Bab Dua Puluh Lima: Poster Bintang

1980: Awal Karier Saya Sebagai Sutradara Taman Liang, Tempat Merajut Impian 2463kata 2026-03-05 02:26:07

Han Ping baru saja hendak meninggalkan pasar sayur ketika ia melihat beberapa pria berkumpul dengan gelagat mencurigakan di sebuah lapak kecil.

“Jangan-jangan mereka jual barang terlarang lagi?” pikir Han Ping dengan penasaran, lalu mendorong sepedanya ke arah mereka.

“Bro, berapa harga poster ini?”

“Satu lembar satu yuan.”

“Kok mahal banget? Kalender dinding saja harganya satu yuan.”

“Ya sudah, beli saja kalender dinding.”

Saat Han Ping mendekat, ia baru sadar bahwa orang-orang itu sebenarnya sedang membeli poster artis perempuan. Penjualnya memajang cukup banyak poster yang semuanya bergambar bintang wanita. Tak hanya bintang dalam negeri seperti Chen Chong dan Liu Xiaoqing, tapi juga ada artis dari Hong Kong dan Taiwan seperti Lin Qingxia dan Zhong Chuhong.

Wah, penjualnya ini memang punya barang bagus.

Di zaman ini, tren membeli kalender dinding mulai naik daun. Gambar di kalender pun kian beragam, tidak hanya potret pemimpin atau lukisan pemandangan seperti dulu. Yang paling laris adalah gambar “Wanita Cantik”.

Konon, kalender bergambar “Wanita Cantik” yang laris, bisa dicetak hingga lebih dari sejuta eksemplar oleh sebuah pabrik kecil dalam setahun.

Sekarang masih belum masuk bulan Oktober, belum waktunya orang membeli kalender. Tapi penjual ini sudah kepikiran menjual poster secara terpisah—ide yang lumayan juga.

Cuma, satu yuan memang mahal!

Namun, Lin Qingxia di poster itu memang benar-benar cantik.

Han Ping merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang satu yuan dan berkata pada penjual, “Bos, saya beli poster Lin Qingxia.”

Melihat akhirnya ada pembeli yang mengeluarkan uang, penjual itu tampak senang, hanya saja...

“Yang mana Lin Qingxia?”

“Eh...” Han Ping tersenyum kaku sambil menunjuk poster wanita berbaju renang.

“Oh, dia Lin Qingxia ya.” Penjualnya mengangguk, lalu menatap Han Ping dengan senyum penuh arti, “Bro, kamu paham banget ya, tahu pilih yang mana.”

Han Ping tertawa kering, “Hehe, lumayanlah.”

“Bos, saya juga mau, yang itu, yang nggak pakai baju.”

“Aku mau yang ini!”

“Aku juga mau Lin Qingxia!”

Karena Han Ping sudah memulai, yang lain pun segera buru-buru memilih, takut keburu kehabisan.

Melihat ada yang membeli poster wanita telanjang, Han Ping sampai berkedip-kedip. Di zaman ini, membeli poster sebenarnya tidak masalah, tapi kalau memilih yang terlalu vulgar seperti itu...

Dasar lelaki hidung belang.

Setelah uang dan barang berpindah tangan, Han Ping segera menyimpan posternya dan secepat kilat meninggalkan tempat itu, takut terseret masalah dan malah ikut-ikutan ditangkap.

Sesampainya di rumah setelah bersepeda, Han Ping meletakkan sayuran yang dibelinya. Li Pingping memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang busuk atau layu, dan tampak puas.

Sayuran di pasar milik negara memang sedikit lebih mahal daripada pasar swasta, tapi kelebihannya adalah lebih segar, nyaris tidak ada yang busuk atau terlalu tua. Karena itu, masyarakat tetap memilih belanja di pasar milik negara.

“Sisa uangnya mana?” tanya Li Pingping.

Han Ping manyun, “Nggak bisa kasih saya ongkos capek sedikit?”

“Kamu makan dan minum dari uang saya, masih minta uang lelah?” Li Pingping melirik tajam.

Han Ping membela diri, “Saya juga ikut nyumbang, tahu! Hampir semua gaji saya tiap bulan masuk rumah ini.”

“Itu memang sudah seharusnya. Aku dan ayahmu membesarkanmu sampai dewasa, uang yang kami keluarkan berkali lipat dari yang kamu berikan,” sanggah Li Pingping.

Han Ping tak bisa berkata-kata lagi. Dengan enggan, ia mengeluarkan sisa uang sekitar satu yuan dari sakunya dan menyerahkannya pada ibunya.

