Bab Lima Puluh: Niat Tersembunyi

Putri Sulung yang Angkuh Daun yang penuh kasih dan kenangan 2247kata 2026-03-05 15:34:15

Hari itu, dari dalam kamar Nyonya Besar terdengar makian yang meluap-luap karena marah yang tidak tertahankan. Seluruh pelayan di Taman Cian, mulai dari Nenek An yang sudah tua sampai para perempuan kasar yang bertugas membersihkan halaman, semuanya diam membisu, bahkan tak berani bernapas keras-keras. Suasana Taman Cian menjadi sangat hening, sehingga teriakan marah yang kadang-kadang terdengar jadi makin menusuk telinga.

Nenek An adalah pelayan pengiring yang dibawa Nyonya Besar sejak muda. Nyonya Besar sangat bergantung padanya. Namun, tatapan dingin dari Si Penguasa yang belum pernah ia lihat sebelumnya membuat hati Nenek An terasa dingin; ia tidak berani lagi berbicara sewenang-wenang seperti dulu di hadapan Nyonya Besar.

Gadis-gadis pelayan seperti Bai Shao pun menutup mulut rapat-rapat. Jika Nenek An saja tak berani bicara, mereka pun semakin tak berani membuka suara, hanya bekerja dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan masalah.

Semua orang tahu, kini Jenderal Han dan Adipati Pendirian Negara telah kembali ke ibu kota. Dengan sifat Jenderal Han yang terkenal melindungi keluarga, jika Nyonya Besar terus bersikeras seperti ini, selalu menindas Nyonya Han dan kedua anaknya, meski ia adalah sesepuh keluarga, hasilnya pun tak akan baik baginya.

Di tengah suara erangan dan makian yang silih berganti dari Nyonya Besar, hati Nenek An mulai berputar mencari jalan keluar.

Sepuluh tahun lalu mungkin Nenek An akan sepenuhnya memihak Nyonya Besar, namun kini setiap teringat cucunya yang cerdas dan lincah, Nenek An ingin menyiapkan jalan keluar untuk dirinya sendiri.

Seumur hidupnya ia rela jadi pelayan, namun cucunya yang berotak cemerlang kini hanya belajar bersama Tuan Muda Kedua dan sudah mendapat pujian besar dari guru—suatu hal yang sangat disayangkan.

Dalam hati, Nenek An ingin memohon belas kasihan Nyonya Besar. Ia tidak meminta seluruh keluarganya dibebaskan dari status pelayan, hanya berharap cucunya dihapus dari daftar hina, agar ia punya masa depan yang baik. Asal cucunya mendapat kesempatan maju, walaupun nyawanya harus melayang, ia pun rela.

Namun jika Nyonya Besar tetap keras kepala, sebagai orang kepercayaannya, apa untungnya bagi Nenek An? Dan bagaimana pula nasib cucunya kelak?

Bukankah Nyonya Besar sadar, bahkan tanpa Adipati Pendirian Negara, Jenderal Han saja sudah cukup membuat keluarga Anning kerepotan? Jika kedua keluarga bersatu, apa yang bisa diharapkan keluarga Anning?

Sekarang memang Tuan Muda mendapat kepercayaan dari Kaisar, tetapi bukankah Jenderal Han dan Adipati Pendirian Negara juga sangat diperhatikan oleh Kaisar?

Terlebih lagi, peristiwa masa lalu sebenarnya masih bisa dilacak. Jika benar-benar diselidiki, asal-usul “anak iblis” pun akan terungkap. Belum lagi urusan Nyonya Kecil Lin yang berusaha menjebak Tuan Muda, selama ini Nyonya Han hanya kecewa karena Tuan Muda tak peduli pada Si Penguasa.

Andai Nyonya Han benar-benar mengambil alih kedudukan Nyonya Besar, bukan hanya urusan Nyonya Kecil Lin yang menjebak Tuan Muda, bahkan aib-aib yang selama ini ia sembunyikan pasti akan terbongkar satu per satu. Nyonya Kecil Lin hanyalah seorang selir, jika saat itu tiba, apa yang bisa ia harapkan?

Ah, makin tua Nyonya Besar, tindakannya makin tak masuk akal. Nenek An hanya bisa mengeluh dalam hati. Benar kata pepatah, penonton justru lebih jernih melihat masalah. Namun sebagai pelayan, apa dayanya untuk mengubah keputusan majikan? Hanya bisa menasihati saat ada kesempatan.

Hari ini Nenek An sempat melirik Si Penguasa. Sebagai putri sulung keluarga Anning, memang ia kurang berwibawa, tetapi pandangan matanya sesekali memperlihatkan ketegasan, tidak seperti yang digambarkan Si Penguasa bahwa ia penakut. Seorang anak perempuan yang sejak lahir diasuh di luar istana, memiliki aura semacam itu sungguh langka.

