118 Apakah kamu benar-benar menginginkannya?
Mungkin karena aku datang bersama Cen Cong dan Shang Hairui, Wang Juan jadi panik. Ia berkata kepada kami, “Kakakku datang untuk bicara dengan Zhou Gendut. Kalian ikut-ikutan buat apa? Cepat pergi!”
Sambil berkata begitu, ia bahkan mendorong kami ke samping. Kami bertiga lelaki dewasa tentu tidak mungkin mengeroyok seorang gadis, jadi kami hanya bisa menunggu di tempat lain. Setelah mereka bertiga berbicara selama kira-kira lima menit, kakak Wang Juan mengendarai sepeda sambil membawa Wang Juan pergi. Zhou Gendut berjalan menghampiri kami dengan dada dibusungkan, tampak sangat bangga.
“Kalau tahu kakaknya ternyata pengecut begitu, aku tidak perlu memanggil kalian kemari. Lihat saja, dia sampai ketakutan begitu!” katanya.
Aku bertanya apa yang mereka bicarakan. Zhou Gendut berkata tidak ada yang istimewa. Kakak Wang Juan hanya menanyakan apakah ia menyukai Wang Juan. Kalau memang suka, ia harus memikirkan perasaan Wang Juan karena gadis itu masih seorang pelajar dan tidak boleh diganggu belajarnya. Setelah Wang Juan lulus SMA nanti, ia akan mendukung Zhou Gendut mengejar adiknya.
Mendengar itu, kami semua tertawa. Menurutku, kakak Wang Juan mungkin hanya ketakutan, sehingga terpaksa mengatakan akan mendukung Zhou Gendut kelak. Sebenarnya, dalam hati, dia pasti sangat membenci Zhou Gendut. Wang Juan juga malang karena tidak punya latar belakang kuat, sampai-sampai bisa terus diganggu kodok buruk rupa seperti Zhou Gendut. Sungguh kasihan!
Setelah itu, Cen Cong dan Cen Yajing pulang naik kendaraan. Aku, Shang Hairui, dan Gao Meng mulai mengayuh sepeda pulang. Sejak tinggal di rumah, aku tidak lagi berlari ke sekolah. Luka-luka di tubuhku belum sepenuhnya pulih, jadi untuk sementara aku menghentikan latihan.
Hari itu, setelah aku dan Shang Hairui tiba di rumah, begitu membuka pintu, kami langsung melihat Guan Qingqing dan Dabing duduk di sofa sambil menonton televisi. Saat itu posisi Guan Qingqing cukup dekat dengan Dabing. Begitu melihatku, ia tampak sangat gugup dan buru-buru bergeser menjauh, memberi jarak di antara mereka. Ia lalu bertanya kepada kami, “Bukankah kalian baru pulang sekolah sore? Kenapa sudah pulang siang?”
Aku tidak menjawab. Dalam hati aku berpikir, sebelumnya aku memang sudah melihatnya kembali berhubungan dengan Dabing. Rupanya mereka sudah berbaikan lagi.
Shang Hairui berkata bahwa sekolah akan mengadakan ujian akhir semester lusa, sehingga hari itu mereka diliburkan sejak siang. Sambil berbicara, ia juga menyapa Dabing. Sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Dabing malah melirikku dengan tatapan penuh penghinaan, membuatku sangat kesal. Kalau saja Guan Qingqing tidak ada di sana, pasti sudah kumaki dia.
Mungkin kehadiranku membuat Guan Qingqing merasa tidak nyaman. Tidak lama kemudian, ia mengajak Dabing keluar. Setelah mereka pergi, aku bertanya kepada Shang Hairui bagaimana ia bisa mengenal Dabing.
Ia berkata bahwa Dabing sudah beberapa kali datang ke rumah. Guan Qingqing bilang Dabing adalah pacarnya, jadi mereka pun saling mengenal. Lalu ia bertanya kepadaku, “Tadi saat kalian saling menatap, suasananya penuh bau mesiu. Apa kalian berdua pernah punya masalah?”
“Kau tidak tahu? Bajingan itu pernah melukai Kakak dengan parah. Dulu Kakak juga pernah diculik orang dan dibawa ke Gunung Xi. Aku meneleponnya untuk minta bantuan, tapi dia malah bilang kejadian itu sama sekali tidak ada hubungannya dengannya. Selain itu, dia juga pernah berniat mengganggu Cen Yajing dan bahkan menyuruh orang menyergap kami dua kali. Dia benar-benar sampah manusia!”
