Bab 16 / Berani Mengambil Keputusan Sendiri untuk Urusan Sepenting Ini
Halaman (1/3)
Ia membungkukkan tubuh sedikit, punggungnya melengkung dalam busur yang sempurna. Anting-anting perak di telinganya memantulkan kilau dingin di bawah cahaya lampu dinding ajaib. Tatapannya tertuju penuh perhatian kepada Joni, menanti jawaban.
Joni bersandar di kursi kristal yang melayang, sikapnya malas namun tetap berwibawa. Di tangannya terdapat sebuah cawan kaca berisi ramuan berwarna kuning ambar.
Mendengar ucapan Alice, bulu mata Joni bergetar halus. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum samar yang sulit ditebak, lalu ia hanya mengangguk kecil. Jepit rambut zamrud di antara rambutnya memantulkan cahaya suram.
“Jangan sekali-kali melampaui batas. Rampasan perang boleh dianugerahkan kepada siapa pun yang berjasa.”
Nada suaranya tenang, tetapi tekanan pada ujung kalimatnya mengandung wibawa yang tak terbantahkan. Jari-jarinya yang ramping tanpa sadar mengusap dinding cawan kaca.
Sudut bibir Alice terangkat, menghadirkan senyum rendah hati. Ujung matanya sedikit melengkung, sementara cahaya kecerdasan berkilat di dalam tatapannya.
Ujung jarinya tanpa sadar mengusap lambang keluarga pada manset lengan. Seolah sedang mempertimbangkan pilihan kata, ia terdiam sejenak sebelum menatap Joni dengan pandangan teguh.
“Hari ini aku tidak gegabah menyerahkan Daun Lentera Tunggal. Kebetulan, Babit mengusulkan agar para pelajar dari keluarganya dikirim untuk belajar di Akademi Dagang Flores.”
Saat berbicara, ia sedikit memiringkan kepala, dengan raut penuh penyelidikan.
Tangan Joni yang sedang memegang cawan kaca mendadak terhenti. Mata hijaunya seketika melebar, memancarkan sedikit keterkejutan, sementara kedua alisnya berkerut tinggi.
Sesaat kemudian, sudut bibirnya melengkung dalam senyum penuh pengertian. Ketika meletakkan cawan kaca, gerakannya tegas dan cekatan. Pelindung kuku berlapis emas yang dikenakannya mengetuk permukaan meja, menimbulkan bunyi nyaring.
“Cara membalikkan kesalahan kepada pihak lain ternyata sudah sangat dikuasai.”
Ucapannya mengandung nada mengejek, tetapi tatapannya sedingin es.
Ia mengangkat alis dan menatap Alice dengan senyum samar yang tak sampai ke mata, lalu mengamatinya dari atas ke bawah.
“Kau meninggalkan celah?”
Alice menutup bibirnya sambil terkekeh pelan. Kedua bahunya bergetar ringan, dan hiasan rambut berbentuk bintang ikut berkelip, bagaikan bintang-bintang yang bersinar di langit malam.
Ia mengedipkan mata, kelicikan berkilat di dalamnya. “Semuanya berjalan seperti biasa. Mengenai apakah pihak lain menyadarinya atau tidak, itu bukan sesuatu yang dapat kukendalikan.”
Setelah berkata demikian, ia mengibaskan rambutnya dengan ringan. Helai-helainya melukis lengkungan indah di udara.
Joni mendongakkan kepala dan tertawa dengan suara sejernih lonceng perak. Lehernya yang anggun terekspos ketika kepalanya terayun ke belakang. Saat ia bersandar pada kursi, lingkaran cahaya sihir yang mengelilingi tubuhnya ikut meredup dan menyala.
“Kalaupun mereka mengetahuinya, lalu kenapa? Memangnya mereka sanggup menempuh ribuan kilometer hanya untuk mencarimu dan membuat masalah?”
Sudut bibirnya terangkat dalam lengkungan penuh kesombongan. Ujung jarinya melambai ringan, dan tatapannya dipenuhi kepercayaan diri serta kebebasan yang tak terkekang.
Mengikuti gerakannya, seorang pelayan sihir berseragam perak muncul dengan menginjak lingkaran sihir yang melayang. Joni mengangkat alis, memberi isyarat agar pelayan itu menuangkan teh. Sikapnya memancarkan keanggunan sekaligus kekuasaan.
Alice menerima teh bunga dengan anggun, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda terima kasih. Ia menyesapnya perlahan, merasakan kehangatan ramuan mengalir di tenggorokannya.
Matanya menyipit tipis, memperlihatkan raut puas. Setelah itu, ia meletakkan cangkir teh dan menautkan kedua tangan di atas pangkuan, duduk dengan sikap bermartabat.
“Pihak kami mengusulkan pertukaran pelajar secara timbal balik. Jika Babit memperlakukan para pelajar kami dengan baik, barulah Daun Lentera Tunggal akan kami serahkan.”
