Bab Dua Puluh Delapan: Sesi Menonton Film
Seiring film mulai diputar, sikap duduk Manajer Zhou yang awalnya santai dan malas berubah menjadi lebih formal. Ia menyadari bahwa film ini sangat berbeda dari gaya khas Studio Film Yan sebelumnya.
Bahkan, sejujurnya, ini adalah jenis film yang belum pernah ada di dalam negeri. Jangan bicara soal dalam negeri, bahkan di Hong Kong pun belum pernah ada film semacam ini.
Ia ingat, pada waktu pelaporan, Studio Film Yan menyebut film ini sebagai film cerita, bukan? Omong kosong, mana ada film cerita seperti ini! Seharusnya ini masuk kategori film laga... tidak, ini jelas bukan sekadar film laga biasa, ada begitu banyak elemen di dalamnya. Ia harus menonton sampai selesai sebelum bisa menarik kesimpulan.
Kegaguman serupa juga dirasakan oleh Xiao Gao. Sebelum datang ke Studio Film Yan, ia sama sekali tidak menaruh harapan pada film ini. Selama bertahun-tahun di Perusahaan Film Tiongkok, ia sudah menonton begitu banyak film, baik lokal maupun luar negeri, terutama film luar negeri yang hebat-hebat, hingga ia tak sanggup lagi menghitung jumlahnya.
Jika dibandingkan dengan film luar negeri yang begitu beragam dan berkualitas, film dalam negeri sangat terbatas jenis dan temanya, hanya itu-itu saja. Menemukan sebuah film unggulan ibarat mencari emas di antara pasir.
Justru karena telah melihat begitu banyak film luar negeri yang berkualitas, ia tak bisa menahan kekhawatiran terhadap masa depan industri film dalam negeri. Dunia perfilman di sini terlalu lama tertutup, masih bisa bertahan hanya karena bermain di kandang sendiri. Tapi jika nanti film-film luar negeri yang bagus masuk ke pasar domestik...
Membayangkan itu saja sudah membuatnya bergidik. Perusahaan tempatnya bekerja memang khusus di bidang distribusi, masuknya film luar negeri tidak akan memengaruhi pendapatan mereka. Tapi bagi para rumah produksi dalam negeri, secemerlang apapun mereka sekarang, masa depan mereka akan semakin suram.
Satu per satu akan tumbang!
Namun siapa sangka, Studio Film Yan lewat “Buddha Misterius” berhasil membuat terobosan langka. Bukan hanya dalam segi alur, tapi juga dalam pemilihan tema.
Kertas dan pena yang tadinya hanya sebagai pelengkap pun kini benar-benar berguna, ia mulai mencatat dengan penuh semangat, menuangkan pandangan dan penilaiannya tentang film ini ke dalam buku catatan.
Kalau memang memungkinkan, tentu saja ia berharap film dalam negeri bisa bangkit dan mengejar ketertinggalan, meski hanya secercah harapan.
Ah, begitulah, karena ia juga anak bangsa.
Satu jam lebih berlalu, film pun usai, di layar lebar mulai muncul daftar nama para pemain dan kru.
Manajer Zhou tidak meminta film dimatikan, justru ia memperhatikan daftar nama kru. Ia ingin tahu siapa sutradara film lokal yang begitu luar biasa ini.
Sutradara Zhang Huaxun, Wakil Sutradara Zhang Zeyu, Wakil Sutradara Han Ping.
Eh, tiga orang wakil sutradara?
Manajer Zhou menahan rasa herannya dan terus membaca.
Penulis skenario Han Ping, Editor Han Ping, Koreografer Bela Diri Han Ping, Penata Properti Han Ping...
Siapa sebenarnya Han Ping ini, kenapa namanya muncul di hampir semua bagian?
Han Ping sendiri pun terkejut, ia tidak tahu soal ini. Pada pemutaran sebelumnya, namanya tidak pernah tercantum sebagai wakil sutradara. Ia pun menoleh ke arah Kepala Pabrik Wang dan sutradara Zhang Huaxun, jelas ini keputusan mereka berdua.
Hatinya pun langsung bergetar oleh rasa bahagia. Ini berbeda, semua telah berubah.
Bukan sekadar menambah satu nama, ini adalah pengakuan dari pabrik kepadanya. Dengan gelar ini, ia kini benar-benar bisa disebut sebagai sutradara. Di studio kecil, ia sudah layak untuk menyutradarai film sendiri.
“Terima kasih Kepala Pabrik, terima kasih Sutradara Zhang, saya tidak akan mengecewakan kalian,” ucap Han Ping dalam hati.
Lampu di ruang pemutaran kecil menyala, film telah selesai.
