Meja Belajarku yang Baru

Melawan Arus Masa Muda Bar Kekaisaran 2670kata 2026-02-08 18:04:53

Zhou Gemuk masih tersenyum nakal padaku, “Kalian berdua ke mana tadi? Waktu aku keluar tadi, kulihat kalian jalan ke arah lapangan, pasti nggak ngelakuin hal baik!”

Aku menjawab, “Jangan ngomong sembarangan, kalau terus ngoceh, aku kasih tahu Wang Hao soal kamu suka berkhayal tentang Chen Keke!” Jurus ini memang manjur, si Gemuk langsung diam ketakutan. Setelah itu, waktu aku mau membereskan tempat tidur dan bersiap tidur, tiba-tiba aku dapat pesan singkat dari Chen Yajing. Isinya, “Gila, Tongtong, kamu sama Chen Keke itu apa sih? Sampai jalan berdua? Sampai dia cium pipi kamu segala?”

Begitu baca pesan itu, aku langsung mikir habis sudah, si sialan Xia Yuguo memang lihat Chen Keke nyium aku, dan dia sudah ceritain ke Chen Yajing. Gimana ini? Aku harus buru-buru jelasin ke Chen Yajing, kalau nggak, tahu sendiri sifatnya gimana, besok pasti bakal ribut pas ketemu aku. Kalau sampai Wang Hao dengar soal ini, bisa-bisa aku kena sial. Meski aku nggak takut sama Wang Hao, tapi aku nggak mau baru masuk SMA udah cari masalah sama dia.

Sebenarnya aku mau langsung telpon Chen Yajing, tapi karena di asrama banyak yang udah tidur, akhirnya aku cuma balas pesan, “Bukan seperti yang kamu dan Xia Yu pikirkan. Besok siang ketemu di kantin, aku jelasin semuanya. Aku sama Chen Keke nggak ada apa-apa, percaya deh sama aku!”

Chen Yajing langsung balas, isinya cuma maki-maki aku, bilang aku nggak tahu malu, penipu, menjijikkan, brengsek. Bacanya aku cuma bisa pasrah, nggak lanjut jelasin lagi, soalnya lewat pesan nggak bakal jelas, malah tambah salah paham. Lebih baik besok ketemu langsung.

Malam itu, tengah malam, tiba-tiba di luar asrama ada keributan, suara orang maki-maki dan berantem keras banget. Dari suaranya, sepertinya lumayan banyak orang, kayak tawuran. Nggak lama, ada orang yang datang dan nendang pintu asrama kami, teriak-teriak manggil Si Rambut Cepak, bilang anak kelas dua lagi nyerang delapan naga, harus segera bantu.

Si Rambut Cepak langsung maki-maki, ngajak anak buahnya buru-buru keluar. Soal delapan naga ini, aku pernah dengar waktu Si Rambut Cepak ngobrol di asrama, katanya itu organisasi baru di kelas satu, anggotanya delapan orang, semua dipilih dari siswa kelas satu yang paling jago berantem. Di kelas kami kayaknya cuma Si Rambut Cepak yang masuk. Aku pikir, kalau orang kayak Si Rambut Cepak yang nggak punya wibawa bisa masuk, berarti delapan naga itu juga nggak sehebat apa.

Tawuran itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya bikin guru asrama dan beberapa guru laki-laki datang menertibkan keadaan. Para guru laki-laki ini memang tinggal di sekolah, asrama mereka beda dengan asrama siswa. Selain mengajar, mereka juga ngatur ketertiban siswa. Di antara mereka, dua guru olahraga paling galak, kalau mukul nggak tanggung-tanggung, nanti bakal aku ceritain lebih lanjut.

Setelah tawuran selesai, Si Rambut Cepak balik ke asrama dengan gaya sombong luar biasa, seolah-olah habis ikut tawuran dia jadi jagoan. Dia terus-terusan pamer, katanya pas dia turun tangan, anak kelas dua nggak bisa ngelawan sama sekali. Salah satu anak yang tidur di bawah, mungkin udah ngantuk banget, cuma ngedumel, “Bisa nggak sih jangan ribut, yang lain mau tidur. Besok masih harus masuk kelas.”

Mungkin Si Rambut Cepak merasa dipermalukan, tanpa banyak bicara dia turun dari ranjang dan nendang tempat tidur anak itu berkali-kali, sambil maki, “Sialan, gue ngomong, kalau berani coba lawan gue!” Anak itu sepertinya bukan anak bandel, jadi nggak tanggapi Si Rambut Cepak. Tapi Si Rambut Cepak malah makin jadi, teriak ke teman sekelas lain, “Mulai sekarang di kelas ini gue yang berkuasa, kalian semuanya harus patuh, jangan bikin gue marah!”

Aku pikir, Si Rambut Cepak ini memang keterlaluan, jangan sampai suatu saat gue dapet kesempatan buat balas, bakal gue buat kapok.