Saat berbicara, ia menatap Joni dengan sungguh-sungguh, berharap memperoleh persetujuan.
Joni mengangguk kecil. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum puas. Ujung jarinya menyusuri kontrak holografis yang melayang di hadapannya, dan rune-rune di atasnya pun berkelip.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Di matanya tampak penghargaan, dan nadanya terdengar ringan. “Rencana yang sangat bagus. Semoga kawanan rubah tua dari Babit itu mampu memahami maksud tersiratmu.”
Alice membungkuk memberi hormat. Punggungnya melengkung seperti bulan sabit, sementara hiasan bintang di rambutnya meredup beberapa tingkat. Rautnya penuh hormat.
“Akan kulaksanakan sesuai titah Nona.”
Dalam keheningan singkat itu, hanya bunyi detak bandul jam ajaib yang menggema.
Joni menatap bola kristal ramalan yang melayang di sudut ruangan. Keningnya perlahan berkerut, dan mata hijaunya dipenuhi keseriusan. Tatapannya memancarkan kecemasan serta perenungan.
Ia mengangkat tangan dan mengusap pangkal alisnya dengan lembut, seolah hendak mengusir kegelisahan di dalam hati.
“Pergilah.”
Ia melambaikan tangan, gerakannya tampak sedikit lelah.
“Jangan lupa mempersiapkan Konferensi Antar-Suku Penyihir.”
Alice kembali memberi hormat. Ia menegakkan punggung, lalu berbalik dengan langkah mantap. Ujung jubah panjangnya yang hitam menyapu lingkaran sihir di lantai, mengangkat debu-debu cahaya yang berkilauan halus.
Seiring pintu kayu tertutup perlahan, sosoknya sedikit demi sedikit menghilang di balik pintu. Namun Joni tetap mengerutkan kening, tatapannya terpaku pada bola kristal, seolah hendak menembus masa depan melalui kabut yang bergulung di dalamnya.
Ketika gulungan perkamen yang dipenuhi ukiran sihir dibentangkan di ruang sidang, cincin kristal naga milik kepala keluarga Babit menghantam meja panjang dari batu obsidian dengan suara berat.
“Jangan-jangan jumlah ganti rugi yang sangat fantastis ini telah diubah oleh Flores menggunakan ilusi?”
Pupil matanya yang berwarna ambar menyusut tajam. Amarah merah menyala membara di dasar tatapannya. Ujung jarinya berulang kali mengusap mantra berlapis emas yang mengalir di sepanjang pasal-pasal perjanjian, seolah sedang menggiling ramuan.
Urat-urat di lehernya menonjol. Bahkan ujung jarinya bergetar halus, seakan-akan hendak mengorek angka-angka itu dari permukaan perkamen.
Beberapa tetua saling bertukar pandang penuh makna. Jakun mereka bergerak naik turun dengan gelisah, sementara lambang ular perak tampak berkelok di bawah cahaya lilin.
Namun tak seorang pun berani memecah keheningan yang mencekik itu. Yang terdengar hanyalah napas berat sang kepala keluarga, menggema di bawah kubah seperti geraman binatang raksasa dari zaman purba.
“Apakah sudah ada ahli sihir agung yang memeriksanya?”
Sang kepala keluarga tiba-tiba bangkit sambil menghantam meja. Deretan tempat lilin ajaib di atasnya terguncang hebat, dan lelehan lilin berhamburan ke atas perjanjian sebelum seketika membeku menjadi kristal es.
Matanya melotot penuh amarah, bagian putihnya dipenuhi urat merah. Rambut pendek di dahinya terjatuh akibat gerakannya yang keras.
Seorang tetua maju dengan terpaksa. Kedua kakinya sedikit gemetar, sementara jakunnya bergerak dengan susah payah.
“Kepala Keluarga, setiap sulur anggur di Kebun Anggur Bayangan Bulan milik Flores telah direndam dalam berkah Dewi Bulan. Minuman spiritual yang dihasilkannya dapat terjual di pasar gelap dengan harga setinggi sepuluh kota melayang…”
Sebelum ia selesai berbicara, sang kepala keluarga yang murka menghantam sandaran kursi dengan tinjunya. Namun pegangan kursi yang ditempa dari besi hitam itu sama sekali tidak rusak.
Ketika menarik kembali tinjunya, buku-buku jarinya bergetar menahan nyeri. Para tetua diam-diam menghela napas lega, tetapi wajah mereka tetap mempertahankan sikap hormat, bahkan membungkuk lebih dalam.
“Suamiku, bolehkah aku melihatnya?”
Suara lembut dan menggoda terdengar dari balik tirai manik-manik.
Nyonya rumah melangkah keluar dengan anggun, mengenakan busana mewah dari sutra duyung. Rumbai kristal darah di sudut matanya bergoyang mengikuti langkah, menebarkan bayangan merah yang menyeramkan di lantai.
Senyum samar terukir di sudut bibirnya, tetapi sorot matanya memancarkan kecerdikan.
