Bab 35, Rencana Terang-Terangan
Kota Kekaisaran, Istana, Ruang Baca Kaisar.
Kaisar tua duduk di depan meja pemerintahannya, alisnya berkerut dalam, menatap serangkaian laporan kemenangan yang terbentang di hadapannya. Pada setiap lembar laporan itu tertera nama putra ketigabelasnya, dan hampir semuanya mencatatkan jasa utama.
Ini sungguh di luar dugaannya. Awalnya, ia mengirim sang putra ketigabelas sebagai panglima pasukan hanya sebagai upaya menenangkan hati rakyat, sekadar simbol dari keluarga kekaisaran. Siapa sangka, sang putra ternyata menyembunyikan bakat militer yang luar biasa, belum pernah terlihat sebelumnya!
Julukan "Dewa Perang" pun telah mulai menyebar dari wilayah utara, dan kini menggema ke seluruh penjuru Dinasti Zhou.
Andaikan saja sang putra sejak awal menunjukkan bakat militernya, bukannya melakukan tindakan gila ingin menikahi wanita dari rumah bordil, mungkin saja ia tak akan memiliki prasangka sedalam ini terhadap putra ketigabelasnya, dan hubungan di antara mereka tidak akan seperti sekarang.
Namun sayang, semuanya sudah terlambat.
Ia tak bisa melupakan peristiwa di ruang baca istana hari itu, ketika sang putra ketigabelas menebas kepala putra kesembilannya sendiri.
Selain itu, belakangan ini kekhawatirannya makin bertambah. Dengan bakat strategi militer sehebat "Dewa Perang", dalam waktu tiga bulan saja sang putra ketigabelas berhasil mengusir orang-orang barbar dari Kerajaan Huo Rong yang menyerbu perbatasan utara. Jika ia dibiarkan terus melaju, siapa yang bisa menjamin tidak akan muncul situasi seorang pahlawan yang jasanya melampaui sang penguasa?
Namun, di saat sang putra selalu mencatatkan kemenangan, ia pun tak bisa begitu saja memecatnya. Lagi pula, dalam laporan-laporan kemenangan sebelumnya, penghargaan remeh yang ia berikan sudah menimbulkan banyak perbincangan di kalangan tentara Dewa Api di utara, bahkan di antara rakyat Dinasti Zhou. Jika ia memaksa menurunkan sang putra dan menghapus jasanya, ia pasti akan dicap sebagai kaisar lalim.
Tapi bila ia tak menekan sang putra, ia khawatir suatu saat nanti putra itu akan menjadi terlalu kuat, menumbuhkan ambisi, dan melakukan hal-hal besar yang pernah ia lakukan sendiri di masa lalu...
Memikirkan ini, kerutan di dahinya makin dalam.
Ia masih kekurangan satu alasan.
Pada saat itu, suara parau terdengar, "Paduka, ada berita baru dari perbatasan utara."
"Orang barbar Huo Rong kan sudah diusir dari negeri ini? Kemenangan apalagi yang ingin kau sampaikan?" ujar kaisar tua dengan nada tak sabar.
Dalam dua bulan terakhir, ia sudah dibuat jengkel dengan laporan kemenangan yang datang bertubi-tubi dari utara.
Menurutnya, setiap laporan kemenangan dari perbatasan bagaikan permintaan penghargaan dari sang putra ketigabelas. Sungguh membuat hati kesal.
Ia sudah cukup terganggu, dan tidak ingin lagi mendengar kabar kemenangan apa pun.
"Paduka, kali ini beritanya berbeda."
Pengawal rahasia dari Divisi Malam membuka suara, "Jenderal Agung Penjaga Utara, Chen Kuizong, bertindak gegabah demi mengejar prestasi, memimpin pasukan menyerbu Huo Rong, namun akhirnya membangkitkan keganasan orang barbar Huo Rong. Ditambah lagi, ketidaktahuan medan menyebabkan banyak korban. Selain itu, orang barbar Huo Rong juga mengirim utusan menyeberangi Gunung Daling, menyerang secara diam-diam Kota Shourong. Konon, awalnya mereka mengirim tiga ratus pasukan serigala, namun hanya sekitar seratus yang berhasil menyeberangi gunung. Saat itu, Pangeran Ketigabelas kebetulan sedang berada di Kota Shourong, bertahan mati-matian hingga akhirnya kota itu berhasil dipertahankan, dan sebagian persediaan pangan pun selamat."
"Oh?" Mendengar kabar yang berbeda, alis sang kaisar tua pun terangkat. "Akhirnya anak itu juga berbuat kesalahan?"
Pengawal yang melapor sempat ragu, apakah telinga sang kaisar sudah bermasalah.
Jelas-jelas ia melaporkan bahwa Chen Kuizong yang gegabah hingga menyebabkan banyak korban, sementara Pangeran Ketigabelas justru berjuang mati-matian mempertahankan Kota Shourong. Bagaimana mungkin sang kaisar menganggap Pangeran Ketigabelas yang bersalah?
Namun, sebagai anggota Divisi Malam, ia tahu betul sang kaisar memang tidak menyukai putra ketigabelasnya. Lagipula, ia hanyalah seorang pengawal kecil, tentu tak mungkin mengutarakan isi hatinya.
