Aku masih ingat saat kecil dulu, ada seorang anak tetangga yang sangat perhatian padaku! Ketika aku tumbuh dewasa, dia mulai mengajariku bagaimana menjadi seorang pria sejati.
Waktu aku masih sangat kecil, ibuku kabur dengan seorang pria kaya di kota ini. Ayahku yang tak terima, mendatangi pria itu untuk menuntut balas, tapi malah berakhir dengan luka-luka akibat sabetan pisau dan harus dirawat di rumah sakit. Sistem saraf di otaknya terganggu, membuatnya bisu dan tak bisa bicara lagi. Sejak keluar dari rumah sakit, ayahku setiap hari mabuk. Setiap kali mabuk, ia menegakkan leher, wajahnya memerah, menatapku dengan tajam, dan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara yang tak jelas. Kadang-kadang, ia melampiaskan amarahnya dengan memukuliku.
Hari-hari itu bagiku seperti mimpi buruk. Setiap malam aku sering menangis dalam selimut. Ayahku hidup dalam keterpurukan selama setengah tahun, lalu akhirnya memilih keluar mencari kerja, seringkali meninggalkanku sendirian di rumah tetangga. Di rumah tetangga itu, ada seorang kakak perempuan yang kupanggil Kakak Xiaoqing. Usianya enam tahun lebih tua dariku. Mungkin karena merasa kasihan padaku, ia sangat menyayangiku. Apapun yang enak dan menyenangkan selalu dibaginya denganku. Ia tahu ayahku sering memukulku, jadi ia kerap memintaku menginap di rumahnya. Setiap malam, kami tidur bersama di satu selimut. Ia selalu memelukku erat-erat, membuatku merasa sangat aman.
Kakak Xiaoqing sering membelikan makanan enak dan mainan untukku. Ia juga punya kebiasaan suka memberiku krim, tapi bukan langsung diberikan, melainkan dioleskan di betis, punggung kaki, atau punggung tanganku, lalu memintaku menjilatnya. Kadang-kadang ia menutup mataku, dan aku harus menebak di bagian mana ia mengoleskan krim itu. Ak