Bab Sembilan Puluh Tiga: Kerusuhan Roh
“Paman Ketiga, ini apa?” tanya Lu Chuan Nan sambil memandangi sertifikat rumah dan kunci yang terletak di atas meja.
“Itu rumah yang dulu dipertaruhkan ayahmu,” jawab Lu Xian dengan tenang.
“Apa?” Lu Chuan Nan memandang barang-barang di meja itu dengan penuh suka cita. Dulu seluruh keluarganya tinggal di rumah itu. Namun, karena ayahnya kecanduan berjudi, penagih utang mengincar rumah itu sehingga mereka sekeluarga terpaksa pindah.
Tahun-tahun berlalu, ia pernah mendengar rumah itu kerap disebut angker, dan penghuni barunya pun entah pindah ke mana, pintunya selalu tertutup rapat.
“Paman Ketiga, di mana kau menemukan keluarga itu?”
“Di Shanghai.”
“Kenapa mereka sampai sejauh itu?”
“Simpan saja semua ini baik-baik.”
“Ini semua untukku?”
Lu Xian tak berkata apa-apa, tapi itu sudah cukup menjadi jawaban.
Meski paman ketiganya selalu terlihat keras dan dingin padanya, harus diakui sejak ia datang, paman ketiganya sudah banyak membantunya.
Memikirkan itu, suasana hati Lu Chuan Nan yang belakangan kurang baik mendadak cerah. Ia pun melangkah keluar dengan senyum lebar untuk menikmati minuman kecil.
Namun, baru saja sampai di jalan, sebuah sosok yang akrab tertangkap oleh matanya.
“Xu Meng Qing.”
Baru saja keluar, Lu Chuan Nan melihat Xu Meng Qing dan langsung mengejarnya dengan wajah sumringah.
Namun Xu Meng Qing hanya menatapnya dengan dingin dan tak berniat menanggapi.
Ruolan yang ada di samping sedikit penasaran menatap pria di depannya. Meski tak setampan Tuan Jiu atau Tuan Qiao, wajahnya cukup menawan dan dari seluruh penampilannya terpancar aura bangsawan. Kelihatannya nyonya memang tak buruk, meski katanya hidup sebatang kara, tetapi selalu dikelilingi para pemuda berbakat.
“Kalau kau masih marah soal kejadian kemarin, aku dengan sungguh-sungguh minta maaf. Aku hanya terlalu menyukaimu, jadi bertindak seperti itu.”
“Tuan Lu, sekarang kau sudah menikah. Kisah di antara kita hanya masa lalu, tak perlu diungkit lagi.”
“Masa lalu bisa dilupakan, tapi sekarang aku masih ingin mengatakan dengan jelas, aku memang menyukaimu.”
Xu Meng Qing hanya menatap Lu Chuan Nan dengan dingin, tanpa sepatah kata pun.
“Kematian ibuku, apakah ada hubungannya dengan keluarga Lu kalian?”
“Bagaimana kalau kita ke kedai teh dan bicara di sana?”
Meski enggan, Xu Meng Qing tetap mengikuti Lu Chuan Nan ke kedai teh. Sepanjang jalan, Lu Chuan Nan terus berusaha bersikap ramah. Rasanya sudah lama mereka tak bersama dengan tenang seperti ini.
“Dulu paman ketigamu bilang aku harus berterima kasih padanya karena bisa bertahan sampai hari ini. Apa maksudnya? Apakah dia yang membunuh ibuku dan Xiao Ju?”
“Mana mungkin. Meski paman ketigaku bertindak keras, dia tak akan sampai membunuh perempuan atau anak kecil. Lagi pula, saat hari penangkapanmu, paman ketigaku baru saja tiba di Jinling, sebelumnya dia sama sekali tak tahu urusan antara aku dan keluarga Xu kalian.”
“Lalu kenapa dia berkata seperti itu di kantor polisi hari itu?”
“Hanya untuk membuatmu marah.” Lu Chuan Nan tersenyum. “Paman ketigaku memang benar-benar menyukai Shen Wan itu. Saat itu dia ingin memancing keretakan antara Shen Wan dan Nan Qi.”
“Kenapa dia bisa tahu semua hal dengan begitu rinci?”
“Tentu saja. Apa yang ingin diketahui paman ketigaku, tak ada yang bisa luput darinya. Demi Shen Wan, dia sudah melakukan banyak hal. Bukan hanya soalmu, bahkan latar belakang pelayan keluarga Nan pun dia tahu semuanya.”
“Jadi, kau tahu siapa yang membunuh ibuku dan Xiao Ju?”
“Itu aku memang kurang tahu. Tapi aku ingat pernah dengar Xu Meng Han bilang, sebelum mereka masuk ke keluarga Xu, ibumu sudah lebih dulu meninggal. Melihat caranya bicara, sepertinya dia tidak berbohong.”