Kepala Pabrik Wang tersenyum pada Manajer Zhou di sebelahnya, “Bagaimana, Manajer Zhou, film kami tidak mengecewakan Anda, kan?”
“Film yang sangat luar biasa, benar-benar membekas di ingatan,” ucap Manajer Zhou, lalu menambahkan, “Terutama adegan bela dirinya, saya belum pernah melihat yang seperti itu.”
“Bagaimana soal salinan filmnya...”
“Itu masih harus dibahas dalam rapat, tapi film ini memang luar biasa. Saya optimistis dengan prospeknya di pasar,” jawab Manajer Zhou.
Kepala Pabrik Wang menjabat tangannya dengan erat, “Kalau begitu, tolong bantu promosikan film kami, Manajer Zhou.”
“Sudah menjadi kewajiban saya,” Manajer Zhou tersenyum, lalu bertanya, “Oh ya, siapa Han Ping yang ada di daftar kru? Bolehkah saya bertemu dengannya?”
“Han Ping? Itu dia,” Kepala Pabrik Wang menunjuk Han Ping yang duduk di barisan belakang.
Kenapa disebut-sebut aku, pikir Han Ping, tapi ia segera berdiri, “Selamat sore, Manajer Zhou, saya Han Ping.”
“Anda penulis skenario ‘Buddha’?”
“Saya salah satu penulisnya, yang utama adalah Sutradara Zhang.”
“Anda juga koreografer bela diri?”
“Soal bela diri saya tidak terlalu ahli, hanya memberi sedikit saran.”
“Kalau penata properti?”
“Itu memang bidang saya.”
“Lalu bagaimana dengan urusan sutradara?”
Han Ping menjelaskan dengan singkat.
Meski demikian, Manajer Zhou tetap merasa sangat terkejut. Begitu muda, namun berbakat luar biasa, Studio Film Yan benar-benar mendapat berlian!
“Saya menantikan karya-karya hebat dari Han Ping di masa depan,” ucap Manajer Zhou sebelum berpamitan dan menolak undangan makan malam dari Kepala Pabrik Wang dengan halus.
Saat ini ia memang tidak berminat makan, apalagi bersama Kepala Pabrik Wang; tidak mungkin juga ia akan dijamu secara berlebihan, dan makanan di kantin tidak menarik minatnya lagi. Lebih baik ia segera pulang dan melaporkan hasil kunjungannya ke Studio Film Yan hari ini.
Ia punya firasat, “Buddha” berpeluang menciptakan sebuah keajaiban tersendiri di dunia perfilman dalam negeri.
Sebelum pergi, Xiao Gao berpamitan untuk ke kamar kecil; Han Ping dengan ramah menemaninya.
Saat mereka kembali, wajah Han Ping tampak ceria.
Setelah rombongan dari Perusahaan Film Tiongkok pergi, Kepala Pabrik Wang bertanya, “Menurut kalian, bagaimana?”
Pertanyaan itu terdengar tanpa arah, namun semua orang paham maksudnya.
Zhang Huaxun berkata, “Manajer Zhou sangat memuji, kemungkinan salinan film yang diambil tidak sedikit.”
Liu Jirui tersenyum, “Aku duduk di sebelah sekretaris Manajer Zhou. Sepanjang film, ia sangat fokus, benar-benar tenggelam dalam cerita. Kurasa itu mewakili pengalaman menonton penonton biasa.”
Han Ping menambahkan, “Saat film diputar, aku juga mengamati Xiao Gao. Aku bisa melihat ia sangat mengagumi film kita, bahkan mencatat tiga hingga empat halaman penuh, berarti film kita meninggalkan kesan mendalam baginya. Bahkan seusai menonton, saat ke kamar kecil, dia sempat bilang padaku bahwa film ini memberinya harapan baru bagi perfilman dalam negeri.”
“Nampaknya kali ini kita benar-benar berjudi di jalur yang tepat,” Kepala Pabrik Wang menghela napas lega, kecemasan di hatinya sirna sebagian.
“Tapi meskipun sudah lolos dari Perusahaan Film Tiongkok, kita tidak boleh lengah. Sebelum pemutaran resmi, masih ada uji tayang terbatas. Media juga akan kita undang, dan penilaian mereka sangat penting.”
Raut wajah semua orang seketika berubah tegang, mereka tahu kadang penilaian media bisa sangat menentukan.
Contohnya film yang dulu berjudul “Cinta Pahit” dan kemudian diganti menjadi “Matahari dan Manusia,” yang akhirnya gagal tayang setelah uji tayang.
“Matahari dan Manusia” gagal karena faktor era, tapi “Buddha” ini pun terbilang cukup mendahului zamannya. Meski di masa lalu bisa tayang lancar, Han Ping tetap khawatir akan efek kupu-kupu.