“Bulan depan, boleh nggak saya setor lebih sedikit?” Han Ping berusaha merayu, “Sekarang kerjaan saya sudah mulai lancar, kadang harus gaul juga sama teman kantor. Kalau di kantong nggak ada uang, kan nggak enak. Nggak banyak-banyak kok, dua puluh yuan saja sudah cukup.”

“Dua puluh yuan? Kebanyakan. Kamu anak muda, mau gaul sama siapa?” Li Pingping langsung menolak.

Han Ping mengeluh, “Saya ini sudah dewasa, Ma, jangan selalu anggap saya anak-anak.”

“Misal teman kerja traktir makan, saya juga harus gantian traktir, kan? Terus bos juga sering bantu saya, kadang harus undang makan atau kasih bingkisan waktu hari raya. Itu semua butuh uang, kan?”

Li Pingping mengernyit, “Masih muda kok sudah belajar caranya cari muka seperti itu!”

Di tempat kerjanya, Li Pingping memang tak suka menjilat, dan ia tak ingin anaknya jadi seperti itu.

“Ma, itu namanya menjaga hubungan,” jawab Han Ping. “Masa saya harus bermusuhan sama rekan dan atasan?”

“Sudahlah, terserah kamu saja,” kata Li Pingping, lalu hendak memasukkan uang itu ke saku, tiba-tiba menyadari jumlahnya tak sesuai.

“Eh, kok kurang ya? Harusnya masih ada satu yuan lagi?”

Han Ping mencoba mengelak, “Buat beli barang lain.”

“Buat apa memangnya?” tanya Li Pingping, tak mau menyerah.

Melihat ibunya bersikeras, Han Ping pun terpaksa mengaku telah membeli poster.

“Hanya selembar poster saja satu yuan, kamu beli juga?” Li Pingping tak percaya.

Merasa situasi makin panas, Han Ping memutar otak mencari alasan, “Eh, Ma, begini... kan film yang saya ikut syuting sudah selesai, sebentar lagi mau tayang. Kalau mau promosi, butuh poster. Saya beli poster itu buat belajar cara menyusun komposisinya...”

Pada akhirnya, ia sendiri tak sanggup melanjutkan alasannya. Apalagi yang ia beli adalah poster baju renang, bagaimana mau bohong?

Siapa sangka, Li Pingping tampaknya percaya, “Ya sudah, tapi bulan depan kamu cuma boleh pegang sembilan belas yuan.”

“Siap, terima kasih Ma!” Han Ping pun tak mempermasalahkan satu yuan itu. Ia langsung membawa posternya ke kamar.

Kamarnya memang tidak besar, tapi cukup untuk sebuah ranjang ganda, meja belajar, dan rak buku kecil. Han Ping mencoba-coba menata, akhirnya memutuskan menggantung poster Lin Qingxia di kaki ranjang, jadi tiap bangun pagi yang pertama kali ia lihat adalah poster baju renang itu.

Dengan dekorasi poster, kamarnya jadi tak terasa kosong lagi.

Saat Han Ping sibuk dengan posternya, Li Pingping yang tampak cemas mencari suaminya.

“Lao Han, anak kita... si bungsu itu...”

Han Gang yang melihat wajah istrinya begitu khawatir, langsung merasa tegang, “Kenapa dengan si bungsu?”

“Anakmu barusan beli gambar wanita cantik!”

“Hah?”

“Itu lho...” Li Pingping menceritakan semuanya dengan detail, lalu bertanya, “Menurutmu, kenapa anak kita jadi begitu?”

Han Gang malah santai, “Kirain kenapa, dia kan sekarang sudah kerja di industri film, beli poster itu biasa saja.”

“Lao Han, kamu pikir si bungsu sudah waktunya cari pacar?” tanya Li Pingping tiba-tiba.

“Maksudmu, anak itu...” Han Gang jadi ragu. Ia berpikir, di usia anaknya dulu ia sendiri sudah dekat dengan istrinya. Sedangkan anak mereka, belum ada tanda-tanda.

“Mungkin itu justru baik?” kata Li Pingping dengan berat hati, “Kakaknya saja sedang sibuk urusan pernikahan. Kalau si bungsu juga punya pacar, kondisi keluarga kita...”

“Nanti juga ada jalan keluar. Lagipula si bungsu sekarang sudah berkembang dengan baik, siapa tahu kelak malah tak perlu kita repotkan lagi,” hibur Han Gang.

“Tapi, Lao Han, sebagai orang tua, kita tak boleh pilih kasih, kan?” kata Li Pingping. Meski sehari-hari ia sering menyebut anak sulung, hatinya tetap adil.

Anak tetap anak, baik sulung maupun bungsu, ia rela bersusah payah asalkan keduanya tidak merasa kurang kasih sayang.