Kaisar tua tentu tak tahu apa yang dipikirkan pengawalnya. Kalaupun tahu, ia pun tak akan peduli.
Yang ia pedulikan hanyalah berita di hadapannya!
Tadi ia masih bingung mencari cara menekan sang putra, kini alasannya datang tepat waktu.
Seketika, ia pun mendapat ide.
...
[Setelah Zhou Zhe mengetahui kejadian di perbatasan utara, ia sendiri menulis dekrit kekaisaran, menghukummu karena gegabah mengejar prestasi sehingga menyebabkan pasukan Dewa Api banyak korban, dan secara khusus memerintahkanmu kembali ke ibu kota, masuk ke Kantor Keluarga Kekaisaran untuk merenung selama tiga tahun...]
Membaca baris-baris pesan itu dalam pikirannya, Su Leng yang tubuhnya penuh balutan kain berdarah dan sedang berpura-pura pingsan di tenda militer, tak kuasa menahan senyum tipis.
Berhasil.
Emosi yang ia butuhkan, akhirnya didapatkan berkat dekrit kekaisaran sang kaisar tua yang ingin menekannya.
Ia menggunakan taktik mengorbankan diri untuk memanipulasi Chen Kuizong dan pasukan Dewa Api, membuat mereka—terutama yang dipimpin Chen Kuizong—merasa bersalah dan menyesal akibat kesalahan mereka sendiri dalam bertindak gegabah hingga banyak korban.
Lalu ia, dengan mempertaruhkan luka parah, berhasil mempertahankan Kota Shourong dan sebagian persediaan pangan, membuat rasa bersalah mereka memuncak, hingga mereka merasa berutang nyawa padanya.
Selanjutnya, kabar ini kembali ke ibu kota, memberi alasan bagi kaisar tua yang selalu ingin menekan perkembangannya untuk segera mengeluarkan dekrit.
Begitu dekrit itu sampai ke markas pasukan Dewa Api, dan hukuman atas nama Chen Kuizong serta para perwira dialihkan padanya, emosi seluruh pasukan akan memuncak, sepenuhnya berpihak padanya, bersatu melawan musuh bersama, dan tanpa sadar menjadi pasukan pribadi miliknya.
Andai kaisar tua tidak "terpancing", maka setelah "sembuh" nanti, ia bisa terus membangun reputasi sebagai "Dewa Perang" di luar sana, hingga akhirnya jasanya menggetarkan sang penguasa!
Inilah sebagian dari skema yang dirancang Su Leng, saling berkaitan dan sepenuhnya terang-terangan.
Apa pun pilihan kaisar tua, ia sudah menyiapkan langkah antisipasi, lalu akan mengarahkan keadaan menuju hasil yang ia inginkan.
Demi semua itu, ia bahkan rela menggunakan kartu karakter Raja Pembunuh—karena saat menghadapi pasukan serigala Huo Rong di Kota Shourong, ia harus bertahan sekaligus memastikan dirinya terluka secara tepat, sehingga kartu karakter itu pun terpakai.
Di dunia ini, yang berlatar zaman kuno, teknologi medis sangat terbatas. Ia tentu tak berani terluka sembarangan, sekali salah langkah, nyawanya benar-benar bisa melayang.
Sedangkan kartu karakter Raja Pembunuh memberinya keahlian bela diri tingkat master, membuatnya sangat paham tubuh manusia dan mampu mengendalikan tubuh hingga batas maksimal, sehingga ia bisa mengatur luka-luka yang diderita secara presisi.
Karena itulah, saat Kota Shourong berhasil dipertahankan, tentara di dalam kota dan anak buahnya yang melihat keadaannya mendapati tubuhnya penuh luka, pakaiannya nyaris seluruhnya berlumur darah, tampak begitu menyedihkan.
Padahal, luka-luka itu bukan di bagian vital, semua hanya luka luar yang terlihat menakutkan.
Akhirnya, ia yang "pingsan tepat waktu", segera dibawa ke tabib militer untuk diobati dan dibalut, lalu ia berpura-pura pingsan lagi agar bisa sewaktu-waktu keluar dari permainan untuk beristirahat, memantau dunia nyata bila ada yang aneh, sekaligus terus membuat pasukan Dewa Api tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan.
Semuanya berjalan sesuai rencana, kecuali satu hal...
"Buka panel atribut."
Di tengah kepura-puraan pingsannya, Su Leng berbisik dalam hati.
Sekejap, di balik kelopak matanya yang terpejam, layar atribut virtual muncul di tengah kegelapan:
[Atribut Satu Dimensi]
[ID: Su Leng]
[Atribut: Kekuatan 1,13; Kelincahan 1,13; Ketahanan 1,13; Kecerdasan 1]
[Keahlian: Perakitan Bom Dasar, Pengetahuan Senjata Api Tingkat Master, Seni Menyamar Tingkat Master]
[Barang: Kartu Ubah Peran ×1]
Setelah menggunakan kartu karakter Raja Pembunuh, karena kemampuan Pengetahuan Diri Sepenuhnya, ia ternyata otomatis menguasai keahlian berbasis pengetahuan!
Hal ini sama sekali tak pernah ia duga!