Bab Empat Puluh Delapan: Tanpa Belas Kasihan

Putri Sulung yang Angkuh Daun yang penuh kasih dan kenangan 2323kata 2026-03-05 15:34:09

Kata-kata yang dilemparkan Nyonya Besar dengan kemarahan dan kebencian membuat semua mata di Paviliun Ci'an langsung tertuju pada Situjiao. Pandangan Situkong dipenuhi rasa bersalah dan duka, sementara ada juga iba terhadap Situjiao dan kejengkelan pada Nyonya Besar. Pandangan Nyonya Kecil Lin tentu saja mengandung kegembiraan terselubung atas kemalangan orang lain...

Ucapan Nyonya Besar membuat semua orang paham, meski Situjiao telah kembali ke Kediaman Adipati, ia tetap tidak mendapat simpati dari sang Nyonya Besar. Sikap tak suka dan pengabaian yang begitu jelas, dengan tanpa ragu-ragu telah mempermalukan Situjiao. Hal ini membuat wajah Nyonya Kecil Lin yang sedang ditahan dua pelayan kekar selain tampak gembira juga menyiratkan kepuasan.

Raut wajah Situyang gelap sekelam tinta, seandainya Situjiao tidak buru-buru menarik lengannya, mungkin ia sudah menerjang masuk untuk berdebat dengan Nyonya Besar.

“Kakak…” Situjiao memanggil pelan, hanya cukup untuk didengar mereka berdua, dengan nada penuh ketegasan tersirat di matanya.

Ia telah melihat sendiri bagaimana Situyang berusaha melindunginya. Kini ia ingin melihat bagaimana sikap Situkong ketika berhadapan dengan Nyonya Besar dan bagaimana ia memperlakukan dirinya.

Situjiao tak ingin Situyang harus terlibat konflik dengan Nyonya Besar hanya karenanya. Kemarin ia sudah mendapat kabar bahwa Kaisar akan segera mengeluarkan titah mengangkat Situyang sebagai pewaris resmi Kediaman Adipati Anning.

Di saat genting seperti ini, tentu saja ia takkan membiarkan Situyang menabrak kehendak Nyonya Besar dan menjadi bahan omongan orang.

Situjiao bukan benar-benar seorang gadis dua belas tahun. Pengalaman hidupnya di masa lalu membuatnya jauh lebih memahami kehidupan dan arti bakti di Negeri Nanling dibandingkan orang kebanyakan.

Apa yang dilakukan Nyonya Besar terhadapnya tidaklah seberapa, hanya membuatnya berdiri kelaparan di luar selama setengah jam, lalu mengusirnya dengan kata-kata ringan agar menjauh sejauh mungkin. Jika siksaan sekecil itu saja tak sanggup ia terima, bagaimana ia bisa menghadapi hari-hari yang lebih berat ke depan?

Jika saja situasi seperti hari ini saja sudah tak sanggup ia hadapi, lebih baik ia kembali ke paviliun terpencil dan menjalani kehidupan sederhana yang tenang seperti sebelumnya.

Mungkin karena tak terdengar ada kelanjutan di luar, tak lama kemudian tirai pintu kamar Nyonya Besar bergerak, muncullah seorang pelayan utama dengan wajah secantik rembulan.

Melihat Situkong berdiri membelakangi kamar, sejenak ada perubahan di wajah datarnya, namun segera ia menahan diri, lalu memberi hormat pada Situkong dan berkata, “Salam hormat, Tuan Adipati! Nyonya Besar mempersilakan Tuan dan Nyonya Lin masuk ke dalam untuk berbicara. Selain itu, belakangan kesehatan Nyonya Besar kurang baik, dan konon nasib Nona Besar bisa membawa sial bagi Nyonya Besar. Karena itu, Nyonya Besar khusus membebaskan Nona Besar dari kewajiban memberi salam pagi di Paviliun Ci'an dan menyuruh Nona Besar tinggal saja di Paviliun Qingyun.”

Ucapan pelayan utama itu membuat raut wajah Situkong yang sudah muram semakin kelam, demikian pula Situyang.

Nyonya Besar memang tidak suka pada Ny. Han, dan juga keras terhadap anak-anak Ny. Han. Semua orang mengetahuinya, tetapi hari ini adalah hari pertama Situjiao kembali ke rumah, bahkan sekadar basa-basi pun Nyonya Besar enggan melakukannya. Ia mempermalukan Situjiao tanpa ampun, membuat wajah ayah dan anak itu berubah.

Sebaliknya, Situjiao sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Ia membungkuk dengan anggun ke arah kamar Nyonya Besar dan berkata nyaring, “Situjiao akan patuh pada perintah Nyonya Besar.”

Senyum cerah merekah di wajah Situjiao, seolah-olah baru saja memperoleh keberuntungan besar. Situkong sejenak seperti melihat kembali wajah muda Ny. Han, matanya berkedip lalu kembali redup.

