukup tanggap. Menyadari Ny. Chen melirik ke belakang, ia langsung memahami maksudnya dan menjelaskan, “Sri Baginda memerintahkan Ayah untuk memimpin seluruh pejabat menyambut Jenderal Besar dan Adipati Pembangun Negara, sehingga Ayah tak bisa meninggalkan tugas, dan hanya bisa mengutus aku dan kepala pelayan besar keluarga untuk menjemput adik atas nama Ayah.”
Penjelasan Situyang akhirnya membuat raut wajah Ny. Chen sedikit melunak. Setelah itu, ia pun menyampaikan pesan yang serupa dengan Nyonya Fang, barulah melepas kepergian Situjiao dengan berat hati.