Setelah kembali ke rumah, dengan bimbingan Nyonya Han, serta dukungan Jenderal Han dan Adipati Pendirian Negara, kelak putri sulung pasti akan bersinar terang.

Tidak, tidak boleh membiarkan Nyonya Besar terus membuat keributan. Tak bisa hanya diam menunggu nasib, apa pun caranya, ia harus membujuk Nyonya Besar, meski tidak bisa sepenuhnya menuruti keinginan Tuan Muda, setidaknya jangan sampai Nyonya Besar berseberangan dengannya.

Nenek An menimbang lama dalam hati, akhirnya pikirannya menjadi jelas. Ia pun merapikan pakaian Nyonya Besar, membujuk dengan lembut, “Nyonya, sebaiknya tenangkan hati. Waktu tabib istana datang memeriksa, beliau berpesan agar Nyonya jangan mudah marah. Urusan rumah ini masih butuh Nyonya untuk mengatur segalanya!”

“Anak setan itu sudah masuk ke rumah ini, aku khawatir rumah ini takkan pernah tenang lagi.” Tatapan Nyonya Besar berkilat tajam, membuat hati Nenek An bergetar.

Tampaknya Nyonya Besar berniat memanfaatkan ulang tahun putri sulung untuk membuat keributan. Jika benar demikian, rumah ini takkan pernah tenang.

Alis Nenek An mengernyit, pikirannya berputar-putar, akhirnya ia tidak lagi berharap pada Nyonya Besar atau Nyonya Kecil Lin.

Di sisi Nyonya Besar ada Nyonya Kecil Lin, di bawah namanya ada Si Penguasa dan Si Muda An. Sekilas tampak mampu melawan Nyonya Han.

Nyonya Kecil Lin memang cerdas dan cekatan, tetapi sifatnya terlalu gelap. Hanya sebagai selir, namun sepuluh tahun memegang rumah tangga, ia merasa dirinya pantas menjadi Nyonya Besar, sementara pada para pelayan ia memandang rendah.

Si Penguasa bahkan lebih tinggi hati, suka memukul pelayan tanpa ampun, seorang anak perempuan biasa dimanja Nyonya Besar sampai sebegitunya.

Si Muda An, meski statusnya sebagai putra kedua, sangat jarang mendapat perhatian dari Si Penguasa. Di rumah, ia bagai bayangan, tentu saja karena usianya masih sangat muda.

Sedangkan keluarga Lin di belakang Nyonya Besar, tanpa dukungan keluarga Anning, pasti sudah lama jatuh.

Sebaliknya, Nyonya Han juga memiliki seorang putra dan putri. Putranya sebentar lagi akan diangkat menjadi ahli waris, putrinya yang baru saja kembali ke rumah sudah mampu memanfaatkan kekuatan Jenderal Han dan Adipati Pendirian Negara—jelas bukan anak bodoh.

Terlebih lagi, di belakang Nyonya Han berdiri Jenderal Han, dan Adipati Pendirian Negara yang sangat menyayangi istrinya, sahabat karib Nyonya Han.

Jika dibandingkan, keunggulannya jelas terlihat.

Tentu saja Nenek An tidak berniat terang-terangan mengkhianati Nyonya Besar, namun di hadapan kepentingan, ia bisa melihat dengan jernih, sehingga dalam hatinya tumbuh niat tersendiri.

Pada akhirnya, dengan bujukan Nenek An, Nyonya Besar perlahan tenang dan bersiap memanggil Nyonya Kecil Lin. Hari ini Si Penguasa memanggilnya dengan alasan hendak berdiskusi, padahal hanya memberi tahu rencana yang sudah matang.

Kali ini Si Penguasa benar-benar ingin mencabut kekuasaan Nyonya Kecil Lin dalam mengelola rumah tangga, dengan alasan yang sangat masuk akal, namun tetap ada celah untuk dimanfaatkan. Maka Nyonya Besar yang sudah tenang ingin mendiskusikan langkah selanjutnya.

Sayang, rencana matang Nyonya Besar kembali gagal, sebab Nyonya Kecil Lin telah dijatuhi hukuman kurungan oleh Si Penguasa.

Begitu Nyonya Besar mendengar kabar Nyonya Kecil Lin dikurung, Taman Cian kembali gaduh. Setelah susah payah menenangkan amarah Nyonya Besar, Nenek An tampak sangat lelah. Usianya memang sudah tua.

Jika Nyonya Besar terus seperti ini, Nenek An khawatir, suatu hari nanti bukan hanya Nyonya Besar yang celaka, tetapi dirinya pun bisa ikut hancur. Namun sebagai orang kepercayaan Nyonya Besar, Nenek An hanya bisa bertahan dan menanggung segalanya.