Bab 35 Tangga Menembus Tembok
Di Istana Kemegahan, suasana mendadak hening sejenak. Namun, sang Nyonya Besar bukanlah orang yang mudah menyerah. Segera ia mencari alasan baru, “Jin sudah mulai belajar mengelola rumah bersama bibinya sejak tahun lalu. Sedangkan Jiao, kurasa kurang tepat.”
“Apa yang kurang tepat? Apakah Nyonya Besar benar-benar ingin membiarkan putri sulung sah keluarga marquis seumur hidup tinggal di kediaman terpisah? Apa pantas seperti itu?” Selir Hui tiba-tiba memasang wajah serius, nada bicaranya tajam.
Nyonya Besar terhenyak dalam hati. Selama ini, Selir Hui memang tidak dekat dengannya, tapi belum pernah berbicara setegas dan sekaku itu. Ia memandang Selir Hui dengan heran.
Namun, saat itu juga, wajah Selir Hui kembali dihiasi senyum tipis. Suaranya melunak, “Hamba pun demi kebaikan keluarga marquis. Dua hari lagi, Jenderal Besar Han dan Nyonya Agung Pendiri Negara akan kembali ke ibu kota.
Jenderal Han sangat menyayangi kakak iparnya. Nyonya Besar tentu tak lupa, dulu Jenderal Han demi membela kakak iparnya sampai menebas tangan anak muda Tuan Li di jalanan karena berani menggoda. Apalagi hubungan antara Nyonya Agung Pendiri Negara dengan kakak ipar juga sangat erat. Ia juga orang yang sangat melindungi keluarganya.
Memang, urusan dapur belakang keluarga marquis orang luar tidak boleh ikut campur. Tapi menyerahkan pengelolaan rumah pada seorang selir, lalu membiarkan putri sulung sah keluarga marquis diasingkan di kediaman terpisah, bukankah itu memalukan bagi keluarga marquis?
Tentang tuduhan membawa sial pada ibu kandung, benar tidaknya, saya kira Nyonya Besar paling tahu. Tentu, dulu Nyonya Besar pun berniat baik, semua demi kesehatan kakak ipar. Tapi sudah bertahun-tahun berlalu, sudah saatnya Jiao dibawa pulang ke rumah utama untuk dididik.
Siapa yang tak tahu Nyonya Besar adalah orang yang paling penyayang? Mana mungkin benar-benar membiarkan cucu kandung sendiri tak terurus? Boleh jadi Nyonya Besar memang sudah lama berencana membawa Jiao pulang, saya hanya sekadar mengingatkan.”
Ucapan Selir Hui terdengar begitu lembut, seolah hanya mengobrol santai. Namun, di telinga Nyonya Besar, suaranya menggelegar seperti guntur.
Tak pernah terbayang olehnya, hari ini ia masuk istana bukan mendapat hasil yang diharapkan, malah seperti mencuri ayam tapi kehilangan beras. Hatinya sungguh tak nyaman, tapi apa yang bisa ia lakukan pada Selir Hui?
Kini, usahanya untuk menggagalkan penobatan Situyang sebagai pewaris utama sudah pupus, meski ia tak rela.
Sekembalinya ke rumah marquis, Nyonya Besar yang kecewa pun melampiaskan amarah pada Situkong. Namun kali ini Situkong tampak sudah membulatkan tekad. Apapun yang dilakukan Nyonya Besar tidak membuatnya goyah.
Alasannya sederhana, titah kaisar bukanlah sesuatu yang bisa dilawan oleh seorang bawahan. Kecuali Nyonya Besar memang ingin seluruh keluarga binasa, kecuali ia ingin rumah marquis hancur lebur...
Walaupun titah resmi belum turun, urusan penetapan pewaris utama pada dasarnya sudah selesai.
Saat kabar ini menyebar perlahan di kediaman marquis, baik di Paviliun Teratai milik Nyonya Lin maupun di Paviliun Mawar tempat Situjin tinggal, terdengar suara pecahan porselen, teriakan dan makian pada pelayan, suasana benar-benar gaduh.
Begitu Nyonya Besar mulai tenang, ia mengulang-ulang kata-kata Selir Hui di benaknya, perlahan memahaminya. Jabatan pewaris utama memang tak bisa ia rebut lagi, tapi hak mengelola rumah masih bisa ia pegang erat-erat.
Siapa lagi kalau bukan dirinya, yang dikenal penyayang, yang bisa mengatur rumah sebesar ini? Tubuh yang lemah mustahil sanggup memikul tanggung jawab itu. Han memang tubuhnya lemah, sebagai ibu mertua, tentu Nyonya Besar harus lebih perhatian, biarkan Han beristirahat saja.
Meski Selir Hui berkali-kali menekankan usianya sudah lanjut, bukankah ada pepatah, ‘Semakin tua semakin perkasa’? Nyonya Lin hanyalah seorang selir, menyerahkan hak mengelola padanya memang memalukan, jadi lebih baik dipegang sendiri, biar Nyonya Lin membantu saja dari samping.
Begitu pikirannya jernih, Nyonya Besar langsung merasa puas dan bangga! Lihatlah, betapa penyayang dirinya!
