Bab Dua Puluh Delapan: Tamparan

Putri Sulung yang Angkuh Daun yang penuh kasih dan kenangan 2245kata 2026-03-05 15:32:57

Tatapan dingin dan penghinaan di mata Situyang menusuk dalam-dalam perasaan Nyonya Kecil Lin, yang duduk di samping sambil menonton dan tersenyum tipis. Ia merasakan sensasi pahit dan amis di tenggorokannya, hampir saja darah tua muncrat keluar dari mulutnya. Dalam hidupnya, hal yang paling ia pantang adalah disebut "istri selir", namun Situyang justru menekankan kata itu seakan takut orang lain tidak mendengarnya.

Tatapan penuh kebencian melintas di mata Nyonya Kecil Lin, namun ia kini memang hanyalah seorang istri selir. Situjin memang tidak bisa memanggilnya ibu, sehingga meski ia ingin menerjang Situyang dan merobek mulut pemuda itu, ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk membantah pun lidahnya kelu. Kini, jika tatapan bisa membunuh, mungkin tubuh Situyang sudah berlubang-lubang akibat ditatap Nyonya Kecil Lin.

“Kau... Nenek!” Meski biasanya Situjin terkenal tak mau kalah dalam berargumen, kali ini ia benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi ucapan Situyang yang di luar dugaan, sehingga hanya bisa meminta bantuan Nyonya Tua.

Situyang sama sekali tidak memedulikan pandangan Nyonya Kecil Lin, malah menatap Nyonya Tua dan berkata, “Nenek yang paling menjaga tata krama, di kediaman Adipati ini selain ibuku, siapa lagi yang pantas dipanggil ibu? Lagipula, ibuku selama ini beristirahat dengan tenang di Paviliun Plum, sangat berbakti kepada nenek. Apa pun yang baik, pasti pertama kali dipikirkan untuk nenek, mustahil membuat nenek marah. Nenek, bukankah yang kukatakan benar?”

Meskipun sudah lama menjadi bahan tertawaan orang karena seorang istri selir memegang kendali di kediaman Adipati Anning, namun biasanya Nyonya Tua selalu dengan tak tahu malu menganggap dirinya panutan dalam hal aturan dan tata krama. Kata-kata Situyang kini membuatnya bungkam tak mampu berkata-kata untuk beberapa saat.

Namun mustahil Nyonya Tua akan membiarkan masalah berlalu begitu saja, apalagi di kediaman ini ia hampir berkuasa sepenuhnya. Tak mungkin ia membiarkan Situyang menantang wibawanya.

Ekspresi wajahnya langsung berubah kaku saat ia bertanya, “Kau suruh pelayan itu berhenti, set teh ini peninggalan kakekmu, tangan pelayan itu kasar, bisa-bisa barang bagus seperti itu rusak.”

Tentu saja Situyang takkan serendah itu berebut set teh dengan Nyonya Tua. Apa yang ia lakukan barusan hanya untuk memancing emosi Nyonya Tua, sekaligus memberi peringatan pada Nyonya Kecil Lin dan Situjin. Melihat Nyonya Tua berkata demikian, ia pun melambaikan tangan, menyuruh pelayan itu mundur.

Dalam hati, Nyonya Tua sebenarnya sangat memedulikan set teh itu, selain karena warisan mendiang Adipati, juga karena nilainya yang tinggi. Tadi ia melemparkannya karena tak ada barang lain di dekatnya, setelah itu baru ia menyesal dan merasa sakit hati. Syukurlah Situyang sigap sehingga set teh itu masih utuh, dan kali ini ia tidak bersikeras mengambilnya. Sekilas kehangatan tampak di mata Nyonya Tua.

Situjin menangkap kehangatan itu di mata Nyonya Tua, hatinya langsung waspada. Ia tak bisa membiarkan Nyonya Tua begitu saja memaafkan Situyang, ia masih mengidamkan buah persik di kereta tadi!

Situjin pun mendekat ke pangkuan Nyonya Tua, manja dan merengek, hingga akhirnya Nyonya Tua teringat tujuan memanggil Situyang ke Paviliun Cian.

Setelah menepuk Situjin di pangkuannya, wajah Nyonya Tua kembali mengeras menatap Situyang, “Tadi di pintu belakang, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Pintu belakang?” Situyang pura-pura tidak mengerti, membesarkan matanya.