Wajah tegang sang kepala keluarga seketika melunak, seolah telah dikenai mantra penenang. Ia sendiri mengangkat gulungan perkamen itu dan menyerahkannya dengan membungkuk. Cincin kristal naga di jarinya bergesekan lembut dengan ujung jari sang nyonya, memercikkan api biru gelap.
Alis indah sang nyonya sedikit berkerut. Tatapannya berputar, dan jari-jarinya yang lentik menyusuri mantra-mantra di atas perkamen. Tiba-tiba ia tertawa kecil, lalu bibir merahnya melengkung dalam ejekan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Catatannya tidak bermasalah. Jika uangnya tidak mencukupi, seluruh harta rahasia dari gudang pribadiku boleh digunakan.”
Alis tebal sang kepala keluarga berkerut menjadi simpul mati. Ia meraih tangan lembut istrinya dan menekannya ke dada. Telapak tangannya sedikit berkeringat.
“Bagaimana mungkin kubiarkan kau ikut menanggung bebanku?”
Namun sang nyonya tiba-tiba terbatuk-batuk hebat. Tubuhnya berguncang keras, dan darah mengalir dari sudut bibirnya, menodai ujung rok sutra duyung dengan warna merah seperti bunga prem.
Ia mengangkat kepala dengan lemah. Matanya dipenuhi permohonan.
“Masih ingat usulan Tetua Maren? Lunasi seluruh ganti rugi, lalu mohon bertemu dengan kepala keluarga Flores untuk menunjukkan ketulusan kita dalam memohon obat suci…”
Jari-jarinya mencengkeram kerah pakaian sang kepala keluarga erat-erat hingga buku-bukunya memutih.
“Maren?”
Sang kepala keluarga tampak seperti naga yang sisiknya diinjak. Wajahnya seketika membiru karena marah. Ia menghempaskan tangan istrinya dengan kasar, begitu kuat hingga sang nyonya terhuyung mundur dan nyaris jatuh.
Hiasan rambut mutiaranya berhamburan di lantai. Ia berlutut tanpa daya di antara lelehan lilin yang telah pecah, tatapannya dipenuhi keputusasaan.
Wajah para tetua berubah drastis, dan mereka serempak memandang ke lantai.
Di sanalah tampak bekas hangus yang tertinggal sejak Tetua Maren dihantam keluar dari ruang sidang oleh kekuatan ilahi semalam.
Tetua utama maju dengan enggan. Keringat dingin membasahi pelipisnya, lalu mengalir di pipi dan meresap ke kerah bajunya.
“Melapor kepada Kepala Keluarga, Tetua Maren masih berada di ruang perawatan. Serangan petir Anda kemarin—”
“Itu hanya luka luar!”
Api sihir ungu gelap berkobar di sekeliling tubuh sang kepala keluarga, membuat lampu gantung ajaib di atas kepalanya turut berubah menjadi ungu menyeramkan. Wajahnya terdistorsi oleh amarah, sementara giginya bergemeletuk karena geram.
“Bahkan sebatang tanaman obat penyelamat nyawa pun Flores enggan berikan. Dengan keluarga sekeras batu dan sedingin besi seperti itu, bagaimana mungkin kita membicarakan perdamaian?”
Begitu kata-kata itu terlontar, separuh tetua di ruangan menunjukkan raut panik. Tubuh mereka sedikit merunduk ke belakang. Hanya sang nyonya yang tetap berlutut di lantai, air mata terus mengalir dari matanya. Hiasan rambut mutiaranya berserakan di sekeliling, bagaikan permohonannya yang telah hancur.
“Suamiku! Nyawa anak kita sudah berada di ujung tanduk. Hanya Daun Lentera Tunggal itu yang mampu…”
Dalam keheningan yang mematikan, cincin kristal naga milik sang kepala keluarga tiba-tiba mengeluarkan dengungan yang menusuk telinga.
Dengan gelisah ia melonggarkan selendang sutra emas di lehernya. Tarikannya begitu kuat hingga hampir merobek selendang itu. Pola-pola sihir di lehernya menonjol, tampak seperti ular-ular berbisa yang menggeliat.
“Cukup! Akan kucoba menuruti keinginanmu.”
Ia mengucapkannya sambil menggertakkan gigi, matanya dipenuhi ketidakrelaan.
Melihat hal itu, tetua utama segera menyerahkan bola kristal komunikasi. Di dalam bola tersebut muncul citra holografis Akademi Dagang Flores. Ia mengamati wajah sang kepala keluarga dengan hati-hati, tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Kepala Keluarga, kami telah mencapai kesepakatan pertukaran pelajar dengan pihak mereka. Kedua keluarga akan saling mengirim murid. Mungkin dengan cara ini, kebekuan hubungan dapat dicairkan…”
“Berani sekali kalian mengambil keputusan sendiri untuk perkara sebesar ini?”
Halaman (3/3)