Hmph, kau punya rencana, aku pun punya cara sendiri. Tangan Selir Hui tak akan sanggup menjangkau dapur belakang keluarga marquis!
Soal Jenderal Han dan Nyonya Agung Pendiri Negara, Nyonya Besar kini tak lagi memedulikan. Mereka memang saudara kandung dan sahabat Han, lalu kenapa? Bukankah Han sendiri yang tubuhnya lemah?
Adapun Situjiao, memang sedari awal Nyonya Lin pernah mengusulkan agar ia dibawa kembali ke kediaman marquis. Situjiao bisa sangat berguna!
Setelah menimbang dengan kepala dingin, Nyonya Besar memanggil Nyonya Lin ke Taman Cian melalui bantuan Nenek An. Mereka berdua pun berunding secara tertutup.
“Ibu ingin mengambil kembali hak mengelola rumah? Akan diberikan pada Han? Lalu apa gunanya semua yang kulakukan selama ini?” Begitu mendengar bahwa ia harus menyerahkan hak mengelola, sementara jabatan pewaris utama pun sudah jatuh, Nyonya Lin seperti disambar petir. Ia panik dan ketakutan, wajahnya seketika gelap.
Tanpa kekuasaan, apa gunanya seorang selir di keluarga marquis?
Seorang selir yang punya kuasa tentu berbeda jauh dengan yang tidak punya apa-apa.
“Ibu tak akan menyerahkannya pada Han. Han ingin mengatur rumah pun harus punya nyawa dulu, kan? Tubuhnya yang lemah, tiupan angin saja bisa tumbang, mana sanggup mengurus rumah!” Nyonya Besar mendengus.
“Lalu maksud ibu?” Mendengar hak mengelola tak jatuh ke tangan Han, hati Nyonya Lin pun lega. Selama bertahun-tahun, ia sudah menikmati banyak keuntungan. Kalau Han yang mengelola lagi, sedikit saja menyelidik, pasti akan ada jurang besar yang menunggu Nyonya Lin untuk menutupinya.
Kebanyakan uang yang ia dapat sudah habis dipakai, sisanya hanya sedikit yang diam-diam dibelikan usaha untuk kedua anaknya. Jika benar Han mengelola rumah, lubang sebesar itu mana mungkin ia sanggup menambal? Tak hanya akan kehilangan segalanya, mungkin malah diusir dari keluarga marquis. Itu benar-benar mustahil!
“Han tetap beristirahat di Taman Mei. Kalau ada yang tak suka kau mengelola, terpaksa aku sendiri yang harus turun tangan. Tapi nanti Qiner harus banyak membantuku. Tenang saja, selama aku masih ada, siapa yang berani berbuat jahat padamu?” Nyonya Besar pun menjelaskan rencananya secara rinci. Nyonya Lin pun kembali sumringah.
“Maka mulai sekarang, Qiner hanya berharap ibu makin menyayangi,” rayu Nyonya Lin dengan manis, membuat Nyonya Besar tersenyum lebar.
Nyonya Lin pandai mengambil hati, Nyonya Besar pun sengaja memperlihatkan kasih sayang. Di Taman Cian, suasana tampak damai.
Nyonya Besar lalu berunding dengan Nyonya Lin soal membawa pulang Situjiao, memutuskan menyembunyikan hal itu dari Situkong dan Han. Mereka akan membawa Situjiao pulang terlebih dahulu.
Tak lama setelah Nyonya Besar kembali dari istana, sebuah kereta kuda sederhana keluar dari pintu belakang keluarga marquis menuju Kediaman Persik. Namun kereta itu baru kembali ke rumah marquis saat hari sudah gelap, masuk lagi dari pintu belakang. Penanggung jawab yang ikut serta masuk ke Taman Cian dengan wajah masam, dan suara pecahan porselen kembali terdengar dari dalam.
Dari kabar yang didapat, Nenek Lin sangat terkejut. Apa sebenarnya yang direncanakan Nyonya Besar? Ke Kediaman Persik menjemput Putri Sulung, tapi diam-diam tanpa sepengetahuan tuan rumah dan nyonya rumah.
Untungnya, Putri Sulung ternyata tak berada di Kediaman Persik. Katanya sudah lebih dulu dijemput Jenderal Han ke penginapan, mungkin akan kembali ke ibu kota bersama keluarga Jenderal Han.
Mungkinkah Nyonya Besar panik, Nyonya Lin berubah wajah, hingga ke Paviliun Mawar milik Situjin pun terdengar suara gaduh dan pecahan...
Han, setelah mengetahui kabar itu, wajahnya penuh murka. Namun, setelah tahu keberadaan Situjiao, Han justru tersenyum lega, berbisik pada Nenek Lin, lalu Nenek Lin meninggalkan Taman Mei.
Nenek Lin tak pergi ke mana-mana, hanya seperti biasa menemui suaminya di luar rumah, berbincang sebentar, lalu kembali dengan tenang ke Taman Mei.
Setelah kembali, ia berbisik lagi pada Han. Han pun tersenyum, dan lampu-lampu di Taman Mei perlahan meredup...