“Jin bilang kau menunggang kuda dengan sengaja menabraknya, hampir saja menginjaknya. Apa betul begitu?” Melihat Situyang tampak bingung, wajah Nyonya Tua semakin suram.

Cucunya yang satu ini makin sulit ditebak, pikir Nyonya Tua, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke Sitian yang berada di pangkuan Nyonya Kecil Lin. Tatapannya langsung menjadi lebih lembut.

Syukurlah, ia tidak hanya punya satu cucu. Sitian masih kecil, kelak jika sering bersamanya dan dididik sendiri, ia yakin tidak akan membesarkan seorang Situyang kedua yang sulit dikendalikan.

Tatapan Nyonya Tua beralih kembali pada Situyang, kelembutan di wajahnya lenyap, digantikan sorot dingin seolah-olah Situyang bukan cucunya sendiri.

Situyang melihat semua itu, dan meski hatinya terasa getir, ia hanya merasa sedikit perih. Nyonya Tua ingin Sitian mewarisi kediaman Adipati, tapi itu hanya mungkin jika Nyonya Kecil Lin naik posisi. Kalau tidak, jangan harap!

Namun untuk Nyonya Kecil Lin naik derajat, jangan harap selama ibunya masih hidup, bahkan bila ibunya sudah tiada pun, semua tergantung persetujuan Situyang!

Semua pertimbangan itu hanya berlangsung sekejap di benak masing-masing.

“Bukankah adik kedua seharusnya menyalin kitab Buddha di menara sulamnya? Kenapa bisa berada di pintu belakang?” Mata Situyang semakin membelalak, ekspresi terkejutnya begitu meyakinkan, seandainya Situjin belum lebih dulu memberi tahu Nyonya Tua soal kejadian di pintu belakang, mungkin Nyonya Tua akan mengira orang yang mengabarkan itu salah paham.

Namun ucapan Situyang itu justru membuat Nyonya Tua teringat bahwa beberapa hari lalu Situjin dihukum kurungan sebulan oleh Situkong karena pergi ke paviliun persik mencari gara-gara dengan Situdiao.

Kini Nyonya Tua dalam posisi sulit, jika tetap bersikeras menyalahkan Situyang, perbuatan Situjin yang diam-diam keluar pasti takkan bisa disembunyikan dari Situkong. Tapi jika tidak menghukum Situyang, Situjin akan sia-sia menjadi korban ulah Situyang.

Belum lagi masalah buah persik yang sangat diinginkan Situjin!

“Nenek…” Melihat Nyonya Tua ragu, Situjin pun panik, mengabaikan tatapan peringatan dari Nyonya Kecil Lin dan berkata, “Hari ini saya keluar karena mendapat perintah dari nenek, ingin membelikan kue dari Toko Seratus Rasa untuk nenek.”

Baru saja kata-kata itu keluar, wajah Nyonya Tua langsung melunak. Ia tahu Situjin sedang berbohong, namun karena tak ada alasan lain untuk melindungi Situjin, ia pun terpaksa menerima alasan yang kurang bagus itu.

“Sejak kapan kediaman Adipati perlu seorang nona keluar membeli kue? Kalau begitu, di mana kuenya? Jangan-jangan kuenya habis terjual, jadi kau tidak membelinya?” Suara dingin seorang pria masuk dari luar ruangan.

Sibuk menutupi kebohongannya, Situjin tidak memperhatikan siapa yang bicara, langsung mengangguk, “Benar, benar, memang begitu!”

Ia sama sekali tidak menyadari Nyonya Kecil Lin sudah berubah wajah dan terus-menerus memberinya isyarat lewat tatapan.

“Plak!” Sosok jangkung membuka tirai dan masuk. Sebelum Situjin sempat memahami apa yang terjadi, ia sudah merasakan sakit di pipinya, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.

Rasa sakit membuat Situjin mendongak tak percaya.

Ketika ia melihat bahwa yang menamparnya adalah Situkong, yang entah sejak kapan sudah berada di Paviliun Cian, niatnya untuk mengamuk langsung lenyap, tergantikan keterpakuan.

Sorot marah di wajah Situkong membuat Situjin ketakutan dan meringkuk ke pelukan Nyonya Tua, tak ada lagi sikap sombong, manja, dan nakal seperti sebelumnya.

Bekas lima jari yang jelas membekas di pipinya, serta genangan air mata di matanya, seketika mengubahnya dari seorang nona bengal menjadi bunga kecil yang rapuh dan tak berdaya.