Bab Empat Puluh Delapan: Menyembelih Ayam
“Pelayan rendah itu berani-beraninya menyerang Jiao Jiao secara terang-terangan, bukankah itu sama saja mencari mati!” Belum sempat orang lain bicara, Situkong sudah menunjuk Nyonya Ershun yang masih pingsan di lantai dengan penuh kebencian.
Jelas, meskipun Nyonya Ershun sudah muntah darah dan jatuh tak sadarkan diri, amarah di hati Situkong belum juga padam. Ia masih menyisakan kemarahan yang membara.
Begitu mengetahui budak yang tergeletak di tanah itu berani mencelakai Situjiao, wajah Nyonyah Han langsung mengeras, matanya memancarkan kilatan dingin.
Anak-anak adalah permata hati Nyonyah Han. Walaupun hatinya lembut, jika ada yang berani menyentuh kedua buah hatinya, ia pun tak sungkan mengotori tangannya dengan darah.
“Kalau aku tidak salah, dia seharusnya Nyonya Ershun, bukan?” tanya Han sambil menajamkan pandangan, dengan cepat memastikan siapa yang pingsan di lantai itu.
“Nyonya ingatannya tajam, pelayan itu memang dari keluarga Ershun,” jawab Nenek Lin yang melangkah maju.
Han hendak membuka mulut, namun tiba-tiba dari luar berlari seseorang, langsung menubruk tubuh Nyonya Ershun yang tak sadarkan diri di tanah sambil meraung, “Ibu, siapa yang begitu kurang ajar memukulmu sampai begini? Katakan pada anakmu, anakmu pasti akan membalas dendam sampai mati-matian!”
Orang-orang yang ada di sana hampir tertawa terbahak-bahak.
Nyonya Ershun tumbang karena dihantam lengan Tuan Muda hingga muntah darah dan pingsan. Anaknya, Tao’er, adalah pelayan utama di sisi Situjin.
Biasanya, Tao’er selalu membanggakan kedua orang tuanya yang menjadi pengurus di kediaman itu. Ia pandai membaca situasi, lidahnya tajam seperti ibunya, lincah berbicara, dan meski masih muda, sudah amat pandai mengambil hati orang, sehingga sangat disukai Situjin.
Sehari-hari ia selalu menempel pada Situjin, pamer sana-sini. Sifat angkuh Situjin pun ia tiru habis-habisan.
Tadi, Tao’er memang mendapat perintah dari Situjin untuk mencari tahu kabar ke Taman Mei. Namun, baru sampai, sudah mendengar kabar ibunya dipukul hingga pingsan. Tanpa tahu siapa pelakunya, ia langsung menangis meraung di sisi ibunya.
Bagi Tao’er, Nyonya Han yang tinggal di Taman Mei, meski bergelar Nyonya, sebenarnya hanyalah orang yang menunggu ajal.
Di dalam kediaman, selain orang-orang Taman Mei sendiri, siapa lagi yang menganggap Han sebagai Nyonya? Siapa juga yang tidak diam-diam memanggil Nyonya Lin sebagai nyonya rumah? Putri sulung pulang pun, pada akhirnya hanya bisa menjadi sasaran bullying bagi nyonya mudanya itu.
Mengingat kejadian tahun lalu di kediaman lain, Tao’er merasa puas dalam hati. Waktu itu, disebut-sebut Situjin yang mendorong, padahal andil terbesar justru dari Tao’er. Kalau saja bukan karena kakinya yang menyorong tepat waktu, Situjiao tidak akan jatuh.
Walau saat itu ia dan Situjin sama-sama ketakutan, tapi akhirnya Situjin memberinya dua tael perak dan sebuah tusuk rambut perak, membuat Tao’er sangat bangga.
Tahun ini ketika ke kediaman lain, meski terjadi keributan aneh, tubuh dan wajahnya juga terkena pukulan beberapa kali oleh orang di sekitarnya. Tapi nyonya muda yang disebut sebagai anak setan itu tetap saja bersembunyi di dalam kamar, tak berani keluar kepala sedikit pun!
“Bagus, bagus, bagus! Aku ingin lihat bagaimana pelayan rendah sepertimu mau melawan tuan rumah sampai mati-matian!” Situkong tertawa geram, bertepuk tangan dan berdiri, menatap Tao’er yang tengah memeluk tubuh ibunya sambil meraung-raung.
Begitu kata-kata Situkong keluar, raungan Tao’er langsung terhenti seperti air yang disumbat.
Ruang tamu mendadak menjadi sunyi mencekam. Tao’er jelas mengenali suara Situkong dan seketika merasa takut sekaligus cemas, apalagi memikirkan ibunya yang masih pingsan di pelukannya.
Meski terhadap orang lain Tao’er biasa saja, terhadap kedua orang tuanya, ia cukup berbakti.