Situyang menatap Situjiao di sampingnya dengan heran, benar-benar tak memahami mengapa adiknya bisa tersenyum begitu tiba-tiba. Sikap Situjiao yang tidak terduga juga membuat pelayan utama yang hendak berbalik itu tertegun.

Apakah Nona Besar ini kurang waras? Jelas-jelas tidak disukai Nyonya Besar, tapi malah tampak sangat bahagia. Bukankah sekarang Kediaman Adipati ini semua harus tunduk pada Nyonya Besar, bahkan Tuan Adipati pun harus mengalah, apalagi seorang putri yang sejak lahir sudah diusir keluar rumah?

Senyuman Situjiao yang cerah dan sikapnya yang tak terduga justru menimbulkan perasaan aneh dalam diri Nyonya Kecil Lin.

Anak ini tampaknya tidak biasa. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya?

Di Kediaman Adipati, Nyonya Besar bagaikan Permaisuri di istana, perkataannya mutlak. Bahkan Situkong pun harus mengalah, kalau tidak, mana mungkin dulu Situjiao langsung diusir keluar rumah?

Jika kehilangan hati Nyonya Besar di Kediaman Adipati, tidak mungkin mendapatkan kehidupan yang baik, seperti yang dialami Ny. Han. Dulu, meski Situkong sangat menginginkan Ny. Han sebagai istrinya, apa gunanya? Bertahun-tahun ini pun ia hanya bisa mengurung diri di Paviliun Mei.

Anak ini sebenarnya mengandalkan apa? Jelas-jelas tidak mendapatkan hati Nyonya Besar, tapi masih bisa tersenyum secerah itu?

Pengalaman barusan membuat Nyonya Kecil Lin tidak lagi berpikiran seperti pelayan utama tadi. Sikap Situjiao memberinya rasa waspada, bahkan menanamkan benih kekhawatiran dalam hatinya. Situjiao jelas tak sesederhana penampilannya.

Dengan keberadaan Nyonya Li di sisinya, serta mampu memanfaatkan kekuatan Jenderal Han yang hampir dua puluh tahun tak kembali ke ibu kota, dan juga keluarga Bangsawan Pendiri Negara, mana mungkin gadis seperti ini tidak punya rencana?

Sebaliknya, anak perempuannya sendiri, Situjin, hanya tahu bersikap manja dan sembrono, benar-benar terlalu polos. Tidak, bukan hanya polos, tapi bodoh! Begitu Nyonya Kecil Lin berpikir, rasa cemasnya semakin menjadi-jadi, sampai-sampai lupa akan keadaannya sendiri. Ia juga tak menyadari bahwa pelayan utama tadi memintanya masuk bersama Situkong, dan hanya pasrah dibawa dua pelayan kekar, sementara Situkong sudah mengibaskan lengan bajunya, bersiap masuk ke kamar Nyonya Besar.

“Kakak, ayo cepat antar Jiao-jiao ke paviliun ibu. Jiao-jiao sudah tak sabar ingin bertemu ibu!” Belum sempat pelayan utama itu bereaksi, suara jernih Situjiao yang dipenuhi kegembiraan kembali terdengar.

Situkong yang kakinya sudah terangkat ke ambang pintu hampir tersandung, untung ia berdiri di dekat pintu sehingga bisa berpegangan pada kusen untuk menjaga keseimbangan. Ia menoleh ke belakang dan melihat Situjiao memegang tangan Situyang dengan wajah ceria, hatinya kembali dilanda perasaan getir.

Wajah kecil yang sangat mirip Ny. Han kini berseri-seri, seperti mata air jernih yang mengalir ke hati Situkong.

Putrinya ini memang lahir prematur, saat dilahirkan selemah anak kucing, tangisnya pun hampir tak terdengar, dan sejak lahir langsung diusir keluar rumah. Namun ia tetap bertahan hidup dengan kuat, bahkan tak pernah menyesali nasibnya.

Sejak pertemuan pertama hingga sekarang, memang Situjiao belum pernah memanggilnya ayah, tapi ia bisa merasakan tatapan putrinya yang kadang jatuh padanya. Meski tatapan itu agak canggung dan penuh penilaian, hatinya tetap merasa terhibur dibandingkan jika diabaikan sama sekali.

Hanya saja, pertemuan pertama ayah dan anak ini benar-benar tidak menyenangkan. Ia sebenarnya ingin menata kembali lingkungan dalam Kediaman Adipati sebelum menjemput Situjiao pulang. Namun selama bertahun-tahun keinginan itu selalu terhalang oleh Nyonya Besar.

Betapa inginnya ia mendengar Situjiao memanggilnya “Ayah”, bahkan sekadar “Bapak” pun akan membuatnya bahagia.

Sayangnya, pertemuan pertama ini harus diwarnai kehadiran Nyonya Kecil Lin yang suka mengacau, sehingga sebagai ayah ia justru gagal membawa kebahagiaan untuk putrinya. Hatinya diliputi rasa bersalah yang mendalam.