Bab Lima Puluh Lima: Bakat dan Keterampilan

Putri Sulung yang Angkuh Daun yang penuh kasih dan kenangan 2344kata 2026-03-05 15:34:28

Setiawan mengambil sendiri kecapi kuno dari pelukan Pengurus Rumah Lin. Kecapi itu berwarna hitam pekat, memancarkan kilau hijau samar, seperti sulur hijau membelit batang kayu tua. Apakah ini benar-benar kecapi legendaris "Hijau Anggur" yang telah lama hilang?

Setiawati langsung tahu kecapi itu bukan benda biasa, meski ia tak yakin apakah di dalamnya terukir kalimat "Gabungan Kayu Paulownia dan Jati". Namun, sekalipun kecapi ini bukan "Hijau Anggur" asli, kualitasnya pasti tetap luar biasa. Melihat betapa hati-hatinya Setiawan memperlakukan kecapi itu, sudah jelas nilainya.

Meja di depan sudah bersih tanpa debu, namun Setiawan tetap mengibaskan lengan bajunya ke permukaan meja, seolah menghapus debu yang tak tampak, lalu dengan amat pelan meletakkan kecapi di atasnya. Tangan kanannya tampak santai memetik senar, namun suara kecapi terdengar dalam dan beresonansi panjang, menyisakan gema yang menawan.

"Kecapi yang luar biasa!" Setiawati spontan memuji.

Sinar kebanggaan melintas di mata Setiawan, namun segera ia menahan perasaan itu.

"Kecapi ini ayah dapatkan secara kebetulan, hari ini ayah ingin memberikannya padamu, Wati." Setiawan meninggalkan meja, menunjuk kecapi, mengisyaratkan agar Setiawati maju untuk mencoba.

"Anakku memang pernah belajar bermain kecapi, tapi..." Setiawati tampak ragu.

Awalnya ia hanya ingin meminta hadiah pertemuan, itu pun karena dorongan hati dan sedikit menguji ayahnya. Namun kecapi yang diberikan Setiawan sekarang jelas bukan benda biasa, membuat Setiawati benar-benar terkejut.

"Ayah tahu kamu bermain kecapi dengan baik, kakakmu sudah beberapa kali memuji di depan ayah." Setiawan mengelus dagunya, langsung membocorkan pujian Setiawan kepada Setiawati.

"Adik, cepat coba! Kecapi ini benar-benar 'Hijau Anggur', kakak saja ingin memegangnya, ayah tidak mengizinkan!" Setiawan mendesak dengan antusias.

Benar-benar "Hijau Anggur"? Setiawati merasa hatinya bergemuruh. Di kehidupan sebelumnya, kecapi ini hanya legenda yang tak pernah muncul. Tak disangka di kehidupan ini ia bisa melihat dan bahkan memiliki kecapi itu. Jelas nasib dan hidupnya kini sangat berbeda dari masa lalu!

Setiawati menarik napas dalam-dalam, melangkah ke meja, duduk bersila di depannya. Ia menahan keinginan untuk mencari kalimat "Gabungan Kayu Paulownia dan Jati" yang mungkin terukir di dalam kecapi. Dengan mata terpejam, ia berusaha menenangkan hati, lalu membuka mata dan mulai bermain. Tangan kiri menekan senar, tangan kanan memetik, mengalirkan lagu indah "Angsa Berjatuhan di Pasir".

Melodi mengalun indah, suara angsa terdengar samar-samar, nada naik turun memanjang tanpa putus, merdu dan penuh keindahan. Dasarnya tenang, namun di dalam ketenangan itu ada gerak yang lembut.

Setiawati benar-benar tenggelam dalam keindahan suara kecapi yang mengalir. Ia tak hanya pandai bermain kecapi, tapi teknik jarinya sangat terlatih. Di kehidupan sebelumnya, bertahun-tahun di vihara, selain mempelajari ilmu pengobatan dan berlatih bela diri, ia hanya bermain kecapi dan membaca buku. Puluhan tahun pengalaman itu tak sebanding dengan usianya sekarang, meski dulu ia hanya punya kecapi biasa.

Di ruangan itu, ada sekitar tujuh atau delapan orang, namun ketika lagu Setiawati usai, suasana menjadi sunyi. Semua orang terbuai dalam alunan melodi yang lembut dan jernih, sulit melepaskan diri.

Setiawan terkejut dengan kepiawaian Setiawati, meskipun ia sendiri telah belajar kecapi sejak kecil, puluhan tahun, ia harus mengakui tak bisa menyamai kehebatan putrinya.

"Bagus! Sangat luar biasa! Adik benar-benar hebat!" Pujian Setiawan membangunkan semua orang dari pesona suara kecapi.

