Bab Sembilan Puluh Sembilan: Klub Malam yang Baru Dibuka
Kenangan masa lalu bermunculan di benak, sementara Nan Qi duduk seorang diri di tepi jendela sambil menyesap arak. Begitu banyak hal telah mereka lalui bersama, namun semua itu kini hanya menjadi batu sandungan yang memengaruhi penilaian dirinya.
Namun, mengapa setiap kali memikirkan dirinya, hatinya terasa begitu sesak?
Shen Wan memang bisa sedikit merasakan apa yang dirasakan Xu Mengqing, tapi nasihatnya hanya sampai di situ saja. Ia tak pernah mempermasalahkan Nan Qi mengizinkannya tinggal di kediaman Nan, begitu pula ia tak peduli Xu Mengqing semakin tersesat. Satu-satunya hal yang ia pedulikan hanyalah Nan Qi. Setelah bertahun-tahun bersama, pria itu belum pernah benar-benar sepenuhnya mempercayainya.
Meskipun demikian, ia tetap tak ingin pria itu terluka, tak ingin terjadi sesuatu padanya.
Memikirkan itu saja membuat Shen Wan merasa tak nyaman. Ia tak banyak bicara dan langsung kembali ke kamarnya.
Setelah sekian lama tak berkunjung, Yu Feng datang lagi—dan kali ini saat makan malam.
“Mengapa kau datang? Dan kenapa pas sekali saat makan?” tanya Qiao Chi dengan dingin pada Yu Feng.
“Bukankah sudah lama aku tak kemari? Sesekali harus mampir, bukan?” Yu Feng mengedarkan pandangan, lalu mengernyit. “Tapi, baru sebentar saja tak kemari, rasanya ada yang kurang di rumah ini.” Ia lalu melirik Shen Wan dengan makna tersirat.
“Kau benar-benar tak ada kerjaan, ya?” ujar Qiao Chi sinis. “Apa yang kurang? Tak ada yang kurang—malah justru bertambah satu orang.”
Yu Feng tak menanggapi, ia duduk begitu saja di samping Tuan Sembilan.
“Bagaimanapun juga, masakan di kediaman Nan memang luar biasa, lebih enak daripada di restoran mana pun.” Sambil makan, Yu Feng tak kuasa menahan kekagumannya. Sudah lama ia tahu, juru masak itu dulu didatangkan Nan Qi dari Hangcheng khusus untuk Shen Wan.
“Makan saja, jangan banyak bicara,” Qiao Chi menegurnya dengan nada tak senang.
“Maksudmu datang ke sini untuk apa?” Nan Qi yang sedari tadi diam, tiba-tiba berbicara. Ia menatap Yu Feng dengan dingin.
“Dulu di Kota Jinling ada banyak tempat hiburan malam, tapi karena pengaruh Tuan Sembilan, akhirnya hanya kelompok kami, Phoenix, yang menguasai segalanya,” ujar Yu Feng perlahan. “Tapi sekarang berbeda. Beberapa hari lagi, tempat hiburan milik Lu Xian akan dibuka. Sepertinya ke depan, Phoenix akan mendapat saingan berat.” Ia menggeleng, namun matanya menatap Nan Qi dengan tajam—kata-katanya mengandung makna tersirat.
Shen Wan sempat melirik Yu Feng, meski begitu, tak tampak sedikit pun kekhawatiran di mata pria itu.
“Jadi kau ke sini ingin minta bantuan Tuan Sembilan? Kau ingin ia berbuat apa, melarang Lu Xian membuka tempatnya?” tanya Qiao Chi.
“Aku tak terlalu peduli, baik buruknya bisnis tak memengaruhi hidupku sehari-hari. Hanya saja Lu Xian benar-benar sudah keterlaluan. Belakangan ini bisnis keluarga Nan pun pasti sulit, kan? Lu Xian selalu berseberangan dengan Tuan Sembilan. Apa pun yang ada hubungannya dengan keluarga Nan ataupun Tuan Sembilan, pasti ia ikut campur,” ujar Yu Feng sambil menggelengkan kepala, tampak pasrah.
“Lu Xian itu, apa-apa selalu menentang Tuan Sembilan. Demi jabatan ketua kamar dagang saja sampai seperti itu? Apa mungkin ada tujuan lain?” Qiao Chi mengeluh.
Xu Mengqing melirik Shen Wan, teringat ucapan Lu Chuannan beberapa hari lalu. Shen Wan ini memang luar biasa, sampai-sampai Lu Xian bersikap seperti sekarang.
“Adik Wan, kau tahu kenapa Lu Xian bisa seperti itu?” tanya Qiao Chi sambil tersenyum pada Shen Wan.
“Kalian saja tidak tahu, apalagi aku,” jawab Shen Wan sambil tersenyum pada Yu Feng.