Shang Hairui menunjukkan ekspresi tidak percaya. “Serius? Kenapa menurutku Dabing seperti orang baik? Dia memperlakukan Guan Qingqing dengan cukup baik.”
“Nanti tanyakan saja kepada Guan Qingqing apakah yang kukatakan benar. Kalau tidak, tanya Cen Yajing dan Cen Cong. Mereka semua tahu seperti apa tabiat Dabing.”
Shang Hairui memaki beberapa kali, lalu berkata, “Jadi bajingan itu setiap hari berpura-pura seperti orang terhormat. Sepertinya mulai sekarang kita harus lebih waspada terhadapnya. Jangan sampai Kakak terluka lagi!”
“Benar. Kalau dia berani mengganggu Kakak lagi, aku pasti akan menyelesaikan semua urusan lama dengannya sekaligus.”
Sebenarnya aku juga pernah berpikir untuk meminta ayah mengurusnya. Namun, setelah kupikir-pikir, lebih baik tidak. Ayah sedang berada dalam masa yang serba sulit, dan aku tidak ingin menambah masalahnya.
Malam itu, setelah Guan Qingqing pulang, ia memberitahuku bahwa ia dan Dabing sudah berbaikan. Ia juga bertanya apakah aku marah. Saat itu dadaku memang terasa dipenuhi amarah, jadi aku menjawab dengan kesal, “Bukan cuma marah. Aku bahkan ingin memakimu. Kau sendiri tahu dia itu manusia macam apa. Kenapa sekarang masih saja dekat-dekat dengannya? Memangnya semua lelaki baik di dunia ini sudah habis? Kenapa kau malah—”
Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku. Ini pertama kalinya aku berbicara seperti itu kepada Guan Qingqing, dan aku tahu kata-kataku pasti sangat menyakitkan baginya.
Ia tersenyum getir. “Soal perasaan, Kakak sendiri juga tidak bisa menjelaskannya. Bagaimanapun, ini pilihanku. Kelak, seberapa pun berat penderitaan yang harus kutanggung, aku akan menerimanya. Nanti, setelah kau mengalami hubungan seperti yang Kakak alami, kau akan mengerti.”
“Bukankah sekarang aku juga sedang mengalaminya? Hubunganku dengan Xia Yu juga begitu.”
Guan Qingqing tersenyum kecil. “Kalian masih terlalu muda. Kalian sama sekali belum mengerti apa itu perasaan. Setelah dewasa nanti, barulah kau tahu.”
Setelah itu aku tidak melanjutkan pembicaraan. Bagaimanapun, aku tahu nasihatku tidak akan berpengaruh apa-apa kepadanya.
Malam itu aku juga menelepon Xia Yu dan mengobrol sebentar. Sejak sikap ibunya terhadapku berubah, kami tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan. Kami bisa menelepon secara terbuka. Jadwal ujian sekolah mereka sama dengan sekolah kami. Karena besok tidak ada kegiatan, aku ingin mengajaknya keluar, tetapi ia cukup serius menghadapi ujian dan berkata akan belajar di rumah. Kalau hasil ujiannya buruk, ibunya pasti akan menghukumnya.
Keesokan paginya, sekitar pukul sepuluh, Shang Hairui menerima telepon. Dari percakapannya, aku bisa menduga bahwa yang menelepon adalah Gao Meng. Setelah menutup telepon, Shang Hairui berkata kepadaku, “Gao Meng mencariku karena ada urusan. Kau mau ikut?”
“Aku tidak ikut.”
Setelah ia pergi, aku terus bertanya-tanya, urusan apa yang membuat Gao Meng mencari Shang Hairui? Sepertinya hubungan mereka memang semakin dekat. Kalau ada keperluan, Gao Meng bahkan sudah mulai berinisiatif meminta bantuan Shang Hairui.
Hari itu Shang Hairui baru pulang lewat pukul sepuluh malam. Di dahinya ada benjolan, seolah-olah baru dipukul orang. Ketika kutanya apa yang terjadi, ia tidak menjawab. Ia hanya bilang tidak sengaja terbentur. Tentu saja aku bisa merasakan bahwa ia sedang berbohong.