Saat itu, meski ketakutan setengah mati, ia tetap memeluk Nyonya Ershun erat-erat, takut Situkong akan melampiaskan kemarahan lagi pada ibunya.
Di saat itu pula, dari luar berlari seseorang, tanpa banyak bicara langsung berlutut di depan Situkong. Orang itu adalah Fang Ershun, pengurus kedua luar rumah.
Kepala Pengurus Lin dan Jifeng datang ke Taman Mei mengikuti Situkong. Saat mereka tiba, Nenek Lin sudah membawa seluruh nyonya pengurus masuk ke ruang tamu.
Situkong sendiri tidak langsung masuk, melainkan sembunyi di luar, ingin melihat kemampuan putrinya. Saat Nyonya Ershun hendak menyerang Situjiao, amarahnya tak terbendung hingga melayangkan sebuah tamparan.
Kepala Lin melihat semua kesombongan Nyonya Ershun. Sebelum Situkong masuk, ia sudah memerintahkan Jifeng memanggil Fang Ershun.
Fang Ershun bergegas ke Taman Mei, dari kejauhan sudah mendengar raungan putrinya. Di perjalanan, ia sudah mendapat gambaran besar apa yang terjadi dan tahu malapetaka besar akan menimpa keluarganya, sehingga mempercepat langkah, berharap bisa menghentikan Tao’er sebelum berkata yang tak bisa diperbaiki.
Sayang, secepat apapun langkah Fang Ershun, tetap saja kalah cepat dibanding mulut Tao’er.
Ketika Fang Ershun sampai di depan pintu ruang tamu, Tao’er sudah menumpahkan semua ucapannya. Saat itu, Fang Ershun benar-benar ingin mati saja, bahkan ingin menampar mati Tao’er.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Amarah Situkong yang meledak, setiap kata yang diucapkan seperti petir menyambar telinga Fang Ershun.
Situkong memang jarang marah, tapi sekali marah, ledakannya bukan sesuatu yang bisa ditanggung sembarang orang.
Fang Ershun sadar, hari ini keluarganya tak mungkin luput dari hukuman. Bahkan kalau sekarang ia membunuh Tao’er, tetap tak akan berguna. Satu-satunya jalan adalah sujud memohon ampun pada Situkong, berharap amarahnya bisa diredam dan keluarganya diselamatkan.
Itulah sebabnya begitu masuk ruang tamu, tanpa menoleh ke istri dan anaknya, Fang Ershun langsung berlutut di depan Situkong, bersujud sambil memohon, “Ampuni kami, Tuan Muda! Ini salah saya yang tak bisa mendidik anak dan mengatur istri, mohon Tuan Muda, demi pengabdian saya bertahun-tahun, selamatkan nyawa istri dan anak saya. Mohon kebaikan hati Tuan Muda!”
Situkong menatap Fang Ershun yang terus bersujud tanpa berkata apa-apa, hingga keningnya hampir berdarah, barulah ia membuka suara dengan dingin.
Ucapan Situkong kali ini menentukan nasib keluarga Fang Ershun ke depan, “Hari ini, demi mengenang orang tuamu yang telah tiada, aku ampuni nyawa keluargamu. Tapi kalian tak boleh tinggal lagi di kediaman ini atau di ibu kota. Keluarga kalian harus pindah ke kebun di Kabupaten Shun. Lin Sen, urus semua ini dan pastikan berangkat hari ini juga!”
Fang Ershun memang anak bawahan yang lahir dan besar di kediaman Tuan Muda. Ayahnya dulu adalah pelayan dekat Tuan Tua, ibunya mantan pelayan utama Nyonya Tua. Berkat hubungan itu, Fang Ershun bisa bertahan cukup baik di kediaman.
Awalnya, ia menaruh hati pada pelayan Hong Chou di sisi Nyonya Han. Saat ingin melamar, ternyata istrinya yang sekarang menggunakan tipu muslihat, sehingga ia terpaksa menikahi perempuan itu.
Sayangnya, istrinya tidak tahu diri. Karena dulu pelayan di sisi Nyonya Lin, merasa dipercaya dan mengatur apotek dalam rumah, ia pun tinggi hati. Selain pandai menjilat Nyonya Tua dan Nyonya Lin, ia bahkan tak menganggap Nyonya Han, lupa bahwa Han adalah nyonya sah kediaman. Akhirnya, bencana pun terjadi.
Fang Ershun sadar tak pantas lagi memohon, juga paham bahwa Tuan Muda sengaja menjadikan keluarganya contoh, untuk menakut-nakuti yang lain. Memaksa memohon hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Lagi pula, dengan kesalahan istri dan anaknya, tidak dijual keluar rumah saja sudah sangat beruntung mendapat belas kasih Situkong. Maka ia menarik Tao’er untuk bersujud berterima kasih pada Situkong.
(Bersambung.)