Untuk segala penghinaan yang telah kuterima
Melihat pesan singkat itu aku merasa agak bingung, ayah Chen Yajing mencariku untuk apa? Kali ini jelas-jelas Chen Yajing yang memicu konflik dengan Chen Keke, masa ayahnya mau menyalahkanku? Atau mungkin, dia mencariku karena urusan lain?
Bagaimanapun juga, saat ini pikiranku hanya dipenuhi kekhawatiran soal Guan Qingqing, aku sama sekali tak bisa memikirkan urusan lain. Pesan itu pun tidak kubalas. Kebetulan saat itu pria paruh baya bertubuh gendut sudah selesai menelpon, sikapnya pun berubah menjadi sangat ramah, menyambut kami dengan senyum lebar. Ia berkata pada ayahku, “Kakak Empat sedang sibuk sekarang, tidak bisa menjawab teleponmu. Dia bilang nanti setelah urusannya selesai, pasti akan segera menghubungimu dan bahkan datang menemuimu sendiri. Aku diminta untuk melayanimu dengan baik. Kalau ada apa-apa, bilang saja, aku pasti bantu semampuku!”
Mendengar ucapan pria gendut itu, hatiku sedikit lega. Sepertinya Kakak Empat itu cukup menghargai ayahku, dan pria ini juga tampaknya bukan orang sembarangan, sepertinya memang bisa banyak membantu.
Ayahku pun langsung menyampaikan maksud kedatangan kami tanpa banyak basa-basi. Setelah mendengarkan, pria gendut itu mengernyitkan dahi, lalu berkata, “Guan Qingqing yang kau maksud, aku juga tidak kenal. Lagi pula, kau juga belum jelaskan asal-usul orang itu. Kalau hanya mengandalkan mobil Mercy S itu untuk mencari, sepertinya aku tak punya kemampuan. Tapi di sini memang ada beberapa tambang tua yang sudah tak terpakai, aku bisa bawa kalian ke sana untuk mencari, selebihnya tergantung nasib. Biasanya memang tempat-tempat seperti itu sering dipakai buat menyekap orang atau memeras uang.”
Keadaan mendesak, asal ada sedikit harapan, kami tak boleh menyerah. Ayahku tentu saja setuju untuk diantar ke sana. Di perjalanan, Paman Kepala Besar yang cerewet itu terus saja mengobrol dengan pria gendut itu. Dari percakapan mereka, aku tahu memang daerah ini sangat rawan. Katanya, kalau ada orang yang dibunuh lalu dibuang ke jurang atau ke mesin penghancur batu, sampai tulangnya pun takkan ditemukan, dan takkan ada yang tahu.
Semakin kupikirkan, hatiku makin cemas pada Guan Qingqing. Di mataku, ia selalu wanita yang sangat kuat. Kecuali benar-benar terpaksa, ia tak akan meminta tolong padaku. Sekarang sudah beberapa jam berlalu sejak ia mengirim sms minta tolong, aku benar-benar khawatir apa yang terjadi padanya, apakah ia dalam bahaya.
Untungnya, di tengah perjalanan, pria gendut itu bertemu kenalannya. Mereka hanya bicara sebentar, lalu si kenalan menepuk pahanya dan berkata, “Di sebelah sana ada pabrik pengolahan minyak, di depannya ada Mercy parkir. Aku tak tahu persis tipenya, pokoknya pagi-pagi waktu aku lewat, mobil itu sudah ada di sana. Kalian coba saja ke sana, siapa tahu orang yang kalian cari memang ada di situ!”
Kami tak berani buang waktu, langsung menuju pabrik itu. Benar saja, di depan gerbang terparkir Mercy S, dengan dua angka terakhir pelat nomornya 88.
Aku hampir yakin, Guan Qingqing pasti ada di dalam pabrik itu. Ayahku dan para paman langsung mendobrak pintu gerbang, tapi ternyata terkunci rapat, dari dalam pun tak terdengar suara apa-apa. Untung di samping temboknya tak terlalu tinggi, mereka semua memanjat masuk. Aku juga ingin ikut, tapi ayah melarang, menyuruh pria gendut itu menjagaku di luar, katanya urusan seperti ini aku tak perlu ikut campur.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara orang menjerit kesakitan dari dalam, sepertinya sedang dipukuli. Sambil mengaduh, orang itu juga mengancam, katanya sudah menelpon orang-orangnya, sebentar lagi banyak anak buahnya yang akan datang, bahkan membual dia punya kenalan di kantor polisi, mengancam kami bakal celaka.
Aku benar-benar ingin memanjat masuk untuk melihat keadaan Guan Qingqing. Tepat saat itu, Paman Kepala Besar membukakan pintu gerbang, dan kulihat Lin Shu sedang membantu Guan Qingqing berjalan keluar.
Aku takkan pernah melupakan keadaan Guan Qingqing waktu itu. Ia hanya mengenakan celana dalam, bagian atas tubuhnya tak berpakaian, tetapi mantel ayahku disampirkan di bahunya. Kaki dan tubuhnya penuh bekas luka berdarah, tampaknya dicambuk dengan kawat atau sejenisnya. Saat berjalan pun tampak lemas, hampir tak mampu berdiri. Rambutnya kusut masai, dan aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya.