Ujian kami berlangsung selama dua setengah hari. Pada hari terakhir ujian, banyak orang berkumpul di depan gerbang sekolah, dari berbagai tingkat kelas. Di antara mereka bahkan ada beberapa yang berniat tawuran. Sebenarnya semua sekolah sama saja. Begitu hari libur tiba, para siswa yang menyimpan dendam dan ingin menuntut balas akan berkumpul di depan gerbang.
Saat itu aku juga melihat Liu Hang dan Jin Caiji. Mereka sepertinya sedang menghajar seseorang. Jin Caiji hanya memaki tanpa turun tangan, sedangkan Liu Hang bertugas memukul. Itu pertama kalinya aku melihat Liu Hang berkelahi, dan ternyata dia cukup kejam. Ia menjambak rambut orang itu, membawanya ke dekat dinding, lalu membenturkan kepalanya ke sana.
Cen Cong bahkan berkata, “Seorang yang begitu kejam ternyata bisa menyukai lelaki. Benar-benar aneh.”
Entah ia menyukai lelaki atau perempuan, itu tidak ada hubungannya denganku. Yang kutahu, kami akhirnya libur dan terbebas dari sekolah. Kami bisa bersenang-senang sepuasnya.
Pada beberapa hari pertama libur musim dingin, hampir setiap hari aku pergi bermain bersama Xia Yu dan Cen Yajing. Hubunganku dengan Xia Yu bisa dibilang semakin erat. Aku masih ingat, saat baru menjalin hubungan dengannya, aku sering bertanya-tanya apakah ia benar-benar menyukaiku. Sekarang aku tidak lagi memikirkan hal semacam itu. Kadang-kadang aku bahkan merasa bahwa cintanya kepadaku mungkin sedikit lebih besar daripada cintaku kepadanya.
Tentu saja, setiap kali pergi bermain berdua, kami tidak pernah kekurangan kemesraan. Kadang-kadang, saat rumahnya sedang kosong, kami juga bermalas-malasan dan bermanja-manja di sana.
Suatu kali, ketika kami sedang berkirim pesan, Xia Yu tiba-tiba bertanya, “Menurutmu, pengalaman pertama seorang perempuan itu selalu menyakitkan?”
Aku cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. Di dalam hati, aku juga merasa sedikit bersemangat, bertanya-tanya apakah ia sudah ingin menyerahkan dirinya kepadaku.
“Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kau mencobanya?” jawabku.
“Enak saja. Tunggu sampai kita lulus SMA,” kata Xia Yu.
Seingatku, waktu itu tinggal beberapa hari lagi sebelum Tahun Baru. Suhu tiba-tiba turun drastis, lalu salju pun mulai turun. Hari itu aku ingin memberi Xia Yu kejutan. Di tanah kosong kawasan tempat tinggalnya, aku membuat dua manusia salju: satu laki-laki dan satu perempuan. Aku juga menuliskan nama kami berdua di atas salju.
Setelah selesai, aku menelepon Xia Yu dan memintanya membuka jendela untuk melihat ke bawah. Ia membuka jendela, menatap ke bawah, lalu melambaikan tangan kepadaku.
“Kau bisa melihat dua manusia salju di sampingku?” tanyaku.
“Tidak,” jawabnya. “Mungkin karena kulihat dari atas. Yang tampak cuma dua gundukan salju.”
Semula aku ingin memberinya suasana romantis, tetapi satu kalimatnya langsung menghancurkan suasana. Aku berkata, “Turunlah. Aku membuatkan dua manusia salju untukmu.”
Tiga menit kemudian, Xia Yu berlari keluar dari tangga gedung sambil melompat-lompat kegirangan. Begitu melihat kedua manusia salju itu, ia tampak sangat bersemangat, seperti seorang gadis kecil.
“Bagaimanapun, kau orang utara. Setiap tahun kau melihat salju. Memangnya perlu seheboh itu?” tanyaku.
“Aku juga tidak tahu. Setiap kali melihat salju, aku memang selalu seperti ini. Lagipula, manusia salju ini kaulah yang membuatnya untukku, jadi punya makna khusus. Wajar kalau aku senang,” katanya.
Kemudian ia bertanya, “Kau ingin hadiah apa? Aku harus memberimu penghargaan yang layak.”
Saat itu aku hanya asal menjawab, “Aku ingin yang itu.”
Aku tidak menyangka, setelah beberapa saat sibuk membenahi manusia salju, ia berbalik menatapku dan bertanya, “Kau sungguh menginginkannya?”