Besok paginya, waktu aku dan Zhou Gemuk ke kantin sarapan, kami ketemu Xia Yu. Dia lagi makan bareng teman-teman sekamarnya. Saat aku lewat depan dia bareng Zhou Gemuk, dia melirikku dengan tatapan sinis, jelas-jelas nggak suka. Kayaknya gara-gara Chen Keke juga. Jujur aja, aku jadi agak kesal. Pertama, aku sama Chen Keke nggak ada apa-apa, dia yang nyium aku, aku sama sekali nggak siap. Kedua, Xia Yu sendiri juga punya hubungan nggak jelas sama cinta pertamanya, aku nggak pernah ganggu dia, kenapa dia harus kasih muka masam ke aku?

Kalau ingat waktu dia sempat nembak aku, sebenarnya aku waktu itu harusnya bilang ke dia bahwa itu bukan mimpi, tapi dia memang beneran nembak aku biar tahu rasanya, gimana dia menghadapi aku dan Du Yihang sekaligus.

Habis sarapan, kami ke kelas. Pagi itu nggak ada pelajaran, cuma persiapan sebelum resmi mulai sekolah. Misalnya, ukur tinggi badan buat pesan seragam, pilih ulang pengurus kelas, atur ulang tempat duduk, dan bagi buku pelajaran.

Tempat duduk diatur berdasarkan peringkat nilai. Semua siswa disuruh berdiri di luar kelas, guru akan panggil satu-satu sesuai urutan nilai, siapa dipanggil duluan boleh pilih duduk di mana saja. Karena aku bukan masuk lewat ujian, jadi nggak punya peringkat, otomatis jadi yang terakhir masuk. Anak-anak yang nggak tahu pasti ngira aku ranking paling bawah.

Dulu nilai Xia Yu sebenarnya bagus, kalau bukan karena ujian kemarin dia gagal, dia nggak mungkin masuk SMA Kereta Api yang kelas tiga ini. Tapi karena dia sudah di sini, peringkatnya di kelas pasti tetap tinggi. Dia duduk di barisan tengah, tiga baris depan, sebangku sama ketua disiplin kelas, cowok berkacamata yang pernah aku ceritakan, kelihatannya waktu pemilihan ulang nanti dia pasti diganti. Zhou Gemuk nilainya juga jelek, masuk sepuluh besar tapi dari bawah, jadi duduk di belakang.

Waktu semua siswa sudah masuk kecuali aku, aku mulai merasa nggak nyaman. Cai Bingqian juga kelihatan meremehkanku, waktu panggil namaku, dia lihat aku dengan tatapan sinis. Saat aku jalan masuk, banyak teman sekelas yang menertawakan dan bisik-bisik bilang aku ranking terakhir. Tapi aku sih nggak peduli, aku memang bukan tipe yang jago belajar, peringkat nggak penting buatku.

Tapi tempat duduknya udah nggak bisa dipilih, aku dapat kursi kosong di barisan paling belakang, agak tengah, dan di belakang kursiku ada tempat sampah penuh, baunya nggak enak banget, bikin aku nggak nyaman.

Aku pikir aku bakal duduk di situ satu semester, tapi ternyata di barisan yang sama ada cowok tinggi besar duduk di baris ketiga dari belakang, badannya menutupi aku dan satu teman lain. Cai Bingqian juga sadar soal ini, dia tanya ke kami berdua, “Kalian bisa lihat papan tulis nggak?” Aku sih nggak masalah, tapi teman di depanku bilang dia nggak bisa lihat, ketutupan.

Cai Bingqian lalu tanya si besar itu, “Matamu minus? Duduk di belakang bisa lihat papan tulis nggak? Kalau bisa, tukeran aja sama teman di belakang.” Si besar ini waktu latihan militer aku udah lihat, kadang-kadang agak lemot, dia nggak banyak bicara, langsung berdiri dan jalan ke arahku, maksudnya mau tukeran tempat duduk sama aku. Aku cukup kaget, kirain dia mau tukeran sama temanku di depan, ternyata dia malah ke aku.

Sebenarnya aku nggak suka belajar, duduk di belakang malah enak, nggak mau pindah ke depan. Tapi waktu aku lirik, ternyata sebangkunya si besar itu adalah Gao Meng, cewek tercantik nomor dua di kelas. Mendadak aku langsung semangat, tanpa pikir panjang langsung duduk di sebelah Gao Meng. Wah, senangnya, tadinya kukira bakal duduk bareng sampah satu semester, ternyata malah dapat duduk sama cewek cantik.

Niat Cai Bingqian sebenarnya mungkin mau si besar tukeran sama teman lain, tapi waktu lihat aku duduk di situ, dia agak berubah muka, tapi nggak bilang apa-apa. Lagipula, aku dan si besar sama-sama siswa dengan nilai jelek, duduk di mana saja sama saja.

Melihat Gao Meng di sebelahku, aku jadi ingat kata-kata Zhou Gemuk dulu, katanya instruktur Jiang pernah kirim pesan nggak sopan ke Gao Meng. Selain itu, Xia Yu juga pernah bilang, habis karaoke bareng Jiang, mood Gao Meng jadi aneh. Sebenarnya apa yang terjadi, sampai sekarang belum ada yang tahu.