Tak jauh di belakangnya, ayahku dan Paman Serigala sedang menghajar dua orang. Salah satunya adalah pria tua yang kulihat di alun-alun sebelumnya, si pemilik Mercy itu. Satunya lagi anak muda, mungkin orang suruhannya. Keduanya meraung kesakitan di tanah.
Ketika Guan Qingqing menengadahkan kepala, kulihat ekspresinya membuat hatiku hancur. Ia belum sampai di hadapanku sudah menangis keras, aku langsung berlari, memeluknya erat-erat. Air mataku tak bisa kutahan lagi, aku berkata, “Kak, aku datang terlambat. Maaf sudah membuatmu menderita. Kalau nanti aku sudah punya kemampuan, tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu. Siapa yang berani, akan kubunuh!”
Guan Qingqing tak menjawab, hanya terus menangis. Paman Kepala Besar menyuruhku cepat membantunya masuk ke mobil. Entah dari mana keberanianku muncul, aku langsung mengangkatnya, membawanya ke dalam mobil. Tapi hatiku masih belum puas, aku keluar lagi, mengambil batu dan menghantamkan keras-keras ke kepala pria tua itu. Dia tampaknya sudah ketakutan, mulai memohon-mohon, meminta kami melepaskannya. Lalu ia menunjuk padaku, berkata, “Kamu namanya Tongtong, kan? Jangan pukul aku. Kamu bisa sekolah di SMA Rel itu juga karena aku yang urus. Kalau kau pukul aku, nanti bisa-bisa kamu nggak bisa sekolah lagi, kamu nggak takut?”
Kata-katanya membuatku syok, seperti disambar petir di siang bolong. Saat liburan, Guan Qingqing memang bilang sudah mengurus sekolahku lewat kenalan. Hari itu juga ia tampak murung. Jangan-jangan, sejak saat itu ia sudah terpaksa mengorbankan dirinya demi aku sekolah?
Sejenak aku ingin menampar diriku sendiri. Kalau memang begitu, semua penderitaan dan penghinaan yang ditanggung Guan Qingqing, semuanya demi aku. Kenapa dia sebodoh itu, hanya untuk sekolah yang tak ada artinya, aku pun rela tak sekolah, kenapa dia sampai mengorbankan dirinya begitu?
Aku memukul pria tua itu lagi beberapa kali, menunjuk-nunjuk padanya sambil berteriak, “Sekolah atau nggak, itu nggak penting! Hari ini, sialan, aku bunuh kau!”
Aku hendak mengambil batu lagi untuk menghajarnya, tapi saat itu, dari luar gerbang terdengar suara deru mobil yang banyak. Paman Kepala Besar dan si Gendut berteriak, katanya ada banyak orang naik dari bawah gunung, sepertinya memang bala bantuan yang dipanggil si tua bangka itu.
Ayahku segera menarikku ke gerbang. Pria tua yang tadi memohon kini jadi penuh percaya diri, berdiri dan menunjuk-nunjuk kami, berteriak, “Kalian semua sialan, jangan ada yang lari! Hari ini kalian pasti mampus di sini!”
Beberapa mobil pun berhenti di sekitar, dan dari dalamnya turun banyak orang, ada yang tampak preman, ada pula yang memakai seragam buruh tambang, kotor dan lusuh. Hampir semuanya membawa senjata tumpul. Aku baru pertama kali melihat keadaan seperti ini, tadi masih berani menghajar, sekarang aku mulai panik. Kami hanya beberapa orang, sepertinya tak mungkin melawan. Aku juga menebak, pasti pria tua itu kenal pemilik tambang, makanya bisa mengerahkan begitu banyak orang.
Pria tua itu segera berlari ke arah gerombolan itu, meludahkan darah di tanah, satu tangan menutup kepala, satu tangan menunjuk kami, berteriak, “Hajar, pukul sampai mati! Apa pun yang terjadi, aku tanggung jawab! Setiap orang yang ikut, kubayar lima ratus!”
Mendengar itu, para buruh tambang sudah siap menyerbu. Namun si Gendut berteriak ke arah mereka, “Aku dari Tambang Dua, berani-beraninya kalian sentuh aku? Kalian pikir cuma kalian yang bisa panggil orang? Aku telepon sebentar saja, bala bantuan juga datang!”
Pemimpin mereka, pria berjenggot lebat, tampaknya kenal si Gendut. Ia pun bertanya kenapa si Gendut ada di situ. Si Gendut memanggilnya bicara di pojokan, entah apa yang dibicarakan—aku menduga ia menjelaskan kami adalah teman Kakak Empat. Setelah itu, wajah pria berjenggot tampak bimbang, lalu ia bicara pada pria tua itu, katanya mereka tak bisa ikut campur. Pria tua itu tak terima, sangat emosi, katanya ia sudah babak belur, tak bisa terima kalau urusan selesai begitu saja. Ia pun menaikkan upah jadi seribu. Tapi pria berjenggot tetap menahan anak buahnya, lalu membisikkan sesuatu ke telinga pria tua itu. Pria tua itu pun mengernyit, melirik kami sambil mengumpat, “Kali ini kubiarkan kalian lolos, tapi nanti urusan belum selesai!”
Setelah berkata begitu, ia mengajak anak muda itu masuk Mercy-nya dan pergi. Ayahku lalu menyuruh Paman Kepala Besar segera mengantar aku dan Guan Qingqing kembali ke kota, sementara ia sendiri ikut si Gendut menemui Kakak Empat.