Bab Empat Puluh Lima: Munculnya Pertikaian
Meskipun sebelum berangkat hari ini, Situkong telah meninggalkan pesan tegas bahwa tak seorang pun boleh berlaku tidak sopan kepada Situjiao, namun Nyonya Kecil Lin berpikir itu hanya berlaku bagi para pelayan di kediaman. Sebagai pengelola halaman belakang kediaman marquis, ditambah lagi ia memiliki seorang putra dan seorang putri, tentu ia merasa dirinya jauh lebih tinggi daripada para pelayan biasa.
Karena itu, Nyonya Kecil Lin sama sekali tidak mengindahkan pesan Situkong. Kedatangannya ke Taman Cian hari ini sebenarnya hanya karena ingin melihat aib orang, tetapi yang ia dapati adalah Situjiao yang tampak tenang dan percaya diri, tak ada sedikit pun bahan lelucon di sana. Ditambah lagi sikap Situyang yang begitu melindungi adiknya, walaupun ada sesuatu yang bisa ditertawakan, Nyonya Kecil Lin pun langsung hilang minat—apalagi kenyataannya memang tidak ada yang bisa ditertawakan.
Karena Nyonya Tua tidak bisa diharapkan, Nyonya Kecil Lin pun memutuskan untuk turun tangan sendiri, bermaksud untuk menguji nyali kedua anak kelinci itu. Ia mengibaskan sapu tangan di tangannya, menatap sinis pada Situyang dan Situjiao, lalu berkata dengan nada merendahkan, “Benar-benar anak yang punya ibu tapi tidak diajari, melihat orang yang lebih tua saja tidak tahu sopan santun.”
“Orang yang lebih tua? Siapa di sini yang pantas disebut sebagai sesepuh Tuan Muda dan Nona?” Bibi Li yang sudah tak tahan lagi dengan sikap kurang ajar Nyonya Kecil Lin, melangkah maju dan berkata, “Berani sekali kau, Lin! Bertemu Tuan Muda dan Nona, mengapa tidak memberi salam?”
“Kau ini apa, berani-beraninya bicara begitu pada majikan!” Teguran Bibi Li memang sempat membuat Nyonya Kecil Lin terkejut, tetapi karena sudah terbiasa bertindak sewenang-wenang di kediaman marquis, mana mau ia membiarkan seorang pelayan berani mengatur dirinya. Tatapannya menjadi dingin, ia membentak Bibi Li, lalu memerintah pelayan di sampingnya, “Pukul dia!”
“Siapa berani?!” Situyang tentu tak akan membiarkan orang Nyonya Kecil Lin memukul Bibi Li. Apalagi Bibi Li adalah pengasuh Situjiao, bukan pelayan sembarangan yang boleh diperlakukan semena-mena. Ia melangkah maju, melindungi Situjiao, lalu menatap ganas para pelayan yang hendak bergerak.
Biasanya Situyang memang dingin dan tenang, tapi tiba-tiba auranya berubah menyeramkan. Pelayan yang sudah setengah mengangkat tangan untuk memukul Bibi Li pun mundur dua langkah karena ketakutan.
“Tuan Muda benar-benar didikan yang baik! Sampai-sampai membiarkan pelayan melawan majikan!” wajah Ny