"Tak disangka teknik bermain kecapimu begitu terampil. Hebat! Kecapi bagus harus dipasangkan dengan pemain hebat. Kecapi ini punya tuan yang pantas, benar-benar sepadan!" Setiawan pun bertepuk tangan memuji. Ia tak menyangka putrinya memiliki bakat seperti itu, rasa kagum dan bahagia bercampur dengan sedikit kebingungan.

Meski Setiawan punya rasa penasaran atas kehebatan bermain kecapi Setiawati, sebagai ayah ia bangga punya putri seperti itu, dan tidak akan terlalu jauh menyelidiki.

Kecapi sudah menjadi milik Setiawati, kini diletakkan di samping.

Setiawan berbalik, mengambil kotak kayu kecil dari tangan Pengurus Rumah Lin, memandang Setiawati dengan hati-hati, "Ayah dengar dari kakakmu, sekarang kamu sedang belajar ilmu pengobatan, jadi ayah telah memesan satu set jarum perak. Semoga bisa bermanfaat."

Setiawati turun dari meja, menggerak-gerakkan kaki yang sedikit kesemutan, lalu dengan tenang menerima kotak kayu dari tangan Setiawan dan langsung membukanya. Di dalam, jarum-jarum perak berkilauan, satu set lengkap dengan berbagai ukuran tersusun rapi di atas kain sutra.

Set jarum perak ini jauh lebih lengkap dan indah dibandingkan milik Mama Li. Jarum Mama Li sudah menemaninya puluhan tahun, sudah sangat terbiasa menggunakannya. Awalnya Setiawati ingin mencari kesempatan ke pasar untuk memesan sendiri satu set jarum perak, karena terus-menerus meminjam milik Mama Li juga tidak ideal. Tapi ternyata Setiawan diam-diam sudah mengurusnya, menunjukkan sisi perhatian yang tak ia duga dari ayah yang di kehidupan sebelumnya dianggap buruk.

Namun, apakah ayahnya benar-benar buruk atau tidak, masih harus diamati lebih lanjut.

"Terima kasih, Ayah. Kecapi dan jarum perak, keduanya sangat aku suka." Setiawati menyerahkan jarum perak kepada Mama Li untuk disimpan, lalu membungkuk hormat kepada Setiawan.

"Yang penting kamu suka!" Setiawan menghela napas panjang, di hadapan Setiawati ia selalu merasa sedikit gugup.

Setiawan kembali memandang sekeliling, berulang kali mengingatkan para pelayan agar merawat Setiawati dengan baik, juga memerintahkan Nenek Chen dan Pengurus Rumah Lin untuk segera menyiapkan staf di Paviliun Langit Biru. Setelah itu, ia mengajak Setiawan mengikuti ke ruang kerja di luar.

"Hari ini, di hadapan pamanmu dan Menteri Negara, Sri Baginda menyebut soal penetapan pewaris gelar. Surat keputusan untuk mengangkatmu sebagai pewaris akan segera tiba di rumah. Kini adikmu sudah kembali, ibumu sedang sakit, kamu harus lebih banyak menjaga mereka." Setelah duduk di ruang kerja, Setiawan langsung menyampaikan.

"Urusan ibu dan adik, ayah tak perlu khawatir, aku pasti akan memperhatikan. Tapi dengan keadaan rumah kita sekarang, beberapa hal aku juga tak bisa apa-apa." Setiawan menatap Setiawan tanpa ekspresi.

"Soal pengelolaan rumah, ayah sedang berdiskusi dengan nenekmu, tidak akan seperti dulu lagi." Mata Setiawan sedikit berkedip.

Setiawan mendengus pelan, membuat wajah Setiawan semakin tak enak dilihat.

"Ayah tahu kamu sangat mengagumi Pewaris Menteri Negara, ingin membangun karir sendiri. Tapi kamu satu-satunya anak lelaki ayah. Meski bukan untuk ayah, pikirkan juga perasaan ibumu. Ayah bisa memberi jalan agar kamu masuk Pasukan Penjaga Istana, tapi ke perbatasan itu tidak mungkin." Setiawan menatap Setiawan lama, hingga Setiawan menahan sikap meremehkan di wajahnya, baru ia berkata.

"Kalau ayah sudah bicara, harus ditepati. Tapi soal masuk Pasukan Penjaga Istana, ayah tak perlu repot, aku pasti bisa masuk dengan usaha sendiri!" Setiawan tersenyum, lalu berbicara serius.

Mana mungkin, masuk Pasukan Penjaga Istana saja harus pakai jalur belakang? Kalau begitu, apa gunanya jadi pewaris Rumah Adipati Anning?